-YunSoo- In Heaven

holaa~~ do u miss me ? *pasti gak ada* ahahahah.

aku mau publish ff temenku nih, maen ya ke blog-nya ~>http://cojjeemacchiato.wordpress.com

gomawoo~

 

—————————————————————————————

junior02frac34szligiquestotilde7-0f_zps4a1b7403

 

Cast:
Jung Yunho
Park Sooyoon

Ps: ‘…’ << dialog di masa lalu

Aku akan pergi sekarang
Jangan meninggalkan
Aku akan kembali begitu …
Pembohong, pembohong
Tidak, kau tak tahu betapa aku mencintaimu?
Tidak bisakah kau menunjukkan cintamu padaku sekarang? 
Aku mencintaimu …
Apakah kita tidak bisa mencintai lagi?

 

….

Hidupku terasa datar sejak kau pergi meninggalkanku. Aku bagaikan sebuah tubuh tanpa jiwa. Aku memang berjalan dengan baik, berbicara dengan baik, melihat dengan baik, mendengar dengan baik. Tapi aku kosong. Hidupku kosong, jiwaku kosong. Aku bagaikan sebuah android yang dikendalikan dengan alat-alat canggih agar aku bisa beraktifitas seperti manusia.

Kau adalah jiwaku, kau adalah napasku, kau adalah hidupku. Kau pergi dari sisiku, maka semua itu akan pergi juga. Hanya tersisa tubuh ini, yang entah sampai kapan akan bisa bertahan tanpa adanya dirimu, sumber kehidupanku.

Aku bodoh… sangat bodoh. Aku selalu berpikir apa yang aku lakukan sudah benar. Aku pikir aku bisa membuatmu bahagia. Aku pikir dengan kita tinggal bersama, makan bersama, tidur bersama, itu sudah cukup.

Namun itu salah. Aku yang terlalu peduli dengan pekerjaanku, tanpa sadar sudah melupakanmu. Aku terlalu terlarut dalam duniaku, hingga aku melupakan sumber dari hidupku sebenarnya. Aku seperti manusia yang mulai melupakan Tuhan yang sudah memberinya hidup.

‘Jangan pulang terlalu malam. Hari ini aku akan memasakanmu makanan yang enak’

‘Aku tidak bisa janji’

‘Tidakkah untuk kali ini saja berjanjilah padaku?’

‘Akan ku usahakan’

‘Ya sudah. Baiklah. Aku akan menunggumu sampai kau pulang. Aku akan makan bersamamu’

‘Jika aku pulang terlambat, makanlah duluan. Aku tidak ingin kau sakit karena menungguku’

‘Tidak. Aku tidak akan makan jika kau belum pulang dan kita makan bersama. Jika kau tidak ingin aku sakit, pulang lah cepat dan kita akan cepat makan’

‘Terserah padamu saja, jagiya. Aku berangkat dulu’

‘Ne. hati-hati di jalan’

Andai aku lebih peka, saat itu aku pasti akan bisa melihat gurat kekecewaan dalam matamu. Namun aku terlalu buta untuk melihat itu. Aku sudah tertipu dengan senyumu.

Andai bisa kuputar waktu, aku pasti tidak akan menyesal seperti sekarang ini.

Kau tahu, hidup dengan penuh rasa bersalah sangat menyiksaku. Ini mungkin balasan darimu. Balasan atas sikapku selama ini terhadapmu. Yang kurasakan sekarang, mungkin tidak ada apa-apanya dengan yang kau rasakan dulu.

Mianhae… Jeongmal mianhae…

Di sini, di ruang makan ini aku selalu menemukanmu tertidur. Kau selalu menungguku di sini sampai kau tertidur. Dan setelah itu aku akan menangkatmu ke kamar kita. Meski aku melakukannya dengan sangat pelan, kau tetap terbangun dan memintaku menurunkanmu. Setelah itu kau akan menghangatkan makanan untukku. Melihatmu seperti itu, meski aku tidak merasa lapar, aku akan tetap memakan masakanmu. Kau tahu, rasa masakanmu sangat enak. Tidak ada restoran bintang lima manapun bisa menandinginya. Karena selain karena kau pintar memasak, kau memberikan banyak rasa cinta untukku di dalam masakanmu. Aku bisa merasakan itu.

‘Masakanmu selalu enak, jagiya’

‘Jangan menggombal, oppa’

‘Serius. Aku tidak berbohong’

‘Itu hanya soup rumput laut biasa. Restoran mahal lainnya bisa membuatnya lebih enak dari itu’

‘Tapi restoran lain tidak akan ada yang bisa memberikan bumbu paling lezat seperti yang kau taruh di makanan ini’

‘Maksudmu? Aku hanya memakai bahan biasa. Jangan mulai pintar merayu, oppa’

‘Serius. Aku tidak sedang merayumu. Kau tau apa bumbu itu?’

‘Apa?’

‘Cinta. Aku bisa merasakan cinta tulusmu dari makanan ini’

Setelah ku ucapkan itu, pipi putihmu yang chubby itu pasti akan langsung memerah dan terlihat sangat menggemaskan.

‘Gombal’

Kau selalu berucap itu sambil menutupi kedua pipimu yang sudah merah sempurna.

‘Hanya padamu, honey’

Dan aku akan dengan senang hati semakin menggodamu.

‘Sudahlah. Cepat habiskan makananmu. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi’

Aku tahu, sebenarnya kau hanya ingin menghindariku yang akan semakin menggodamu jika kau terus berada di sisiku.

Entahlah, menggodamu disaat aku sedang kelelahan, seperti memberikanku energy baru. Setiap melihat pipimu merona, aku merasa semua rasa lelahku lenyap.

Dan sekaran, aku tidak bisa melihat itu lagi. Tidak ada pipi meronamu, tidak ada senyum tulusmu, tidak ada masakanmu, dan tidak ada kau lagi yang menungguku pulang kerja.

Hampa… itu semua terasa hampa.

‘Oppa… Apa itu yang kau makan?

Kau mau sakit perut hanya makan ramyeon di pagi hari?

Kenapa kau tidak membangunkanku untuk membuatkanmu makanan?

Pencernaanmu itu buruk. Kau tidak bisa hanya memakan ramyeon di pagi hari. Kau mau sakit, huh? Mau membuatku khawatir, huh? Atau kau senang melihatku khawatir setengah mati karena kau sakit? Kau ingin sakit agar aku memperhatikanmu dan kau bisa bermanja-manja padaku?’

‘Jagiya… Berhentilah mengomel’

‘Bagaimana aku tidak mengomel, kau hanya makan ramyeon seperti itu. Aku tidak ingin kau sakit, oppa’

‘Dan sekarang kau yang sedang sakit, jagiya. Maka dari itu oppa tidak membangunkanmu’

‘Aku hanya demam ringan oppa. Dan sekarang sudah lebih baik. Aku masih bisa hanya sekedar membuatkanmu sarapan kecil’

‘Sesekali memakan ramyeon tidak apa-apa, jagiya. Hanya sekali ini, ne’

‘Tidak. Buang ramyeon itu, aku akan membuatkanmu pancake. Tidak ada ramyeon dipagi hari. Ingat itu’

‘Arraseo’

Ramyeon. Yah~ kau akan mengomel panjang lebar padaku jika kau melihatku memakan itu. Bahkan saat kau sedang sakit sekalipun. Kau tidak pernah memikirkan kondisimu. Selalu mengkhawatirkanku. Aku sangat tersentuh dengan perlakuanmu. Aku merasa, aku beruntung karena memiliki istri sepertimu.

Dan sekarang, hampir setiap hari aku hanya memakan ramyeon instan ini. Bukan hanya karena aku tidak bisa memasak masakan lain. Tapi juga karena aku berharap aku bisa mendengar omelan panjang lebarmu setiap kali aku memakan ramyeon-ramyeon ini. Namun itu semua hanya keinginan semu. Kau tidak akan pernah kembali bahkan hanya sekedar untuk marah padaku.

“Oppa… pegangi aku yang benar. Nanti aku jatuh”

“Aku sudah memegangimu dengan benar, Tae~ya”

“Yak… Yak… Cho Kyuhyun, seriuslah sedikit. Jangan menggoyangkan sepedahku seperti itu. Aku bisa jatuh”

“Kau payah sekali. Naik sepeda saja tidak bisa”

“Sudah, jangan meledeku. Pegangi saja dengan benar. Aku tidak akan berhenti sampai aku bisa mengendarai ini”

“Arraseo, tuan puteri”

Aku teringat dengan saat-saat kita dulu di taman ini. Saat kita bermain sepeda bersama di sore hari. Aku yang tidak bisa mengendarai sepeda, selalu minta ku bonceng di depan. Banyak orang mengatakan kita pasangan yang serasi. Aku tampan dan kau cantik.

‘Oppa.. Ajari aku sepeda’

‘Shireo’

‘Waeyo, oppa?’

‘Kalau kau bisa naik sepeda, oppa tidak perlu memboncengmu di depan seperti biasa’

‘Yak~ Jung Yunho. Alasanmu aneh sekali. Aku ingin bisa bersepeda bersamamu. Tidak hanya duduk di depan. Ayo ajari aku’

‘Shireo… oppa tidak mau mengajarimu’

‘Ya sudah aku belajar sendiri’

‘Arraseo… Arraseo… Kau itu keras kepala sekali’

‘Biarin’

‘Aigo~ ada yang merajuk’

‘Jauh-jauh dariku, Jung Yunho’

‘Kau mengusirku’

‘Iya. Aku kesal padamu’

Chu~

‘Kalau begini, kau pasti tidak akan bisa kesal padaku lagi, Jung Sooyoon’

‘Jung Yunho bodooooh~ kau membuatku malu’

‘Hahahahahahaha…’

Berkejar-kejaran di taman, makan ice cream kesukaanmu berdua, bermain dengan anak-anak kompleks di sini yang sedang bermain pasir di taman, dan duduk menikmati matahari tenggelam berdua sambil bergandengan tangan. Aku rindu moment-moment itu. Aku merindukanmu, Jung Sooyoon-ku.

‘Nah~ semuanya sudah, Sooyoon-ie, ayo kita ke kasir’

‘Ne oppa’

‘Eeh~ apa itu?’

‘Hehehe… Permen’

‘Aigo~ kau membeli lollipop sebesar ini, ini akan membuat gigimu rusak, Sooyoon sayang’

‘Aku ingin ini. Pokoknya aku mau membeli ini’

‘Beli yang kecil saja, ne’

‘Shireo… aku maunya ini’

‘Yang kecil’

‘Yang ini’

‘Yang kecil saja sayang. Kau tidak akan kuat menghabiskan ini semua’

‘Kan ada oppa’

‘Aku?’

‘Ne. kalau aku sudah tidak mau, ya untuk oppa’

‘Yak~ kau memberiku sisa?’

‘Tidak apa kan. Kan itu sisa dariku, istrimu sendiri’

‘Ck~ aku ini. Oppa tidak mau lagi makan sisamu. Kau selalu membeli ice cream, lolipo, cokelat, dan makanan-makanan manis lainnya dan tidak pernah menghabiskannya. Selalu aku yang menghabiskannya. Aku bisa tambah gemuk jika seperti it uterus, Sooyoon-ie~aaah’

‘Tidak apa. Semakin kau gemuk, aku semakin suka’

‘Mwo? Jangan-jangan itu tujuanmu memberiku makanan manis’

‘Iyaaaa~’

‘Aish~ kau itu. Ada-ada saja, Sooyoon sayang’

‘Hehehehe… beli yang ini, ne?’

‘Baiklah-baiklah. Mana bisa aku menolak keinginan istri cantikku ini’

‘Gomawo oppaaaa… Kau baik sekali’

‘Hanya peluk? Tidak cium juga?’

‘Yak~ Jung Yunho pervet…’

Heh~ Aku selalu tidak bisa mengalah darimu jika kau menginginkan sesuatu. Kau selalu memaksaku. Dan matamu yang besar dan berbinar seperti anak kecil, selalu berhasil memperdayaku. Aku sangat senang melihat ekspresimu itu. Sebenarnya, tanpa menunjukkan ekspresi itu, apapun yang kau inginkan akan aku berikan, bahkan nyawaku sekalipun. Namun aku suka melihat ekspresimu yang menggemaskan itu. Maka dari itu, aku selalu menggodamu.

Malam itu. Pertama kalinya dalam 2 tahun pernikahan kita, ada pertengkaran hebat yang dikarenakan sebuah salah paham. Kau marah hebat padaku dan aku berusaha untuk meyakinkanmu.

‘Oppa… ini siapa?’

‘Darimana kau mendapatkan foto itu’

‘Jawab pertanyaanku, siapa wanita yang berciuman denganmu difoto ini?’

‘Itu tidak seperti yang kau bayangkan, Sooyoon-ie. Aku tidak seperti yang kau bayangkan’

‘Tapi…’

‘Sungguh… Aku tidak seperti itu’

‘Tapi dia siapa, oppa?’

‘Dia klienku. Saat itu kami sedang makan malam’

‘Hanya berdua?’

‘Ne’

‘Kau mengecewakanku, oppa’

‘Sooyoon-ie… Sooyoon-ie~aaah… Dengarkan penjelasanku dulu’

#Brak…

Setelah saat itu kau mendiamkanku selama berhari-hari. Aku tidak tahan dengan itu semua. Aku bertekad untuk menyelesaikan semua masalah kita. Aku harus menjelaskan padamu, entak kau mau mendengarnya atau tidak.

Tok… tok… tok…

‘Sooyoon-ie, buka pintumu, jebal. Aku harus menjelaskan semuanya padamu’

Setiap aku berada di rumah, kau selalu mengunci kamarmu. Kamar kita. Hampir seminggu aku tidak menempati kamar itu, dan tidur di sofa ruang keluarga. Karena kau tidak membiarkanku untuk masuk.

‘Baiklah, aku akan bercerita dari sini. Tolong dengarkan penjelasanku’

‘…’ Kau sama sekali tidak menyahut. Aku tidak peduli, aku harus menceritakan semuanya. Harus…

‘Dia adalah Lee Jeun Hye. Dia adalah klienku. Saat itu harusnya kami tidak hanya makan berdua. Harusnya, Changmin ikut bersama dengan kami. Tapi, istri Changmin mendadak sakit dan Changmin harus segera pulang. Aku hanya makan berdua dengannya. Changmin pernah bilang, aku harus hati-hati dengannya, karena menurut Changmin, Jeun Hye suka denganku.

Aku tidak terlalu memikirkan itu. Dia adalah klienku, sudah sewajarnya aku bersikap baik dengan rekan bisnisku.

Namun ternyata apa yang Changmin katakan benar. Jeun Hye memaksaku untuk selingkuh darimu. Aku menolaknya dengan sopan. Namun ia semakin memaksa. Aku berusaha memberikan pengertian padanya. Namun ia tidak mau mendengarkanku.

Itu terjadi dengan cepat. Tiba-tiba ia berjalan ke arahku, dan ia tersandung karpet restoran itu. Reflek aku memegangnya agar ia tidak jatuh. Namun aku salah, ia malah menarik tanganku dan menciumku.

Aku tidak tahu ada yang mengambil gambar kami. Setelahh itu aku berusaha melepas genggaman tangannya dan aku menamparnya. Setelaj itu aku langsung pulang.

Sungguh, aku tidak berselingkuh dengannya. Aku hanya mencintaimu. Kau harus percaya itu’

‘Kumohon. Percaya padaku, jagiya’

#Kriet

#Bruk

‘Mianhae. Mianhae oppa. Mianhae aku meragukanmu’

‘Gwenchana. Gwenchana. Asal kau mau memaafkanku dan percaya padaku’

‘Aku percaya padamu. Mianhae’

‘Jangan menangis lagi, jagiya. Aku tidak bisa melihat air matamu’

‘Saranghae, oppa’

‘Nado saranghae, jagiya’

#Chu

….

Aku berharap tidak ada lagi kejadian-kejadian seperti itu di dalam pernikahan kita. Namun aku salah. Kita malah menghadapi hal yang lebih besar dari itu. Dan inilah awal dari akhir perjalanan kita.

‘Jagiya. Besok aku akan pergi ke New York untuk beberapa waktu’

‘Belakangan ini aku selalu keluar negeri, oppa. Kau baru saja pulang dari Jepang dan sekarang sudah mau pergi lagi?’

‘Mianhae, jagiya. Kau kan tahu sendiri. Perusahaan kita mulai berkembang dengan pesat. Aku berniat membuka cabang di sana’

‘Tidak bisakah kau tunda? Sebentar lagi adalah hari pernikahan kita yang ke-3. Tidak bisakah kau tetap di sini sampai hari itu?’

‘Aku janji aku akan kembali sebelum tanggal itu, jagiya. Tapi sekali ini saja, tolong mengerti. Ini sangat penting. Tidak bisa ditunda lagi’

‘Terserah kau saja, oppa’

‘Kau marah?’

‘Menurutmu?’

‘Kumohon mengertilah’

‘Kapan aku tidak mengerti dirimu? Aku selalu berusaha mengerti semua kepentinganmu. Namun sepertinya, di sini hanya aku yang mengerti dirimu. Kau sama sekali tidak mengerti aku’

‘Itu tidak benar, jagiya. Ini semua juga demi masa depan kita’

‘Masa depan kau bilang? Selalu itu yang kau ucapkan. Tapi tidak tahukah kamu, aku tidak butuh ini semua. Aku tidak butuh kekayaan untuk masa depan kita. Aku hanya butuh kau di sampingku. Hanya itu’

‘Tapi kita juga butuh uang untuk masa depan kita dan anak-anak kita kelak’

‘Kau selalu sibuk dengan urusanmu. Kau selalu terlarut dalam pekerjaanmu. Dipikiranmu hanya ada pekerjaan. Aku ragu, tempatku sekarang di hatimu tetap nomor satu. Ku rasa, aku hanya ada di sebagian kecil hatimu’

‘Jangan berpikiran seperti itu, jagiya. Itu tidak benar. Kau tetap utama di hatiku. Selalu dan tidak ada yang bisa menggantikannya’

‘Gotjimal’

Jika aku bisa, aku tetap ingin bersamamu. Namun apa daya, aku juga memikirkan nasib banyak karyawan yang bergantung padaku. Saat itu aku merasa sangat bingung. Harus memilihmu atau pekerjaan.

Kalau aku ingin egois, aku ingin memilihmu dan selalu berada di sisimu seperti yang kau inginkan. Namun sayangnya aku tidak bisa egois. Banyak orang bergantung padaku, aku harus memikirkan mereka juga.

‘Aku akan pergi sekarang’

‘Jangan meninggalkan’

‘Aku akan kembali begitu …’

‘Pembohong, pembohong’

‘Tidak, kau tak tahu betapa aku mencintaimu?’

‘Tidak bisakah kau menunjukkan cintamu padaku sekarang?’

‘Aku mencintaimu …’

‘Apakah kita tidak bisa mencintai lagi?’

Hari itu, pertama kalinya dalam hidupku aku merasa seperti tidak menapak di bumi lagi. Aku merasa oksigenku diambil secara paksa bersama dengan jiwaku. Aku merasa hidupku sudah tidak ada di sini lagi.

Aku berlari. Berlari dari hotel menuju bandara. Memesan tiket paling pertama menuju Korea. Aku menunggu dengan sangat tidak tenang. Kalau aku bisa, aku ingin berteleportasi saat itu juga.

Setelah aku sampai Korea, aku langsung berlari mencari taksi menuju rumah sakit Seoul. Dan sialnya aku terjebak macet. Tidak ada yang bisa kupikirkan lagi. Aku turun dan aku berlari secepat yang aku bisa. Tidak peduli puluhan kilometer harus aku tempuh.

Drrrt… Drrrt…

Tidak… No yang tadi menelponku saat aku di NY dan memberikan kabar buruk bahwa kau kecelakaan, kembali menelponku.

Banyak pikiran buruk berkecamuk di dalam otakku. Aku berhenti sejenak dan mengatur napasku. Aku menekan tombol jawab dengan tangan bergetar hebat. Sambil berdoa, bukan kabar buruk yang akan ku terima.

‘Tuan Jung. Istri anda sudah siuman’

Betapa bahagianya aku saat itu. Aku berterima kasih pada Tuhan. Ternyata Ia masih sayang padamu dan mengembalikanmu padaku. Namun masih ada yang mengganjal di hatiku dan berusaha kutepis itu.

‘Dia ingin berbicara dengan anda’

Dan saat mendengar suaramu, aku yakin ada yang tidak beres di sini.

‘Oppa, annyeong’ Suaramu terdengar begitu lemah.

‘Bagaimana kondisimu’

‘Aku baik-baik saja. Kau terdengar sangat lelah. Ada apa?’

‘Aku akan tiba sebentar lagi di sana. Tunggu aku, ne’

‘Jangan dimatikan oppa. Aku masih merindukan suaramu. Bisakah kau bernyanyi untukku’

‘Bernyanyi? Aku tidak bisa bernyanyi’

‘Jebal’

‘Baiklah’
Jonyok nouri jigo hana dul kyojinun
Bulbichul taraso noege gago iso

Chagaun barame umchurin ne okaega
Naeryo antgi jone naega gamsajulke

Nal bwa love you
Babogatun gudae
Gu modun goshi naegen da sojunghangol

*gudae wiro toorun taeyangmankum
Nuni bushin I gasumuro
Gidaryojun shiganmankum nol naega jikyojulke

Gidohan modun kumi ganjolhan
Nae hyanggiro nama uril hyanghae iso
More than the air I breathe

Balgaol achime hamke usul su innun
Naui baraemduri irwo jil su itdorok

Naega gidarilke (MICKY)(gidarilke)
Ne son nochi anhulke
Nunmul punira haedo naega dakajulke

Kuchi boiji anhado
Amuri homhan giriljirado yaksokhalke
My
My my my please be mine

*gudae wiro toorun taeyangmankum
Nuni bushin I gasumuro
Gidaryojun shiganmankum nol naega jikyojulke

Saranghandago ijen gudae punirago

Jo hanul kute sorichyo jonhago shipo

Love you tojildutan gasumi gu
Daerul burugo iso

Apun shiryoni uril chajawado
Gu apume mok meowado
Da orumanjyo jul su innun naega do saranghalke
Tumyonghan usumkochi banjjaginun jo byol
Dulchorom
Arumdapge nol nomanul bichwojulke
Gudae wiro toorun taeyangmankum
Nuni bushin I gasumuro
Gidaryojun shiganmankum nol naega jikyojulke
Saranghae nol saranghae
Sesang
Gajang nunbushin gudae kumgyolgatun

I mam
More than the air I breathe

‘Oppa… Saranghae’

‘Nado saranghae. Tunggu oppa sebentar, ne’

‘Aku tidak bisa’

‘Waeyo’

‘Hiduplah dengan bahagia oppa. Makanlah dengan teratur. Jangan terlalu banyak bekerja. Jangan banyak menangis’

‘Apa maksudmu?’

‘Oppa, Sa-rang-hae…..’

Tiiiiiit….

‘Nyonya Jung… nyona Jung bertahanlah… Panggilkan dokter’

Aku masih bisa mendengar suara-suara ribut itu. Kaki ku terasa kaku. Pikiran buruk semakin  nyata di dalam otakku. Aku mengerti apa yang terjadi. Tapi aku berusaha menepisnya.

Sudah 3 bulan kau pergi. Dan semua kini berubah. Aku tidak bisa hidup bahagia tanpamu, aku tidak bisa makan teratur karena semua makanan terasa hambar jika bukan kamu yang membuatnya, aku tidak bisa berhenti bekerja karena aku tidak bisa sendiri di rumah kita yang penuh dengan bayanganmu, dan aku tidak bisa berhenti menangis karena air mata ini selalu mengalir setiap aku membayangkanmu, meski aku berusaha menghentikannya.

Aku tidak bisa menjadi Jung Yunho yang dulu lagi. Jung Yunho tanpa Jung Sooyoon bukanlah Jung Yunho. Tubuh ini memang milik Jung Yunho, namun sudah tidak ada lagi jiwa di dalamnya karena jiwa itu sudah dibawa pergi olehmu, Jung Sooyoon.

“Oppa…”

Di mana-mana aku bisa melihat bayanganmu.

“Oppa cepat kemari”

Bahkan aku sekarang merasa aku melihatmu sedang melambai padaku di seberang sana.

“Aish~ kau lamban sekali oppa. Cepatlah kemari. Aku sudah bosan menunggumu”

Benarkan? Itu benarkah kau? Aku tidak sedang bermimpi?

“Sooyoon-ie… Sooyoon-ie…”

“Ne oppa. Cepatlah kemari”

“Tunggu aku di sana. Jangan kemana-mana. Aku akan segera ke sana”

Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menujumu. Yang ku pikirkan hanya menujumu dan berdiri di sampingmu. Aku ingin memelukmu sesegera mungkin dan mengucapkan sebanyak apapun kata cinta padamu seperti dulu.

Sooyoon~aah… Tunggu aku, aku akan segera kesana.

Tiiiiiin….

Brak….

Akhirnya kita bisa bersama. Kita tidak akan berpisah mulai sekarang. Tangan ini, akan selalu terpaut sampai kapanpun. Kita akan selalu berdampingan dan menyalurkan perasaan cinta kita. Selamanya… DI Surga…

-The End-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s