-YunSoo- In Heaven

holaa~~ do u miss me ? *pasti gak ada* ahahahah.

aku mau publish ff temenku nih, maen ya ke blog-nya ~>http://cojjeemacchiato.wordpress.com

gomawoo~

 

—————————————————————————————

junior02frac34szligiquestotilde7-0f_zps4a1b7403

 

Cast:
Jung Yunho
Park Sooyoon

Ps: ‘…’ << dialog di masa lalu

Aku akan pergi sekarang
Jangan meninggalkan
Aku akan kembali begitu …
Pembohong, pembohong
Tidak, kau tak tahu betapa aku mencintaimu?
Tidak bisakah kau menunjukkan cintamu padaku sekarang? 
Aku mencintaimu …
Apakah kita tidak bisa mencintai lagi?

 

….

Hidupku terasa datar sejak kau pergi meninggalkanku. Aku bagaikan sebuah tubuh tanpa jiwa. Aku memang berjalan dengan baik, berbicara dengan baik, melihat dengan baik, mendengar dengan baik. Tapi aku kosong. Hidupku kosong, jiwaku kosong. Aku bagaikan sebuah android yang dikendalikan dengan alat-alat canggih agar aku bisa beraktifitas seperti manusia.

Kau adalah jiwaku, kau adalah napasku, kau adalah hidupku. Kau pergi dari sisiku, maka semua itu akan pergi juga. Hanya tersisa tubuh ini, yang entah sampai kapan akan bisa bertahan tanpa adanya dirimu, sumber kehidupanku.

Aku bodoh… sangat bodoh. Aku selalu berpikir apa yang aku lakukan sudah benar. Aku pikir aku bisa membuatmu bahagia. Aku pikir dengan kita tinggal bersama, makan bersama, tidur bersama, itu sudah cukup.

Namun itu salah. Aku yang terlalu peduli dengan pekerjaanku, tanpa sadar sudah melupakanmu. Aku terlalu terlarut dalam duniaku, hingga aku melupakan sumber dari hidupku sebenarnya. Aku seperti manusia yang mulai melupakan Tuhan yang sudah memberinya hidup.

‘Jangan pulang terlalu malam. Hari ini aku akan memasakanmu makanan yang enak’

‘Aku tidak bisa janji’

‘Tidakkah untuk kali ini saja berjanjilah padaku?’

‘Akan ku usahakan’

‘Ya sudah. Baiklah. Aku akan menunggumu sampai kau pulang. Aku akan makan bersamamu’

‘Jika aku pulang terlambat, makanlah duluan. Aku tidak ingin kau sakit karena menungguku’

‘Tidak. Aku tidak akan makan jika kau belum pulang dan kita makan bersama. Jika kau tidak ingin aku sakit, pulang lah cepat dan kita akan cepat makan’

‘Terserah padamu saja, jagiya. Aku berangkat dulu’

‘Ne. hati-hati di jalan’

Andai aku lebih peka, saat itu aku pasti akan bisa melihat gurat kekecewaan dalam matamu. Namun aku terlalu buta untuk melihat itu. Aku sudah tertipu dengan senyumu.

Andai bisa kuputar waktu, aku pasti tidak akan menyesal seperti sekarang ini.

Kau tahu, hidup dengan penuh rasa bersalah sangat menyiksaku. Ini mungkin balasan darimu. Balasan atas sikapku selama ini terhadapmu. Yang kurasakan sekarang, mungkin tidak ada apa-apanya dengan yang kau rasakan dulu.

Mianhae… Jeongmal mianhae…

Di sini, di ruang makan ini aku selalu menemukanmu tertidur. Kau selalu menungguku di sini sampai kau tertidur. Dan setelah itu aku akan menangkatmu ke kamar kita. Meski aku melakukannya dengan sangat pelan, kau tetap terbangun dan memintaku menurunkanmu. Setelah itu kau akan menghangatkan makanan untukku. Melihatmu seperti itu, meski aku tidak merasa lapar, aku akan tetap memakan masakanmu. Kau tahu, rasa masakanmu sangat enak. Tidak ada restoran bintang lima manapun bisa menandinginya. Karena selain karena kau pintar memasak, kau memberikan banyak rasa cinta untukku di dalam masakanmu. Aku bisa merasakan itu.

‘Masakanmu selalu enak, jagiya’

‘Jangan menggombal, oppa’

‘Serius. Aku tidak berbohong’

‘Itu hanya soup rumput laut biasa. Restoran mahal lainnya bisa membuatnya lebih enak dari itu’

‘Tapi restoran lain tidak akan ada yang bisa memberikan bumbu paling lezat seperti yang kau taruh di makanan ini’

‘Maksudmu? Aku hanya memakai bahan biasa. Jangan mulai pintar merayu, oppa’

‘Serius. Aku tidak sedang merayumu. Kau tau apa bumbu itu?’

‘Apa?’

‘Cinta. Aku bisa merasakan cinta tulusmu dari makanan ini’

Setelah ku ucapkan itu, pipi putihmu yang chubby itu pasti akan langsung memerah dan terlihat sangat menggemaskan.

‘Gombal’

Kau selalu berucap itu sambil menutupi kedua pipimu yang sudah merah sempurna.

‘Hanya padamu, honey’

Dan aku akan dengan senang hati semakin menggodamu.

‘Sudahlah. Cepat habiskan makananmu. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi’

Aku tahu, sebenarnya kau hanya ingin menghindariku yang akan semakin menggodamu jika kau terus berada di sisiku.

Entahlah, menggodamu disaat aku sedang kelelahan, seperti memberikanku energy baru. Setiap melihat pipimu merona, aku merasa semua rasa lelahku lenyap.

Dan sekaran, aku tidak bisa melihat itu lagi. Tidak ada pipi meronamu, tidak ada senyum tulusmu, tidak ada masakanmu, dan tidak ada kau lagi yang menungguku pulang kerja.

Hampa… itu semua terasa hampa.

‘Oppa… Apa itu yang kau makan?

Kau mau sakit perut hanya makan ramyeon di pagi hari?

Kenapa kau tidak membangunkanku untuk membuatkanmu makanan?

Pencernaanmu itu buruk. Kau tidak bisa hanya memakan ramyeon di pagi hari. Kau mau sakit, huh? Mau membuatku khawatir, huh? Atau kau senang melihatku khawatir setengah mati karena kau sakit? Kau ingin sakit agar aku memperhatikanmu dan kau bisa bermanja-manja padaku?’

‘Jagiya… Berhentilah mengomel’

‘Bagaimana aku tidak mengomel, kau hanya makan ramyeon seperti itu. Aku tidak ingin kau sakit, oppa’

‘Dan sekarang kau yang sedang sakit, jagiya. Maka dari itu oppa tidak membangunkanmu’

‘Aku hanya demam ringan oppa. Dan sekarang sudah lebih baik. Aku masih bisa hanya sekedar membuatkanmu sarapan kecil’

‘Sesekali memakan ramyeon tidak apa-apa, jagiya. Hanya sekali ini, ne’

‘Tidak. Buang ramyeon itu, aku akan membuatkanmu pancake. Tidak ada ramyeon dipagi hari. Ingat itu’

‘Arraseo’

Ramyeon. Yah~ kau akan mengomel panjang lebar padaku jika kau melihatku memakan itu. Bahkan saat kau sedang sakit sekalipun. Kau tidak pernah memikirkan kondisimu. Selalu mengkhawatirkanku. Aku sangat tersentuh dengan perlakuanmu. Aku merasa, aku beruntung karena memiliki istri sepertimu.

Dan sekarang, hampir setiap hari aku hanya memakan ramyeon instan ini. Bukan hanya karena aku tidak bisa memasak masakan lain. Tapi juga karena aku berharap aku bisa mendengar omelan panjang lebarmu setiap kali aku memakan ramyeon-ramyeon ini. Namun itu semua hanya keinginan semu. Kau tidak akan pernah kembali bahkan hanya sekedar untuk marah padaku.

“Oppa… pegangi aku yang benar. Nanti aku jatuh”

“Aku sudah memegangimu dengan benar, Tae~ya”

“Yak… Yak… Cho Kyuhyun, seriuslah sedikit. Jangan menggoyangkan sepedahku seperti itu. Aku bisa jatuh”

“Kau payah sekali. Naik sepeda saja tidak bisa”

“Sudah, jangan meledeku. Pegangi saja dengan benar. Aku tidak akan berhenti sampai aku bisa mengendarai ini”

“Arraseo, tuan puteri”

Aku teringat dengan saat-saat kita dulu di taman ini. Saat kita bermain sepeda bersama di sore hari. Aku yang tidak bisa mengendarai sepeda, selalu minta ku bonceng di depan. Banyak orang mengatakan kita pasangan yang serasi. Aku tampan dan kau cantik.

‘Oppa.. Ajari aku sepeda’

‘Shireo’

‘Waeyo, oppa?’

‘Kalau kau bisa naik sepeda, oppa tidak perlu memboncengmu di depan seperti biasa’

‘Yak~ Jung Yunho. Alasanmu aneh sekali. Aku ingin bisa bersepeda bersamamu. Tidak hanya duduk di depan. Ayo ajari aku’

‘Shireo… oppa tidak mau mengajarimu’

‘Ya sudah aku belajar sendiri’

‘Arraseo… Arraseo… Kau itu keras kepala sekali’

‘Biarin’

‘Aigo~ ada yang merajuk’

‘Jauh-jauh dariku, Jung Yunho’

‘Kau mengusirku’

‘Iya. Aku kesal padamu’

Chu~

‘Kalau begini, kau pasti tidak akan bisa kesal padaku lagi, Jung Sooyoon’

‘Jung Yunho bodooooh~ kau membuatku malu’

‘Hahahahahahaha…’

Berkejar-kejaran di taman, makan ice cream kesukaanmu berdua, bermain dengan anak-anak kompleks di sini yang sedang bermain pasir di taman, dan duduk menikmati matahari tenggelam berdua sambil bergandengan tangan. Aku rindu moment-moment itu. Aku merindukanmu, Jung Sooyoon-ku.

‘Nah~ semuanya sudah, Sooyoon-ie, ayo kita ke kasir’

‘Ne oppa’

‘Eeh~ apa itu?’

‘Hehehe… Permen’

‘Aigo~ kau membeli lollipop sebesar ini, ini akan membuat gigimu rusak, Sooyoon sayang’

‘Aku ingin ini. Pokoknya aku mau membeli ini’

‘Beli yang kecil saja, ne’

‘Shireo… aku maunya ini’

‘Yang kecil’

‘Yang ini’

‘Yang kecil saja sayang. Kau tidak akan kuat menghabiskan ini semua’

‘Kan ada oppa’

‘Aku?’

‘Ne. kalau aku sudah tidak mau, ya untuk oppa’

‘Yak~ kau memberiku sisa?’

‘Tidak apa kan. Kan itu sisa dariku, istrimu sendiri’

‘Ck~ aku ini. Oppa tidak mau lagi makan sisamu. Kau selalu membeli ice cream, lolipo, cokelat, dan makanan-makanan manis lainnya dan tidak pernah menghabiskannya. Selalu aku yang menghabiskannya. Aku bisa tambah gemuk jika seperti it uterus, Sooyoon-ie~aaah’

‘Tidak apa. Semakin kau gemuk, aku semakin suka’

‘Mwo? Jangan-jangan itu tujuanmu memberiku makanan manis’

‘Iyaaaa~’

‘Aish~ kau itu. Ada-ada saja, Sooyoon sayang’

‘Hehehehe… beli yang ini, ne?’

‘Baiklah-baiklah. Mana bisa aku menolak keinginan istri cantikku ini’

‘Gomawo oppaaaa… Kau baik sekali’

‘Hanya peluk? Tidak cium juga?’

‘Yak~ Jung Yunho pervet…’

Heh~ Aku selalu tidak bisa mengalah darimu jika kau menginginkan sesuatu. Kau selalu memaksaku. Dan matamu yang besar dan berbinar seperti anak kecil, selalu berhasil memperdayaku. Aku sangat senang melihat ekspresimu itu. Sebenarnya, tanpa menunjukkan ekspresi itu, apapun yang kau inginkan akan aku berikan, bahkan nyawaku sekalipun. Namun aku suka melihat ekspresimu yang menggemaskan itu. Maka dari itu, aku selalu menggodamu.

Malam itu. Pertama kalinya dalam 2 tahun pernikahan kita, ada pertengkaran hebat yang dikarenakan sebuah salah paham. Kau marah hebat padaku dan aku berusaha untuk meyakinkanmu.

‘Oppa… ini siapa?’

‘Darimana kau mendapatkan foto itu’

‘Jawab pertanyaanku, siapa wanita yang berciuman denganmu difoto ini?’

‘Itu tidak seperti yang kau bayangkan, Sooyoon-ie. Aku tidak seperti yang kau bayangkan’

‘Tapi…’

‘Sungguh… Aku tidak seperti itu’

‘Tapi dia siapa, oppa?’

‘Dia klienku. Saat itu kami sedang makan malam’

‘Hanya berdua?’

‘Ne’

‘Kau mengecewakanku, oppa’

‘Sooyoon-ie… Sooyoon-ie~aaah… Dengarkan penjelasanku dulu’

#Brak…

Setelah saat itu kau mendiamkanku selama berhari-hari. Aku tidak tahan dengan itu semua. Aku bertekad untuk menyelesaikan semua masalah kita. Aku harus menjelaskan padamu, entak kau mau mendengarnya atau tidak.

Tok… tok… tok…

‘Sooyoon-ie, buka pintumu, jebal. Aku harus menjelaskan semuanya padamu’

Setiap aku berada di rumah, kau selalu mengunci kamarmu. Kamar kita. Hampir seminggu aku tidak menempati kamar itu, dan tidur di sofa ruang keluarga. Karena kau tidak membiarkanku untuk masuk.

‘Baiklah, aku akan bercerita dari sini. Tolong dengarkan penjelasanku’

‘…’ Kau sama sekali tidak menyahut. Aku tidak peduli, aku harus menceritakan semuanya. Harus…

‘Dia adalah Lee Jeun Hye. Dia adalah klienku. Saat itu harusnya kami tidak hanya makan berdua. Harusnya, Changmin ikut bersama dengan kami. Tapi, istri Changmin mendadak sakit dan Changmin harus segera pulang. Aku hanya makan berdua dengannya. Changmin pernah bilang, aku harus hati-hati dengannya, karena menurut Changmin, Jeun Hye suka denganku.

Aku tidak terlalu memikirkan itu. Dia adalah klienku, sudah sewajarnya aku bersikap baik dengan rekan bisnisku.

Namun ternyata apa yang Changmin katakan benar. Jeun Hye memaksaku untuk selingkuh darimu. Aku menolaknya dengan sopan. Namun ia semakin memaksa. Aku berusaha memberikan pengertian padanya. Namun ia tidak mau mendengarkanku.

Itu terjadi dengan cepat. Tiba-tiba ia berjalan ke arahku, dan ia tersandung karpet restoran itu. Reflek aku memegangnya agar ia tidak jatuh. Namun aku salah, ia malah menarik tanganku dan menciumku.

Aku tidak tahu ada yang mengambil gambar kami. Setelahh itu aku berusaha melepas genggaman tangannya dan aku menamparnya. Setelaj itu aku langsung pulang.

Sungguh, aku tidak berselingkuh dengannya. Aku hanya mencintaimu. Kau harus percaya itu’

‘Kumohon. Percaya padaku, jagiya’

#Kriet

#Bruk

‘Mianhae. Mianhae oppa. Mianhae aku meragukanmu’

‘Gwenchana. Gwenchana. Asal kau mau memaafkanku dan percaya padaku’

‘Aku percaya padamu. Mianhae’

‘Jangan menangis lagi, jagiya. Aku tidak bisa melihat air matamu’

‘Saranghae, oppa’

‘Nado saranghae, jagiya’

#Chu

….

Aku berharap tidak ada lagi kejadian-kejadian seperti itu di dalam pernikahan kita. Namun aku salah. Kita malah menghadapi hal yang lebih besar dari itu. Dan inilah awal dari akhir perjalanan kita.

‘Jagiya. Besok aku akan pergi ke New York untuk beberapa waktu’

‘Belakangan ini aku selalu keluar negeri, oppa. Kau baru saja pulang dari Jepang dan sekarang sudah mau pergi lagi?’

‘Mianhae, jagiya. Kau kan tahu sendiri. Perusahaan kita mulai berkembang dengan pesat. Aku berniat membuka cabang di sana’

‘Tidak bisakah kau tunda? Sebentar lagi adalah hari pernikahan kita yang ke-3. Tidak bisakah kau tetap di sini sampai hari itu?’

‘Aku janji aku akan kembali sebelum tanggal itu, jagiya. Tapi sekali ini saja, tolong mengerti. Ini sangat penting. Tidak bisa ditunda lagi’

‘Terserah kau saja, oppa’

‘Kau marah?’

‘Menurutmu?’

‘Kumohon mengertilah’

‘Kapan aku tidak mengerti dirimu? Aku selalu berusaha mengerti semua kepentinganmu. Namun sepertinya, di sini hanya aku yang mengerti dirimu. Kau sama sekali tidak mengerti aku’

‘Itu tidak benar, jagiya. Ini semua juga demi masa depan kita’

‘Masa depan kau bilang? Selalu itu yang kau ucapkan. Tapi tidak tahukah kamu, aku tidak butuh ini semua. Aku tidak butuh kekayaan untuk masa depan kita. Aku hanya butuh kau di sampingku. Hanya itu’

‘Tapi kita juga butuh uang untuk masa depan kita dan anak-anak kita kelak’

‘Kau selalu sibuk dengan urusanmu. Kau selalu terlarut dalam pekerjaanmu. Dipikiranmu hanya ada pekerjaan. Aku ragu, tempatku sekarang di hatimu tetap nomor satu. Ku rasa, aku hanya ada di sebagian kecil hatimu’

‘Jangan berpikiran seperti itu, jagiya. Itu tidak benar. Kau tetap utama di hatiku. Selalu dan tidak ada yang bisa menggantikannya’

‘Gotjimal’

Jika aku bisa, aku tetap ingin bersamamu. Namun apa daya, aku juga memikirkan nasib banyak karyawan yang bergantung padaku. Saat itu aku merasa sangat bingung. Harus memilihmu atau pekerjaan.

Kalau aku ingin egois, aku ingin memilihmu dan selalu berada di sisimu seperti yang kau inginkan. Namun sayangnya aku tidak bisa egois. Banyak orang bergantung padaku, aku harus memikirkan mereka juga.

‘Aku akan pergi sekarang’

‘Jangan meninggalkan’

‘Aku akan kembali begitu …’

‘Pembohong, pembohong’

‘Tidak, kau tak tahu betapa aku mencintaimu?’

‘Tidak bisakah kau menunjukkan cintamu padaku sekarang?’

‘Aku mencintaimu …’

‘Apakah kita tidak bisa mencintai lagi?’

Hari itu, pertama kalinya dalam hidupku aku merasa seperti tidak menapak di bumi lagi. Aku merasa oksigenku diambil secara paksa bersama dengan jiwaku. Aku merasa hidupku sudah tidak ada di sini lagi.

Aku berlari. Berlari dari hotel menuju bandara. Memesan tiket paling pertama menuju Korea. Aku menunggu dengan sangat tidak tenang. Kalau aku bisa, aku ingin berteleportasi saat itu juga.

Setelah aku sampai Korea, aku langsung berlari mencari taksi menuju rumah sakit Seoul. Dan sialnya aku terjebak macet. Tidak ada yang bisa kupikirkan lagi. Aku turun dan aku berlari secepat yang aku bisa. Tidak peduli puluhan kilometer harus aku tempuh.

Drrrt… Drrrt…

Tidak… No yang tadi menelponku saat aku di NY dan memberikan kabar buruk bahwa kau kecelakaan, kembali menelponku.

Banyak pikiran buruk berkecamuk di dalam otakku. Aku berhenti sejenak dan mengatur napasku. Aku menekan tombol jawab dengan tangan bergetar hebat. Sambil berdoa, bukan kabar buruk yang akan ku terima.

‘Tuan Jung. Istri anda sudah siuman’

Betapa bahagianya aku saat itu. Aku berterima kasih pada Tuhan. Ternyata Ia masih sayang padamu dan mengembalikanmu padaku. Namun masih ada yang mengganjal di hatiku dan berusaha kutepis itu.

‘Dia ingin berbicara dengan anda’

Dan saat mendengar suaramu, aku yakin ada yang tidak beres di sini.

‘Oppa, annyeong’ Suaramu terdengar begitu lemah.

‘Bagaimana kondisimu’

‘Aku baik-baik saja. Kau terdengar sangat lelah. Ada apa?’

‘Aku akan tiba sebentar lagi di sana. Tunggu aku, ne’

‘Jangan dimatikan oppa. Aku masih merindukan suaramu. Bisakah kau bernyanyi untukku’

‘Bernyanyi? Aku tidak bisa bernyanyi’

‘Jebal’

‘Baiklah’
Jonyok nouri jigo hana dul kyojinun
Bulbichul taraso noege gago iso

Chagaun barame umchurin ne okaega
Naeryo antgi jone naega gamsajulke

Nal bwa love you
Babogatun gudae
Gu modun goshi naegen da sojunghangol

*gudae wiro toorun taeyangmankum
Nuni bushin I gasumuro
Gidaryojun shiganmankum nol naega jikyojulke

Gidohan modun kumi ganjolhan
Nae hyanggiro nama uril hyanghae iso
More than the air I breathe

Balgaol achime hamke usul su innun
Naui baraemduri irwo jil su itdorok

Naega gidarilke (MICKY)(gidarilke)
Ne son nochi anhulke
Nunmul punira haedo naega dakajulke

Kuchi boiji anhado
Amuri homhan giriljirado yaksokhalke
My
My my my please be mine

*gudae wiro toorun taeyangmankum
Nuni bushin I gasumuro
Gidaryojun shiganmankum nol naega jikyojulke

Saranghandago ijen gudae punirago

Jo hanul kute sorichyo jonhago shipo

Love you tojildutan gasumi gu
Daerul burugo iso

Apun shiryoni uril chajawado
Gu apume mok meowado
Da orumanjyo jul su innun naega do saranghalke
Tumyonghan usumkochi banjjaginun jo byol
Dulchorom
Arumdapge nol nomanul bichwojulke
Gudae wiro toorun taeyangmankum
Nuni bushin I gasumuro
Gidaryojun shiganmankum nol naega jikyojulke
Saranghae nol saranghae
Sesang
Gajang nunbushin gudae kumgyolgatun

I mam
More than the air I breathe

‘Oppa… Saranghae’

‘Nado saranghae. Tunggu oppa sebentar, ne’

‘Aku tidak bisa’

‘Waeyo’

‘Hiduplah dengan bahagia oppa. Makanlah dengan teratur. Jangan terlalu banyak bekerja. Jangan banyak menangis’

‘Apa maksudmu?’

‘Oppa, Sa-rang-hae…..’

Tiiiiiit….

‘Nyonya Jung… nyona Jung bertahanlah… Panggilkan dokter’

Aku masih bisa mendengar suara-suara ribut itu. Kaki ku terasa kaku. Pikiran buruk semakin  nyata di dalam otakku. Aku mengerti apa yang terjadi. Tapi aku berusaha menepisnya.

Sudah 3 bulan kau pergi. Dan semua kini berubah. Aku tidak bisa hidup bahagia tanpamu, aku tidak bisa makan teratur karena semua makanan terasa hambar jika bukan kamu yang membuatnya, aku tidak bisa berhenti bekerja karena aku tidak bisa sendiri di rumah kita yang penuh dengan bayanganmu, dan aku tidak bisa berhenti menangis karena air mata ini selalu mengalir setiap aku membayangkanmu, meski aku berusaha menghentikannya.

Aku tidak bisa menjadi Jung Yunho yang dulu lagi. Jung Yunho tanpa Jung Sooyoon bukanlah Jung Yunho. Tubuh ini memang milik Jung Yunho, namun sudah tidak ada lagi jiwa di dalamnya karena jiwa itu sudah dibawa pergi olehmu, Jung Sooyoon.

“Oppa…”

Di mana-mana aku bisa melihat bayanganmu.

“Oppa cepat kemari”

Bahkan aku sekarang merasa aku melihatmu sedang melambai padaku di seberang sana.

“Aish~ kau lamban sekali oppa. Cepatlah kemari. Aku sudah bosan menunggumu”

Benarkan? Itu benarkah kau? Aku tidak sedang bermimpi?

“Sooyoon-ie… Sooyoon-ie…”

“Ne oppa. Cepatlah kemari”

“Tunggu aku di sana. Jangan kemana-mana. Aku akan segera ke sana”

Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menujumu. Yang ku pikirkan hanya menujumu dan berdiri di sampingmu. Aku ingin memelukmu sesegera mungkin dan mengucapkan sebanyak apapun kata cinta padamu seperti dulu.

Sooyoon~aah… Tunggu aku, aku akan segera kesana.

Tiiiiiin….

Brak….

Akhirnya kita bisa bersama. Kita tidak akan berpisah mulai sekarang. Tangan ini, akan selalu terpaut sampai kapanpun. Kita akan selalu berdampingan dan menyalurkan perasaan cinta kita. Selamanya… DI Surga…

-The End-

I LOVE U, MY BOSS! *PART 8*

cover my boss

Cast:

 Park Soo yoon

 Jung Yunho

 Lee Donghae

Support Cast:

 Kim Heechul Super Junior

 Cho Taehyun

mianhaaee, aku baru publish skrg.

awalnya ini aku mau bikin panjang lebar samapi ending.

tapi setelah aku pikir pikir, terlalu cepat kalo ending.

so aku publish setengahnya aja dulu. ahahahah

1 part lg ff ini selesai kok.

==================================================

 

Part 8

 

Seorang gadis duduk di pinggiran sungai han.

Ia menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.

Matanya terus mengeluarkan cairan bening tanpa henti.

Entah sudah berapa lama ia duduk disitu. Udara dinginpun dihiraukannya.

Disamping gadis itu, ponselnya terus berbunyi menandakan seseorang nelefonnya.

Tak ada niat sedikitpun untuk menjawab telefon itu, bahkan meliriknya saja ia tak mau.

Dadanya mulai sesak, pernapasannya mulai terganggu.

Menyadari penyakit asmanya yg sudah lama menghilang, kini kembali lagi.

Tanpa mengalihkan pandangannya yg lurus kedepan, ia merogoh tasnya mencari sebuah tabung oksigen.

Cukup lama ia mencari, akhirnya ia mendapatkannya dan langsung memakaikannya.

Memejamkan mata, menghirup udara sedalam dalamnya dari tabung oksigen itu.

 

Setelah pernapasannya membaik, ia menurunkan alat itu.

Kesadarannya mulai kembali perlahan, ia melirik ponsel yg tergeletak di atas rumput.

Ponsel itu masih berkedip kedip, seseorang nelefonnya.

Berselang beberapa detik, layar ponsel itu menyala tak lagi berkedip kedip.

“ You Have 115 Misscall from Donghae and 53 New Message”

Tulisan yg tertera dilayar itu.

Gadis itu tertawa miris dan menenggelamkan kepalanya diantara lututnya.

Menggerakkan kepalanya naik turun sedikit, agar keningnya membentur lututnya.

Berusaha menghilangkan rasa pusing, atau bahkan kalau bisa menghilangkan segala ingatannya.

Soo yoon menyalahkan dirinya sendiri, kenapa ia begitu bodohnya menolak pria sebaik donghae.

Ada sebuah jalan keluar untuk semua ini.

Cukup melupakan cintanya terhadap bosnya, dan kembali pada cinta pertamanya.

Tapi itu hanya sebuah teori cinta, yg tak akan pernah mudah untuk mempraktekannya kedalam kehidupan langsung.

 

Seseorang berjalan terburu buru di pinggiran sungai han.

Langkah pria itu tertatih tatih, akibat ia menggunakan tongkat di tangan kirinya.

Ia mengalihkan pandangannya keseluruh arah, seperti sedang mencari orang sambil tetap memegang ponselnya.

“yoonie-ah, jebal angkat telefonmu” gumannya.

Langkahnya terhenti, setelah melihat seorang gadis yg sedang menenggelamkan wajahnya di antara lutut.

Donghae menyipitkan matanya, memastikan gadis itu adalah soo yoon.

Setelah yakin itu gadis yg dicarinya, dengan setengah berlari ia menghampiri soo yoon.

 

“yoonie-ah !” panggilnya yg langsung menjatuhkan dirinya didepan soo yoon.

Ia berlutut didepan soo yoon yg sedang duduk memeluk kedua lututnya.

Soo yoon mengangkat kepalanya, menatap donghae.

“oppaa” panggilnya dengan suara bergetar dan pelan.

“aku mencarimu kemana-mana. Aku menelefonmu beratus ratus kali dan mengirimkanmu berpuluh puluh kali pesan singkat. Tapi kau tak satupun menjawabnya” katanya dengan nada khawatir.

“mianhae”

“aku sangat mengkhawatirkanmu. Sebenarnya apa yg terjadi denganmu ?”

Soo yoon menggeleng perlahan, sambil menatap donghae.

“kita pulang ya ? disini dingin sekali, aku takut kau sakit”

Donghae membantu soo yoon berdiri.

Ia tahu gadis itu sedang dalam keadaan rapuh dari sorotan matanya.

Setelah mereka berdua berdiri, soo yoon membantu donghae untuk mengambil tongkatnya.

“kakimu masih sakit oppa, jangan khawatirkan aku”

“aku tidak bisa, tidak mengkhawatirkanmu”

“oppa…”

“kajja, kita pulang”

Donghae menarik soo yoon pergi dari tempat itu, berjalan menuju mobilnya.

 

**************************

“kau sudah makan ?”

Soo yoon mengalihkan pandangannya dari jendela mobil, menatap donghae lalu menggeleng pelan.

“aku sudah menduganya… kita makan sekarang”

“oppaa…”

“kang ahjusshi, tolong antarkan kami kerestoran jepang”

“ne tuan” jawab supir pribadi donghae.

“oppa… aku tidak lapar”

Donghae menggeleng pelan, “aku tak mau kau sakit. Entah berapa jam kau berada di cuaca dingin seperti tadi. Jadi kumohon, makanlah”

Soo yoon memandang donghae, pria ini benar benar baik.

Ia masih saja memperlakukan soo yoon dengan baik, setelah gadis itu menolak cintanya semalam.

“oppa… kumohon, jangan berbuat baik terhadapku terus seperti ini. Aku… aku sudah menyakitimu”

Bibir donghae terangkat membentuk sebuah cekungan yg disebut senyuman.

“lupakan tentang semalam. Sekarang aku menganggapmu sebagai dongsaengku. Jadi kau bisa meminta bantuanku sebagai oppa ne ?”

“gomawo… gomawo untuk semuanya”

“ne, cheonmaneyo nae dongsaeng”

Soo yoon tersenyum sambil memandang donghae.

Tak lama ia kembali mengalihkan pandangannya kearah jendela.

Melihat lihat pinggir jalan yg sudah mulai tertutup salju.

 

Donghae masih memandang gadis disampingnya, gadis yg menolaknya semalam.

Gadis yg masih sangat ia cintai seperti dulu.

Ia tak berusaha untuk melupakan gadis disampingnya, walau gadis itu sudah tak mencintainya lagi.

Sudah ada pria lain didalam hati soo yoon.

Donghae yakin, kejadian hari ini pasti berhubungan dengan pria itu.

“yunho… ia berbuat sesuatu padamu, sehingga membuatmu seperti ini ?” tanya donghae dengan suara berat.

Soo yoon terkejut, lalu memalingkan wajahnya menatap donghae.

“ceritakan padaku. Aku ini oppamu kan sekarang ?”

“ahra-sshi… ia memarahiku didepan orang banyak. Ia menuduhku telah merebut yunho darinya”

“mwo ? memangnya ada apa dengan mereka ?”

“entahlah, yg ku tau sebelum mereka bertengkar. Ahra-sshi membawa beberapa majalah tentang perlengkapan pernikahan” cerita soo yoon dengan suara bergetar.

Donghae menggeser posisi duduknya mendekaki soo yoon.

“lalu ?”

“hampir semua pegawai kantor berfikir aku ada hubungan khusus dengan yunho oppa, karena ia membelikanku apartemen”

Soo yoon mengigit bibir bawahnya, berusaha agar tidak menangis lagi.

Donghae menarik soo yoon kepelukannya, memeluknya erat sambil menepuk-nepuk punggung soo yoon.

“aku… aku tak pernah merebut yunho oppa dari ahra. Aku tau posisiku yg hanya sekretarisnya, tidak lebih”

“arrasoo” ujar lembut donghae.

Pria itu menepuk nepuk punggung soo yoon, berusaha memberikannya ketenangan.

************************

Yunho berjalan menuju apartemennya.

Langkahnya terhenti tepat didepan apartemen soo yoon.

sudah pulangkah dia ?’ tanyanya dalam hati.

Ia mengulurkan tangan menekan bell apartemen itu.

Ting tong.

Tak ada tanda tanda aka nada orang yg membuka pintu.

Ting tong.

Ia memenekan kembali bell itu.

Hasilnya sama dengan sebelumnya, tak ada yg membuka pintu.

Yunho menghela nafas, lalu berbalik menuju pintu apartemennya.

 

Ia melirik jam dinding di ruang tamu apartemennya, 10.00 pm.

Sudah hampir larut malam, gadis itu belum pulang juga keapartemennya.

Yunho mulai merasa gelisah, takut terjadi sesuatu dengan soo yoon.

Dengan terburu buru ia mengeluarkan ponselnya.

Tiba tiba ia mengurungkan niatnya, mengingat dengan siapa gadis itu pergi.

Donghae… mungkin ia sedang bersama donghae, seperti yg dikatakannya tadi sebelum meninggalkan kantor.

Pikirannya berkutat lagi.

Memikirkan kemungkinan gadis itu sudah menerima cinta donghae.

haruskah aku kehilangan cintaku lagi ? tanyanya pada diri sendiri.

Ia menghelas nafas putus asa.

Yunho menggerakan jarinya diatas layar ponselnya, menekan beberapa deretan angka lalu meletakan barang berbentuk kotak itu dielinganya.

“ahjusshi… jika soo yoon sudah pulang… tolong beri tahu aku ne ?”

************************

“gomawo sudah mengantarkan aku pulang” ucap soo yoon membungkukan tubuhnya.

“cheonmaneyo. sudah malam sebaiknya kau masuk sekarang”

Soo yoon tersenyum, lalu berbalik menuju sebuah pagar.

“jangan menangis lagi… kau sudah banyak menangis hari ini”

Soo yoon berbalik sedikit, “ne oppa”

“dan… jika terjadi sesuatu hubungi aku yoonie-ah”

“aku tidak mau merepotkan oppa lagi”

“hey, aku senang jika di repotkan oleh dongsaengku sendiri”

“kau terlalu baik lee doanghae ! Semoga kau cepat cepat menemukan penggantiku” kata soo yoon sambil terkekeh.

Mata gadis itu masih bengkak karena habis menangis lama, tetapi ia sudah bisa mengeluarkan senyumnya.

Setidaknya itu yg bisa donghae lakukan sekarang, menghiburnya.

Donghae hanya membalasnya dengan senyuman.

“kau pulanglah oppa. Selamat malam” ucap gadis itu sebelum menghilang di balik pintu.

 

Setelah gadis itu masuk kedalam pagar rumah itu, donghae menghela napas.

Soo yoon tidak mau di antarkan pulang keapartemennya, dengan alasan ingin menginap di rumah taehyun.

Donghae tahu bahwa sebenarnya gadis itu menghindari untuk bertemu yunho.

Ia tersenyum pahit mengingat perkataan soo yoon barusan.

“menemukan penggantimu ? tak ada niatan sedikitpun di hatiku untuk melakukan itu yoonie” gumannya.

Donghae menertawakan dirinya sendiri.

“kau benar benar seperti pria bodoh donghae-ah”

 

************************

Yunho membuka matanya, ia melirik jam yg ada dimeja disebelahnya, 03.00 am.

Ia memejamkan mata dan memijat keningnya dengan tangan kanannya.

Sudah sepagi ini, tapi tak ada tanda tanda gadis itu sudah pulang.

Penjaga apartemen itu belum juga memberi kabar tentang kepulangan soo yoon.

Ia menghela napas berat, lalu bangkit turun dari ranjangnya.

Berjalan menuju balkon apartemennya.

Cukup lama ia berdiri sambil memandang kosong langit didepannya.

Suara ponsel yg bergetar mengahlikan perhatiannya, membuat pria itu berlari masuk kedalam menuju ranjangnya.

“yeoboseyo!”

‘hey, kenapa kau bersemangat itu mengangkat telefonku ?’

Yunho menghembuskan napas  berat, harapannya tak sesuai dengan kenyataan.

Ia berharap salah satu penjaga apartemen yg akan meneleponnya, tetapi dugaannnya meleset.

‘ada apa denganmu kenapa kau diam saja ?’

“aku sedang malas berbicara heechul-sshi”

‘mwo ? aishh, padahal aku ingin menyampaikan sesuatu’

“apa ?”

‘kau menunggu sekretarismu pulangkan ?’

“kau tau darimana ?”

Terdengar suara tertawa heechul.

‘aku baru saja bertemu dengan donghae. Kau tau, ikan satu itu tampak sedang depresi tadi. Sepertinya telah terjadi sesuatu padanya’

“lalu ?”

‘jika si ikan itu depresi, pasti kau yg senang’

“mwo ? maksudmu ?”

‘ah aku malas menjelaskannya. Sudah aku ingin tidur’

Klik, heechul mematikan ponselnya.

“yak kim heechul !”

Yunho mendengus kesal sambil menatap ponselnya.

“dasar pria ab!” umpatnya.

 

***********************

Dengan sedikit sempoyongan yunho berjalan menuju ruangannya.

Tangan kanannya sesekali memijat keningnya.

Ia menghela nafas berat, setelah melihat meja sekretarisnya kosong.

 

Setelah masuk kedalam ruangannya, ia menghempaskan tubuhnya dikursi kerjanya sambil memejamkan mata.

Tok tok tok.

“masuk”

“sajangnim”

“mmm” guman yunho tanpa membuka matanya.

“hari ini sekretaris park mengajukan cuti selama 3 hari”

Yunho membuka matanya, lalu menegakan tubuhnya.

“mwo ?”

“tadi pagi beliau member kabar ke kantor tentang hal ini”

Yunho menghela nafas, ia tak menduga bahwa akan seperti ini.

“arraso, lalu apa jadwalku hari ini ?”

Manager kim mulai menjelaskan tentang jadwal pemimpinnya hari ini.

Sedangkan yunho, hanya menatap kosong kertas didepannya

 

***********************

“jadi kau cuti selama 3 hari ?” tanya taehyun tak percaya.

“ne. wae ?”

“tumben sekali, biasanya kau tidak mau melewatkan hari tanpa melihat atasanmu itu”

Soo yoon menghela napas, ia memutuskan tak bercerita tentang masalahnya dengan yunho terhadap sahabatnya itu.

“aku lelah bekerja, jadi aku malas untuk bekerja” jawabnya ringan.

“kau aneh”

“ah sudahlah aku ingin menikmati liburanku”

Soo yoon menarik selimutnya, mencoba mengalihkan perhatian taehyun.

“aishhh. Pasti terjadi sesuatu antara kau dengan bosmu kan ?”

“ani”

Taehyun menarik selimut yg dipakai soo yoon.

“jujur saja, pasti kau sedang ada masalahkan ?”

“sudah kubilang tidak, kim taehyun!”

“kau itu tak pandai berbohong park soo yoon”

Soo yoon merubah posisinya menjadi duduk.

“baiklah aku memang ada masalah”

“jadi apa yg terjadi denganmu dan sajangnim jung ?”

“aku… aku akan mengundurkan diri dari kantor itu”

“mwo ?”

“kupikir ini saatnya untuk menyerah, dan memulai kehidupan yg baru”

“kehidupan baru ? maksudmu dengan donghae sunbae ?” tanya taehyun dengan antusiasnya.

Soo yoon terdiam, “mu… mungkin”

“baiklah, kalau itu keputusannya. Sekarang kau boleh tidur lagi”

Taehyun menarik selimut, menutup wajah soo yoon, lalu berlari keluar kamar.

“yak!” umpat soo yoon.

 

***********************

3 hari sudah berlalu, dan keadaan yunho semakin memburuk.

Wajah pria itu terlihat pucat, tapi tetap menunjukan ketampanannya.

Keadaannya lebih buruk daripada keadaannya dulu saat berpisah dengan ahra.

Benar benar seperti orang yg kehilangan semangat hidup.

Manager kim menatap atasannya yg sedang menandatangi beberapa dokumen.

Yunho menggunakan tangan kirinya untung menopang kepalanya, sedangkan tangan kanannya bergerak menandatangani beberapa kertas.

“sepertinya anda sakit sajangnim”

Yunho menghentikan gerakan tangannya.

“ani” jawabnya yg langsung menggerakan tangannya lagi.

“wajah anda pucat, sepertinya anda kurang tidur”

Yunho meletakan ballpointnya dengan kasar.

“aku sudah menandatanganinya”

Manager kim bergerak untuk mengambil dokumen itu dari hadapan yunho.

“kapan sekretarisku masuk ?”

“besok beliau akan kembali bekerja”

Yunho menganggukan kepalanya, menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata.

“Jika klien kita dari jepang sudah datang, beri kabar aku”

“kalau saya beri saran, sebaiknya anda pulang untuk beristirahat sajangnim”

“dan membatalkan janji dengan klien terbesar kita ?”

Manajer kim diam, menatap atasannya yg menjunjung tinggi kepropesionalan kerja.

Sesakit apapun yunho, jika ia sudah punya janji dengan klien, pasti ia akan menepati janji itu.

“kalau begitu saya permisi sajangnim”

 

Sepeninggal manager kim, yunho kembali memejamkan matanya.

Berusaha bisa menghilangkan rasa pusingnya.

Dalam 3 hari, pria itu hanya tertidur dalam waktu kurang lebih 6 jam.

Pikirannya terus terarah kepada soo yoon.

Ia membuka matanya lalu menatap meja kerja soo yoon.

Ia merasa gadis itu menghindar darinya, dan ia tak suka dengan hal itu.

Yunho sudah beberapa kali menelefon ponsel soo yoon, namun ponsel gadis itu tak aktif.

Gengsinya sebagai pria masih tinggi, sehingga ia bertahan untuk tidak menghubungi donghae.

Menanyakan kabar dan keberadaan gadis itu.

“demi tuhan… Aku merindukan gadis itu…”

 

***********************

 

yunho berjalan dengan lesu menuju ruangannya, kepalanya masih terasa pusing.

Langkahnya terhenti melihat tas wanita di atas meja sekretarisnya.

Bibirnya melengkung membuat senyuman manis, yang tak ia keluarkan beberapa hari ini.

Yunho yakin, gadis itu sudah masuk dan ia bisa melihatnya seperti biasa.

Perasaan senang memenuhi hatinya, membayangkan gadis itu tersenyum kepadanya seperti biasa.

Ia kembali berjalan masuk dengan ruangannya tanpa berhenti tersenyum.

Setelah sampai dimeja kerjanya, senyum itu perlahan memudar melihat amplop coklat diatasnya.

Yunho mengambil surat itu lalu membukanya.

Ia meremas ujung kertas yg ia pegang itu.

 

Tok tok tok.

“masuk” ucapnya dengan menahan amarah.

Gadis itu masuk, gadis yg begitu dirindukannya.

Gadis yg membuatnya tak bisa tidur semalaman, gadis yg membuatnya cemas, dan gadis yg membuatnya kehilangan semangat hidup saat gadis itu tidak ada disampingnya.

“sajangnim”

Gadis itu mengeluarkan suara, suara yg begitu dirindukannya, suara yg sangat ingin didengarnya.

Pria itu terdiam, tangannya masih meremas ujung kertas putih itu.

“sajangnim… anda sudah membaca surat pengunduran diri saya ?”

Soo yoon tak berani memandang yunho, ia terus menundukan kepalanya.

Kedua tangannya mencengkram ujung blazernya.

Yunho membuang kertas itu keatas mejanya secara kasar, menimbulkan suara keras yg membuat soo yoon mengangkat kepalanya, untuk melihat apa yg terjadi.

Dengan setengah berlari ia menghampiri soo yoon yg berdiri tak jauh dari pintu.

Soo yoon hanya memandang datar yunho yg berjalan cepat menuju arahnya.

 

Yunho menarik lengan soo yoon dan memeluk gadis itu dengan erat, seakan akan ia tak mau gadis itu pergi lagi.

“sajangnim…” Panggil soo yoon yg terkejut.

“kau sudah membuatku hampir gila, karena selama 3 hari ini kau tidak muncul dihadapanku. Dan sekarang, kau malah datang menemuiku untuk memberi surat pengunduran diri ?”

Soo yoon hanya terdiam didalam pelukan yunho.

“tak tahu kah kau betapa frustasinya aku saat aku tidak bisa melihatmu, betapa aku merindukan suaramu, dan tak tahukah seberapa pentingnya dirimu sekarang untukku ?”

“sajangnim…”

“dan kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah membuatku jatuh cinta padamu ?”

“ne ?”

“aku mencintaimu” bisik yunho dengan lembut.

Soo yoon membulatkan matanya, tak percaya dengan ucapan yunho barusan.

“kumohon, jangan pergi lagi. Aku sudah hampir gila tak ada dirimu beberapa hari ini”

Yunho membenamkan wajahnya di bahu soo yoon, menghirup aroma strawberry dari parfum yg di pakai gadis itu.

 

Cukup lama mereka berpelukan, tepatnya yunho yg memeluk soo yoon, karena gadis itu sama sekali diam tak membalas pelukannya.

Yunho mengatur jarak antara wajahnya dengan soo yoon, agar ia bisa melihat wajah gadis itu secara dekat.

Kedua tangannya masih melingkar manis di pinggang soo yoon.

“wae ?” tanya yunho lembut.

“aku… aku… tak percaya bahwa kau… mencintaiku… sajangnim ?” tanya soo yoon yg terputus putus.

Soo yoon merasakan gugup yg luar biasa, ia bisa lihat dengan dekat wajah yunho yg sempurna hanya beberapa senti dari wajahnya.

Yunho tersenyum manis, “tak percaya ?”

Ia mengambil tangan kanan soo yoon yg berada dilengan kirinya, meletakan tangan itu di dadanya tepat dimana jantungnya berdebar kencang.

“bisa rasakan detak jantungku yang cepat ?”

Soo yoon menganggutkan kepalanya.

“ini terjadi setiap aku berdekatan denganmu… kau masih tak percaya bahwa aku mencintaimu ?”

“entahlah… ini seperti mimpi bagiku”

“kalau begitu lihat mataku”

Mata soo yoon bergerak menuju mata yunho, memandang kedua bola mata hitam milik yunho.

“aku mencintaimu… park soo yoon”

Soo yoon melihat kejujuran dan ketulusan dari kedua bola mata yunho saat pria itu mengatakan cintanya.

“bisa melihatnya sekretaris park ?”

“ne”

“lalu apa jawabanmu ?”

“mwo ? jawaban apa ?”

Yunho tertawa, gadis didepannya benar benar polos.

“jawabanmu…. apa kau mencintaiku juga ?”

Soo yoon menundukan kepalanya, semburat merah terlihat di kedua pipi putihnya.

“ne” jawabnya sambil menganggukan kepala.

“jinja ? aigoo, gomawo soo”

Yunho kembali memeluk soo yoon.

Perasaannya benar benar lega sekarang, ia tau cintanya tak bertepuk sebelah tangan.

 

*************************

Yunho membuka pintu ruang kerjanya, dan berdiri terpaku diambang pintu.

Tersenyum bahagia, menatap seorang gadis yg sedang sibuk bekerja.

Rambutnya yg panjang ikal, kini tergulung seadanya dengan menggunakan sebuah pensil kayu.

Bibir mungil gadis itu, terkadang bergerak mengeluarkan kata kata seperti gumaman.

Yunho benar benar menyukai pemandangan ini.

Gadis yang dipandangnya hanya membalik balikan kertas, sambil sesekali menulis.

Tak menyadari seseorang memandangnya lekat lekat.

 

“sajangnim”

Panggilan salah satu karyawannya membuat tubuhnya tersentak, dan kemudian matanya tak lagi memandang soo yoon.

Soo yoon menganggkat kepalanya, menatap karyawan yang memanggil yunho.

“ada apa ?” jawab yunho.

Soo yoon memalingkan pandangannya terhadap yunho yg berdiri dipintu ruangannya.

Sejak kapan ia berdiri disitu ?

 

“saya mengantarkan dokumen dari manager kim sajangnim”

“oh. Berikan padaku”

Dengan ragu karyawan itu berjalan mendekat pada yunho, dan memberikannya kepada yunho.

“terima kasih” ucap yunho yang lalu masuk kedalam.

 

Karyawan itu berbalik menatap soo yoon dengan tatapan sinis,

Sajangnim memandang gadis ini begitu lama tadi.

 

Soo yoon menatap karyawan itu, karyawan yang ada saat kejadian antara dirinya dengan ahra terjadi, dan karyawan itu juga yang membicarakannya di toilet wanita waktu itu.

Akhirnya karyawan itu berjalan meninggalkannya.

 

Soo yoon menghela nafas, ia tahu apa yang ada dipikirkan karyawan tadi.

Pasti ia semakin berpikiran yang tidak tidak tentangnya.

Pandangannya bergerak memandang yunho yang sedang membaca dokumen dimeja kerjanya.

Tak akan mudah… ya perjalannya hidupnya kedepan tak akan mudah.

 

************************

“kau tahu, tadi aku melihat sajangmin memperhatikan soo yoon dari pintu ruang kerjanya”

“jinjja ? apakah lama ?”

“mungkin sekitar 5 menit”

“aishh, apa bagusnya dia sampai sampai sajangnim sepertinya menyukainya dan lebih memilih gadis itu dari pada ahra yang jelas jelas jauh lebih baik daripada soo yoon”

“aku yakin pasti gadis itu memberikan tubuhnya kepada sajangnim. Dugaan kita semakin jelas bukan ?”

“kau benar… gadis itu menghilang selama 3 hari. Pasti malu karena kejadiannya dengan ahra”

“atau mungkin sajangnim ‘memakainya’ terlalu kasar sehingga ia kelelahan, sampai sampai tak masuk kerja”

Kedua karyawan itu tertawa, dan asik membicarakan orang sehingga tak sadar yang sedang dibicarakannya berada didekat mereka.

Soo yoon berdiri mematung dengan kedua mata yg berair, Segitu buruknya kah aku dimana mereka?

Karena mesin foto copy di lantai tempat ia bekerja rusak, akhirnya ia memutuskan untuk pergi kelantai bawah. Tak pernah menyangka bahwa ia mendengar hal ini.

 

Soo yoon berbalik, dan terkejut mendapati seorang pria berdiri dibelakangnya.

“sajangnim…”

Yunho mengepalkan tangan kanannya, matanya merah karena emosi.

Ia menarik soo yoon masuk kedalam ruangan itu.

“jadi… ini pekerjaan kalian ?”

Kedua karyawan itu terkejut, lalu menunduk.

“berkata yang tidak tidak tentang seseorang… benar benar karyawan teladan” ucapnya dengan penuh sindirian.

Yunho menatap tajam karyawan itu satu persatu.

“mulai detik ini, kalian berdua bukan lagi karyawan perusahaan ini”

Kini kedua karyawan itu menatap yunho, “sajangnim”

“sajangnim” panggil soo yoon sambil menggoyangkan tangan yunho yg mengenggam tangan kanannya.

“dan akan ku pastikan, kalian tidak akan mendapat perkerjaan di kantor manapun”

 

Yunho menarik soo yoon lagi meninggalkan kedua wanita yang sedang syok itu.

“dan 1 lagi, yang kalian hina tadi adalah calon istri dari pemilik perusahaan ini. Jika kalian menghinanya berarti kalian menghina pemilik perusahaan ini”

 

************************

Yunho berjalan menuju ruangannya, tangan kanannya masih menggenggam erat tangan kiri soo yoon.

“bagaimana kau bisa ada di situ ?”

Yunho menghentikan langkahnya, lalu berbalik.

“ada tambahan dokumen yang harus kau foto copy, karena kau tak ada di ruang foto copy di lantai ini, aku putuskan untuk menyusulmu kelantai bawah”

“tapi kau… tak seharusnya memecat mereka sajangnim”

Yunho mendengus, lalu menatap gadis yg berdiri didepannya dengan tatapan tak percaya.

“sudah bagus aku hanya memecat mereka. Tadinya ku ingin sekali menampar mereka satu persatu”

“sajangnim!”

“mereka sudah menghinamu, tapi kau masih berbaik hati dengan mereka?”

“biarkan saja mereka berbicara semau mereka, toh kenyataannya apa yang mereka katakan tidak benar”

“tapi perkataan mereka menyinggungmu kan?”

Soo yoon terdiam, menunduk menatap karpet merah tua dibawahnya.

“aku…”

Yunho memegang dagu soo yoon, mengangkatnya agar soo yoon bisa melihatnya.

“dengar… Menyakitimu sama dengan menyakitiku, menghinamu sama dengan menghinaku juga. Jadi kalau mereka berurusan denganku, mereka harus menanggung segala resikonya”

 

************************

 

Soo yoon merentangkan kedua tangannya keatas.

“aigoo, pekerjaanku selesai juga”

Ia memijat mijat lehernya, sambil melihat jam weker disamping kanannya.

Jam weker itu menunjukan waktu 05.35 pm.

Soo yoon membereskan barang barangnya, lalu bergegas ke ruangan yunho.

 

Tok tok tok.

Tak ada jawaban dari dalam.

Tok tok tok.

“sajangnim”

Lagi lagi tak ada jawaban.

Soo yoon memutuskan untuk masuk kedalam.

“sajangnim…”

Ia melihat yunho sedang tertidur.

seorang jung yunho tertidur di kantor?

 

Dengan ragu soo yoon mendekati yunho, lalu tersenyum melihat wajah pria itu.

Kesan dinginnya hilang, saat ia sedang tertidur.

Soo yoon menundukan tubuhnya, mencermati wajah pulas yunho.

Ini sudah kedua kalinya  gadis itu melihat wajah yunho yang sedang tertidur, dan wajah polos yunho menjadi favoritnya.

Setelah cukup lama memandang wajah yunho, ia menegakkan tubuhnya. Mengambil jas yang diletakan disandaran kursi, lalu melekatannya dibahu yunho.

Ia berjalan memutari meja, duduk diseberang yunho, kemudian melanjutkan beberapa perkerjaan yunho yang tertunda.

 

************************

Yunho mengangkat kepalanya, lalu mengucek kedua matanya. Merentangkan tubuhnya sebentar, dan akhirnya terkejut karena dirinya masih berada di kantor.

“jam berapa ini?”

“sekarang, hampir jam 9 sajangnim”

“mwo ? kenapa kau tidak membangunkanku?”

“kau tertidur dengan pulasnya tadi, aku tak tega jika membangunkanmu”

Yunho menyandarkan tuburnya kebelakang, “kepalaku pusing sekali tadi”

“jinjja? kenapa tak memanggilku? aku bisa memberimu obat”

Yunho menatap soo yoo yang sedang menatapnya dengan khawatir.

“aku hanya butuh tidur saja”

“kau kurang tidur ya? matamu seperti mata panda, dan tadi kau tidur pulas sekali” tanya soo yoon dengan polosnya.

“ah! Pasti kau bekerja sampai larut malam sehingga kau kurang tidur” sambungnya.

Pria itu tertawa, seandainya ia tahu alasan yunho kurang tidur beberapa hari ini akibat dirinya sendiri.

“ani, aku hanya memikirkan seseorang. Makanya aku tak bisa tidur. Aku lapar, kajja kita pulang”

yunho berdiri dari kursinya, lalu memakai jasnya.

“memikirkan seseorang?”

Soo yoon masih duduk manis, sambil menatap yunho yang berjalan kearahnya.

“siapa yang membuatmu sampai tak bisa tidur?” tanyanya penasaran.

“kau mau tahu ?”

Yunho menundukan tubuhnya, menatap intens wajah soo yoon yang berjarak hanya beberapa centi didepannya.

Soo yoon merasa gugup, bagaimana tidak, wajah yunho berada hanya beberapa centi didepannya. Membuat detak jantungnya tak terkontrol.

“mmmm… sajangnim”

Soo yoon bergerak tak enak di kursinya, tetapi yunho tak bergerak sedikitpun.

“yunho… panggil aku yunho”

“tapi… ini masih dikantor”

“sekarang sudah jam 9, jadi bukan jam kerja lagi. Aku tak suka terlalu formal denganmu soo. Mulai besok, jika kita hanya berdua saja, panggil aku yunho. Ne ?”

“kenapa tidak… oppa saja ? kau… dulu menyuruhku… memanggilmu oppa”

Menyadari kata kata soo yoon yang terbata bata, ia semakin mendekatkan wajahnya.

“aku seperti berpacaran dengan dongsaengku kalau kau memanggilku oppa”

Soo yoon berusaha membalikkan kursinya, untuk menghindari yunho, namun pria itu menahannya.

“tapi aku tak mau memanggilmu hanya dengan yunho kalau berada dikantor”

Yunho memajukan lagi wajahnya, hingga kin hidung mereka saling bersentuhan.

“tidak mau ?”

“yunho… jangan seperti ini”

“memangnya kenapa jika seperti ini? jika kau tidak mau menyetujuinya, aku akan terus begini”

“arra, arra. aku akan memanggilmu yunho”

Yunho tersenyum, mengacak lembut rambut gadis itu, lalu mendaratkan kecupan di keningnya.

“kajja kita pulang” katanya sambil menarik soo yoon.

 

 

Soo yoon hanya menatap yunho binggung, tak menyangka dengan perilaku yunho barusan.

Kenapa pria ini bisa bertindak seperti tadi?

Ting. Pintu lift terbuka, dan yunho merangkul soo yoon untuk masuk kedalam.

“wae ? kenapa dari tadi kau melihatku terus?”

“ah, ani ani”

“aku lapar sekali, bisakah kau memilihkanku tempat makan yang enak ?”

“bagaimana jika makan di apartemenku saja ? aku akan memasak untukmu”

“ide yang bagus”

 

************************

“kau yakin tidak keberatan membawa itu semua ?” tanya soo yoon.

“gwenchana soo”

Sepulang dari kantor, mereka memutuskan untuk berbelanja bahan bahan makanan diminimarket dekat kantor. Dan yunho membawa 4 kantung plastik di masing masing tangannya, sedangkan soo yoon hanya membawa sebuah kantung plastik yang berisi 6 butir telur.

“aku masi bisa membawa 2 kantung lagi”

“ani ani, aku bisa”

ting, pintu lift terbuka dan soo yoon berjalan duluan.

 

“donghae oppa”

Yunho mengangkat kepalanya, dan mendapati donghae sedang berdiri di depan apartemen soo yoon.

Soo yoon berlari kecil menghampiri donghae, “oppa sudah lama menunggu?”

“aku sudah dari jam 7 disini”

“jinjja ? aigoo, kenapa tidak menghubungiku saja ?”

“aku sudah menghubungimu berkali kali, tapi tak ada jawaban”

“ah! Aku lupa, ponselku mati tadi”

Donghae tersenyum menatap soo yoon. Ia sudah tahu kebiasaan gadis ini, lupa mencharge ponselnya.

“kau sudah tidak memakai tongkat ? kau sudah sembuh ?”

“ne, aku sudah bisa berjalan seperti biasa sekarang”

Sebuah suara dehaman, menyadarkan soo yoon bahwa ada yunho dibelakangnya.

“ah iya oppa, aku akan memasak. Kau makan malam saja disini”

Soo yoon membuka pintu, kemudian mempersilakan dua pria dibelakangnya untuk masuk.

“kalian tunggu saja, aku akan memasak”

Soo yoon berlari kecil kearah dapurnya, meninggalkan yunho dan donghae di sofa.

Keheningan melanda dua pria yang sedang sibuk dengan pikiran masing masing.

 

“cina… besok aku akan pergi ke cina”

Yunho menadahkan kepalanya, menatap donghae.

“dan mungkin tidak akan kembali lagi ke seoul”

Yunho hanya diam menatap sahabatnya yang duduk disebrangnya.

“soo yoon… bahagiakanlah dia”

“tanpa kau minta, aku akan membahagiakannya”

Donghae tersenyum tipis, “aku tahu itu”

Ia tahu, yunho seorang pria yang dapat melakukan apapun demi kebahagiaan orang yg dicintainya.

“jangan rindukan aku yunho-ah”

Yunho tertawa, “cih! Kau pikir kau penting untukku!”

“kau lupa saat di inggris dulu, kau selalu mencariku jika kau sedang kesulitan ?”

“itu karena aku tak punya teman yang bisa berfikir logis selain kau. Apa jadinya jika aku mencari heechul jika aku punya sebuah masalah”

Kedua pria itu saling melempar senyuman, mengingat kejadian saat mereka kuliah dulu.

Membuat soo yoon tersenyum dari dapur, setidaknya kedua sahabat itu masih berteman dengan baik sampai sekarang.

 

************************

Soo yoon menaruh beberapa makanan dipiring yunho.

“hey, kau tidak mengambilkan oppamu makanan ?” rengek donghae.

“dasar manja!”

Soo yoon mengambil beberapa makanan, lalu meletakannya dipiring donghae.

“oppa ? sejak kapan ?” tanya yunho dengan memasang wajah cemburu.

“aishh! Kau tak boleh seperti itu adik ipar~”

“cih, aku tak mau punya kakak ipar sepertimu!”

“sudah! Kalian seperti anak kecil saja”

Mereka kembali melanjutkan makannya, sambil sesekali melempar candaan.

 

“cha~~ makanan penutup”

Soo yoon meletakan buah strawberry, lalu duduk disamping yunho.

“kenapa tak duduk disamping oppamu ?” tanya donghae sambil menepuk sofa disebelahnya.

“shireoo~”

“dia lebih memilihku, dari pada oppa palsunya”

Donghae tertawa, lalu kembali makan strawberrynya.

“yoonie-ah, besok aku akan pergi ke cina”

“oh ya, berapa lama ?”

“selamanya… aku akan menetap disana. Aku harus mengurus bisnis baru keluargaku”

Soo yoon terdiam menatap donghae, ia sudah menganggap donghae sebagai oppanya sekarang, dan tak mau kehilangan pria itu.

“jangan sedih, kau masih punya kekasihmu itukan” kata donghae dengan santai sambil menunjuk yunho.

“kau pergi bukan karena aku kan?”

“ani! Jika kau memilihku juga, pada akhirnya aku akan mengajakmu ke cina”

“yak!” protes yunho.

“seandainya yunho-sshi… sudah malam, aku mau pulang”

Donghae beranjak dari duduknya, berjalan menuju pintu yang diikuti soo yoon.

“gomawo sudah memasakanku makanan, ah sepertinya aku akan merindukan masakanmu”

Soo yoon masih terdiam menatap donghae.

“sudah aku pulang, kau masuk sana. Kalau terlalu lama nanti aku bisa dimarahi yunho”

Donghae mengacak lembut rambut soo yoon, lalu berjalan meninggalkan apartemen soo yoon.

“oppa!”

Donghae berhenti, berbalik untuk menatap soo yoon, “ne?”

“gomawo”

“cheonmaneyo”

“tetaplah menghubungiku, ne?”

“arra. Ah, kutunggu kabar bahagia dari kau dan yunho”

Donghae berjalan mundur sambil tersenyum menatap soo yoon.

Setelah berbelok, dan menunggu lift. Senyuman itu berubah menjadi senyuman pahit.

setidaknya, kau menyaksikan dirinya bahagia lee donghae.

pintu lift itu terbuka, lalu donghae berjalan masuk kedalam.

Dan setidaknya kau menunjukan bahwa dirimu baik baik dihadapannya.

 

************************

Setelah menutup pintu, soo yoon berjalan menghampiri yunho yg berdiri disamping sofa.

“wae?”

“aku merasa… aku merasa dia pergi karena, untuk menghindar dariku”

“jadi… kau masih mencintainya ?” tanya yunho ragu ragu.

“ani! Jangan salah paham… aku hanya menganggapnya sebagai seorang oppa, tak lebih… sungguh”

Soo yoon menatap mata yunho, yang sedang menatapnya intens.

Tangan yunho bergerak membelai lembut pipi soo yoon.

“aku ini tipe pria yang egois. Aku mau kau hanya memikirkanku, hanya memperdulikan aku, hanya memperhatikan aku, dan hanya mencintai aku seorang”

“yunho…”

“apapun alasannya dan biar hanya kau menganggapnya sebagai oppa, tetap saja aku tak suka dengan hal itu. Mengingat dia adalah pria yang pernah berharga di masa lalumu soo”

“aku mengerti…”

Dengan ragu ia memeluk yunho, mencoba meyakinkan pria itu kalau hanya dialah yang dicintainya.

Soo yoon memejamkan mata, merasakan kehangatan pria yg dipeluknya dan sedang memeluknya.

“aku mencintaimu… jung yunho” bisiknya dengan sangat pelan.

Namun bisikan itu terndengar dengan jelas ditelinga yunho.

Membuat jantung pria itu berdetak dengan kencangnya.

Hanya dengan 2 kata yang di ucapkan soo yoon, membuat yunho hampir tak bisa mengontrol dirinya.

Yunho mengeratkan pelukannya, tangan kirinya membelai lembut rambut panjang soo yoon.

Sebuah kecupan mendarat di dahi soo yoon, “aku juga mencintamu… park soo yoon”

 

************************

“sudah jangan menangis” ucap donghae.

Soo yoon memaksa untuk mengantarkan donghae sampai bandara. Tentunya dengan ditemani oleh yunho, dan sekarang gadis itu menangis karena perpisahannya dengan donghae.

“hey! Ayolah yoonie, berhenti menangis sebelum yunho membunuhku”

Gadis itu melirik pria yang sedang menatapnya tajam.

“arra arra, aku tidak akan menangis lagi” ucapnya yang lalu menghapus air matanya.

“aishh, kau menjadi penurut kalau berhubungan dengan yunho”

Soo yoon tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya, “pelukan perpisahan!”

“mwo?” teriak yunho disamping soo yoon.

“eishh, kau ini senang sekali membuat aku tak nyaman dengan yunhomu yoonie!”

“boleh ya ? hanya sekali saja, inikan sebuah perpisahan. Jeball yunho-aahh”

“tidak!”

“ayolah, ini yang terakhir kalinya”

Yunho mendengus, “baik! Hanya satu menit, tidak lebih!”

Pria itu berbalik, dan berjalan beberapa langkah menjauh dari donghae dan soo yoon.

Yunho bersumpah didalam hatinya, ini terakhir kalinya ia membiarkan pria lain menyentuh soo yoon.

 

“kau tidak mau memelukku ? yunho sudah mengijinkannya”

Donghae memajukan langkahnya, lalu memeluk soo yoon. Memeluknya erat, karena ini adalah sebuah pelukan terakhir. Aku mencintaimu yoonie… dan selamanya akan seperti ini.

“jaga dirimu baik baik, dan berjanjilah kau akan bahagia”

“justru aku yang seharusnya seperti itu. carilah gadis disana, kudengar gadis cina itu cantik cantik oppa”

“tapi tak ada yang secantik dirimu”

“yak! Aku serius!”

“baiklah… aku akan mencari gadis disana. Kalau dia lebih cantik darimu, jangan iri saja”

Soo yoon melepas pelukannya, “tidak akaan!”

“jika pria itu menyakitimu, katakan padaku. Dengan senang hati aku akan pulang ke seoul untuk memukulnya” ucp donghae sambil menunjuk yunho yang sedang memunggungi mereka.

“aigoo, benar benar seperti seorang oppa yang galak”

“hey tuan jung yunho! ini sudah semenit lebih, kalau kau tidak kembali, aku akan membawa soo yoonmu pergi”

Yunho berbalik, dan menatap tajam donghae “coba saja kalau kau berani”

“aishh, aku hanya bercanda. Sudah aku pergi dulu, sampaikan salamku kepada heechul”

Donghae memeluk yunho sekilas, “sampai jumpa lagi”

Ia menarik koper kecilnya, berjalan menuju terminal keberangkatan.

“hati hati oppa” teriak soo yoon sambil melambaikan tangannya yang dibalas oleh donghae dari kejauhan.

“hari ini… hari terakhir kau menangisi pria lain, dan hari terakhir kau disentuh pria lain soo”

Soo yoon menatap yunho yang sedang menatapnya intens.

“iya, hari ini terakhir yunho-ah. besok dan seterusnya, hanya kau yang kutangisi dan kubiarkan menyentuhku”

“sayangnya aku tidak akan membiarkanmu menangis karenaku, kecuali menangis karena bahagia. Sudah, kajja kita pergi”

 

************************

Kini sudah sebulan mereka menjalin hubungan. Mencoba saling mengenal satu sama lainnya.

Yunho sudah mulai mengetahui kebiasaan dan sifat sifat soo yoon, begitu juga sebaliknya.

“ini kopinya, sajangnim”

Soo yoon meletakan cangkir berisi kopi hitam itu di atas meja kerja yunho.

“gomawo” jawab yunho.

“kau sedang mengerjakan apa? Perlu ku bantu?”

Soo yoon menundukan kepalanya, menatap layar laptop yunho. mencoba melihat apa yang dikerjakan prianya.

 

Cup~

Sebuah kecupan mendarat di pipi kanannya, membuatnya mengalihkan pandangannya kearah pria yag sedang tertawa puas.

“dasar mesum!”

“hey, kau yang membuatku berbuat mesum”

“aish! Kalau begitu aku pergi saja”

Soo yoon berbalik dan hendak berjalan meninggalkan yunho, tetapi yunho menarik tangannya membuat soo yoon jatuh diatas pangkuannya.

“yak! yunho-ah…”

“pekerjaanku banyak sekali. Aku lelah” ucapnya.

Yunho memeluk soo yoon, lalu meletakan dahinya dibahu soo yoon.

“pria yang gila kerja sepertimu bisa berbicara seperti itu?”

Yunho tertawa, sebenarnya dia sudah terbiasa dengan perkerjaannya. Namun ia hanya menggunakan alasan itu untuk bermanja manja dengan soo yoon.

“aku hanya manusia biasa”

“arra arra, kau sudah bekerja selama 10 jam, dan hanya beristirahat 30 menit”

Tangan kanannya membelai lembut rambut yunho, lalu tangan kirinya mengusap punggung yunho. mencoba membuwat pria itu relax.

“parfummu, seperti parfum anak kecil. Tidak ada wanita dewasa yang memakai parfum wangi strawberry”

“kalau kau tak suka, kau tak perlu dekat dekat denganku”

“kau yang ingin berdekatan denganku”

“mwo? Aigoo, yang memelukku kau dulu tuan jung yunho”

Soo yoon berusaha mendorong yunho, namun yunho semakin erat memeluknya.

 

Terdengar suara buka pintu, membuat sepasang kekasih itu mengalihkan pandangannya kearah pintu.

Seorang pria berdiri diambang pintu, memandang yunho dan sooyoon sengit.

“hyung!” serunya.

Soo yoon mendorong yunho, dan langsung berdiri lalu berpura pura membereskan meja kerja yunho.

“apa? Kau menyalahkanku karena aku bermesraan di kantor? Ini ruanganku, aku bebas melakukan apa saja, salah kau sendiri tidak mengetuk pintu terlebih dahulu”

“mwo? Akan ku adukan hal ini dengan paman!”

“adukan saja, akan kuberitahukan ayahmu kau menyerahkan mobil barumu ketemanmu karena kau kalah bermain game”

Pria tinggi itu mengumpat kesal, berjalan kearah yunho dan duduk dihadapan yunho.

“bagaimana kau tahu? Hal itu?”

Yunho tersenyum mengeluarkan smirknya, “semua hal dapat ku ketahui dengan mudah”

“dasar tukang pamer!”

Changmin menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, dan melirik soo yoon yang berdiri disamping yunho.

“dia sekretarismu kan? Kenapa kau bisa memeluknya? kau ada hubungan apa dengan sekretarismu? Aigoo hyung, ternyata kau merayu sekretarismu ya?”

“jaga bicaramu, dia calon kakak iparmu!”

“mwo? lalu Ahra noona?”

“aku sudah tidak berhubungan dengannya lagi. Ah chagiya, ku rasa kau tidak perlu mengenalnya, karena kau pasti akan menyesal nanti” kata yunho sambil menarik tangan soo yoon.

“mana bisa seperti itu! perkenalkan, aku sepupu dari jung yunho, shim changmin imnida” ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya

“park soo yoon imnida”

Soo yoon mengulurkan tangannya, namun tangannya ditarik oleh yunho.

“tidak perlu berjabat tangan. Changmin-ah, untuk apa kau kesini ?”

“ishh, kau berlebihan. Appaku menyuruhku untuk bekerja membantumu”

“ah jadi paman menyuruhmu untuk menjadi pembantuku begitu?”

“bukan seperti itu!”

“lalu?”

“kau terlalu menggunakan kata negatif hyung! Kata ayah, aku harus belajar banyak darimu sebelum aku memegang kendali perusahaan ayah!”

“arra arra, bagus kalau kau ada disini. Jadi aku punya banyak waktu luang bersama dengan soo yoon”

“hyung!”

Secara tiba -tiba ponsel yunho bergetar, soo yoon mengambil ponsel tersebut dan menatap layar yg sedang berkedap kedip itu.

“ibumu” ucapnya.

“ibuku ?”

Dengan terburu buru yunho mengangkat telefon dari ibunya.

“yeoboseyo”

‘yunho, besok kau harus pulang kerumah ibu’

“untuk apa?”

‘kenalkan kekasih barumu padaku’

“mwo? Bagaimana ibu bisa tahu?”

‘sudah kau tak perlu tahu, besok kau harus datang”

Nyonya jung memutuskan hubungan telefonnya.

Yunho menatap soo yoon, “besok kita kerumah orang tuaku soo”

 

************************

Sebuah mobil Ferrari merah berhenti didepan sebuah pekarangan yang besar.

“sudah sampai. ayo kita turun, ibu dan adikku sudah menunggumu”

Soo yoon turun dari mobil mewah itu, memandang takjub rumah didepannya.

Sebuah rumah mewah yang bergaya minimalis, dengan nuansa warna putih gading.

Yunho menarik soo yoon untuk masuk kedalam rumah mewah itu.

Dipintu masuk, terdapat beberapa pelayan yang menunggu.

“selamat siang tuan, dan nona”

Seorang pria berjas hitam menyambut mereka.

“ahjusshi~” panggil yunho.

“nyonya dan nona jihye sudah menunggu di taman belakang”

“oh baiklah, aku akan kesana”

Yunho mengeratkan genggamannya terhadap soo yoon, lalu mengajak gadis itu ketaman belakang rumahnya dengan melewati samping rumahnya.

“taman rumahmu bagus” komentar soo yoon.

“ibu yang mengurusnya sendiri. ah itu ibu! Ibu~!”

Soo yoon melihat seorang wanita yg sedang duduk di sebuah ruangan yang terdapat meja putih bundar dan beberapa kursi mengelilinginya. Disekitarnya terdapat bunga mawar yang melingkari sekitar meja kursi itu.

“ibu~!” panggil yunho yang langsung berlari, dan memeluk ibunya dari belakang.

Soo yoon terkejut dengan tingkah laku yunho, ia berhenti agak jauh dari tempat nyonya jung.

“jangan terkejut kakak ipar, yunho oppa memang orang yang manja. Hanya ia menyembunyikannya saja diwajah dinginnya”

Soo yoon berbalik, dan mendapati seorang gadis yang berdiri dibelakangnya. Kelihatannya gadis itu sebaya dengannya, dan wajah gadis itu sangat mirip dengan yunho, seperti duplikatnya yunho.

“aku jung jihye, adik dari pria manja itu”

Ji hye menunjuk yunho yang sedang disuapi sebuah kue oleh nyonya jung.

“aku park soo yoon, senang bertemu denganmu” ucap soo yoon dengan tersenyum manis.

“ternyata benar kata oppa, senyummu itu manis dan indah, membuat orang akan ikut tersenyum jika melihatnya”

“ne?”

“oppaku banyak menceritakan tentangmu, dan rata rata semua ceritanya tentang kekagumannya terhadap dirimu”

“aku mendengar ucapanmu jung jihye!”

Yunho menghampiri jihye dan soo yoon, “ibu mau bertemu denganmu”

Soo yoon mengikuti yunho untuk bertemu dengan nyonya jung, tangannya mengenggam tangan yunho dengan erat.

“ibu~”

Seorang wanita separuh baya berdiri, dan berbalik menatap soo yoon.

Cantik, itulah kesan pertama yang soo yoon berikan untuk nyonya jung.

Wajah wanita itu memang sudah ada beberapa kerutan, tapi itu tak membuat kecantikannya hilang. Dandanannya yang sederhana namun elegan itu nilai tersendiri untuknya.

“bukankah dia sekretarismu?” tanyanya dengan tersenyum ramah.

Soo yoon semakin mengeratkan genggamannya, ia takut nyonya jung menolaknya karena ia hanya seorang gadis biasa.

“iya, dia sekretarisku. Ibu, jangan tanya seperti itu. ia mengenggam tanganku sangat erat”

Yunho mengangkat tangannya yang sedang mengenggam tangan soo yoon, membuat gadis itu tersenyum malu.

“tak apa jika kau sekretarisnya yunho, dulu juga aku adalah sekretaris ayahnya yunho”

Nyonya jung berjalan menghampiri soo yoon, dan merangkulnya lembut.

“kajja, kita duduk” ajaknya lembut.

Soo yoon menurutinya, dan berjalan menuju kursi itu.

“ayahmu menunggumu diruang kerjanya, cepat kesana”

“aishh, tak bisakah aku libur sehari saja dari pekerjaan” gumannya yang langsung berjalan meninggalkan ibunya, jihye dan soo yoon.

“jangan tegang, santai saja”

Nyonya jung mengusap punggung soo yoon.

“aku… aku tak menyangka akan bertemu dengan nyonya”

“panggil aku ibu saja, bukankah sebentar lagi kau akan jadi menantuku”

Soo yoon tersenyum, dan berusaha untuk membuat dirinya rilex.

“memangnya yunho tak berbicara kepadamu, bahwa kau akan bertemu denganku ?”

“ani, yunho baru berbicara tadi. Sehabis kami mengantar teman kebandara”

“aishh anak itu, ia berkata kau sudah siap bertemu dengan kami”

Soo yoon tersenyum, “tak apa ibu, aku suka diberi kejutan”

“kau memang gadis yang baik, sekarang ceritakan tentangmu terhadapku dan jihye”

 

************************

Suara tertawa terdengar dari taman belakang rumah mewah itu. Sesekali terdengar suara cipratan air.

Yunho mempercepat langkahnya untuk mengetahui apa yang terjadi.

Ia tersenyum mendapati 3 wanita terpenting didalam hidupnya sedang bersenda gurau di pinggir kolam berenang sambil mencelupkan kaki mereka.

Soo yoon yang duduk di antara ibu dan adiknya sudah terlihat lebih santai, dan terlihat ibu dan adiknya menerima dengan baik soo yoon.

Yunho mendekat, dan mendengar pembicaraan mereka.

“lain kali kau harus ajak ibu” ucap nyonya jung.

“aku juga, kau harus mengajakku juga”

“ne, aku akan mengajak ibu dan jihye”

Yunho tersenyum, “kau tidak mengajakku ?”

Ketiga wanita itu serentak mengalihkan pandangannya kebelakang, dan menatap ragu yunho.

“sejak kapan oppa ada disitu ?” tanya jihye.

“sejak tadi. Kalian membicarakan apa sampai sampai kalian tidak menyadariku kehadiranku ?”

“rahasia!” jawab mereka serentak.

“aishh. kalian bersengkokol saja”

“ah ibu~ sudah waktunya makan malam. Biar aku yang memasak untuk kalian”

“mwo ? aigoo, tak perlu repot repot soo-ya. Kau kan tamu disini”

“sudah tak apa ibu, aku suka memasak. Oh iya dimana dapurnya ?”

Yunho menyuruh seorang pelayan untuk menunjukan soo yoon dimana letak dapurnya, dan soo yoon pamit pergi mengikuti pelayan itu.

 

“yunho, tak seharusnya kau menyetujui ide soo yoon. Dia kan tamu disini”

Nyonya jung berdiri dari tempatnya, dan jihye juga melakukan hal yang sama.

“ibu, aku ingin menunjukan kepada kalian. Salah satu alasan mengapa aku begitu mencintainya. Jadi, biarkan soo yoon memasak untuk kalian”

************************

Soo yoon mengigit bibir bawahnya, saat keluarga yunho mulai mencicipi masakannya.

Takut jika masakannya tidak enak.

Soo yoon memandang pria disampinnya, tangan pria itu mengenggam tangannya erat. Seakan akan mencoba menenangkan hatinya.

Jihye memasukan makanan kedalam mulutnya, mengunyah makanan itu agak lama.

“enak! Aku suka masakanmu. Aigoo oppa, kau pintar mencari seorang istri!”

Jihye melahap makanannya dengan lahap.

Soo yoon menghela napas lega, dan tersenyum menatap jihye.

“kau benar jihye, makanan ini sangat enak”

Soo yoon mengalihkan pandangannya ke nyonya jung, wanita itu tersenyum puas menatap soo yoon.

“gamshamnida. Masakanku biasa saja, ibu”

“ayaah” panggil yunho.

Seorang pria separuh baya yang duduk ditengah tengah itu makan dalam keadaan diam.

Ini pertama kalinya bagi soo yoon melihat mantan pemilik tertinggi perusahaan jung corporation., yang sekarang jabatan itu dipegang oleh putra sulungnya, jung yunho.

Kini soo yoon tau darimana wajah tegas yunho berasal. Rahang tegasnya, matanya yang tajam, serta hidungnya yang mancung diwarisinya dari tuan jung.

Tuan jung tetap diam, membuat soo yoon semakin gugup.

“yeoboo, berkatalah sesuatu” ucap nyonya jung.

Tuan jung hanya tersenyum tipis, “aku suka masakanmu”

soo yoon tersenyum lebar sekaligus lega karena keluarga yunho menyukai masakannya.

“gamshamnida, tuan jung”

“hey, kau sudah memanggilku ibu. Jadi kau harus memanggil suamiku appa”

Soo yoon memandang ragu tuan jung.

“panggil aku apa saja yang membuatmu nyaman”

“ne… ayah…”

Yunho tersenyum, ia yakin bahwa keluarganya akan mudah menerima soo yoon. Seperti dirinya yang mudah mencintai gadis itu.

 

************************

Setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga.

“yunho, ikut ibu sebentar” perintah nyonya jung.

Nyonya jung berdiri, lalu meninggalkan ruang keluarga yang diikutin yunho dibelakngnya.

“ibu kau mau mengajakku kemana ?” tanya yunho sambil mensejajarkan langkahnya dengan nyonya jung.

Wanita separuh baya itu hanya tersenyum sekilas, lalu masuk kedalam kamarnya.

“kau tunggu disini, ibu akan mengambilkan sesuatu untukmu”

Yunho menganggut dan duduk di sofa kamar mewah itu.

Nyonya jung masuk kedalam sebuah ruangan yang berada di kamar itu.

Beberapa menit kemudian ia keluar dengan membawa kotak berwarna merah, dan duduk disamping yunho.

“ini, berikan ini kepada soo yoon”

Yunho mengambil kotak itu, lalu membukanya.

“ibu, ini…”

“cincin turun temurun dari keluarga ayahmu”

Yunho memandang ibunya tak percaya, “ibu… belum sehari kau mengenalnya, kau sudah memberikan ini padanya ?”

Yunho memandang lagi cincin dengan berlian berbentuk kupu-kupu itu. cincin itu adalah cincin turun termurun dari keluarga ayahnya. Biasanya cincin itu diberikan kepada istri dari putra keluarga jung.

“memang belum sehari, tapi ibu sudah merasa yakin dengannya”

Yunho tertawa, “bahkan ahra yang sudah kau kenal selama 5 tahun lebih saja, tak kau berikan cincin ini waktu itu ibu”

Dulu nyonya jung, tidak memberikan cincin itu terhadap ahra. Walaupun gadis itu sudah bertunangan dengan ahra.

“ahra dan soo yoon berbeda. Kurasa kaupun juga sangat tahu dengan hal itu. jadi kau tahu alasan ibu kenapa ibu memberikan ini kepada soo yoon sekarang”

“arraso, tapi bagaimana dengan ayah ?”

Nyonya jung tertawa, “ayahmu itu sangat suka dengan gadis yang bisa memasak. jadi, ia pasti setuju dengan ini. lagi pula tadi saat menunggu makan malam, ibu sudah membicarakan ini dengannya”

“aku senang kalian menyukainya”

Yunho bergerak, lalu memeluk ibunya.

“cepat menikahlah. Ibu ingin menimang cucu”

“arra araa”

************************

“sepertinya kau sudah mencuri perhatian keluargaku, dengan masakanmu”

Soo yoon menegakkan tubuhnya, menatap yunho, “benarkah?”

Yunho kembali menatap langit didepannya, “jujur saja, sebenarnya dulu hubunganku dengan ahra tak direstui keluargaku”

Pria itu menerawang, memikirkan masa lalunya. Bagaimana dengan keras kepalanya ia tetap mempertahankan hubungannya dengan ahra, walaupun keluarganya sudah melarang.

Soo yoon hanya diam memandang yunho.

“aku pria keras kepala, tak memperdulikan perkataan keluargaku. Ternyata seperti itu akhirnya. Kurasa itu balasan yang diberikan tuhan padaku karena melawan orang tuaku”

“tapi… kau kan sudah tunangan dengannya”

“bukankah sudah kubilang, aku pria keras kepala?”

Soo yoon tertawa, lalu melihat langit gelap yang penuh dengan bintang didepannya.

“ini sudah tengah malam, pulang lah keapartemenmu tuan jung”

Setelah pamit pulang dari kediaman keluarga jung, yunho memaksa untuk mampir terlebih dahulu diapartemen soo yoon.

“pemandangan dibalkonmu indah”

“mwo ? yaa, apartemenmu juga punya balkon yunho-ah”

“tapi tak seindah jika ada dirimu soo”

“eishh, gombal saja!”

Yunho tertawa sambil menatap intens soo yoon.

“disini dingin sekali”

Soo yoon merapatkan tubuhnya ketubuh yunho, sambil mengosok gosokan dan meniup niup tangannya. Ia juga menaikan kakinya keayunan yang didudukinya bersama yunho.

“soo”

“ne?” soo yoon mendongakkan kepalanya dan mendapati wajahnya hanya berjarak beberapa senti dengan yunho.

Tangan yunho bergerak memegang dagu gadisnya.

Entah siapa yang memulai duluan, kedua bibir itu sudah bersentuhan, saling melumat satu sama lain.

Yunho menurunkan tangannya, melingkaran tangannya dipinggang soo yoon, lalu menarik soo yoon agar lebih merapat lagi dengannya.

Tangan kiri soo yoon sendiri melingkar dileher yunho, dan tangan kanannya membelai lembut pipi yunho.

Yunho memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciumannya.

Bunyi suara kecapan terdengar dengan jelas dari balkon apartemen mewah itu.

Merasa soo yoon sudah mulai kehabisan napas akibat ciumannya yang sedikit panas, yunho menarik bibirnya lalu menempelkan dahinya kepada dahi soo yoon.

Soo yoon menghirup napas dalam dalam.

“ciuman pertamamu?” goda yunho.

“dari mana kau bisa menyimpulan seperti itu?”

“kau sangat kaku saat berciuman tadi”

“jung yunho!”

Soo yoon mendorong pundak yunho, lalu melipat kedua tangannya didepan dada.

Yunho tertawa, lalu memeluk kembali soo yoon dan kembali menempelkan dahinya di dahi soo yoon..

“jawab saja pertanyaanku tadi”

“yang seperti tadi… itu… itu memang pertama kalinya untukku”

Semburat merah muncul dikedua pipi soo yoon.

“tapi bukannya kau sudah pernah berciuman dengan donghae?”

“mwo? Bagaimna kau tahu?”

“aku melihat semua. Dimana ia menyatakan cintanya padamu, dan… dimana ia menciummu”

“maaf” bisiknya sambil membelai pipi yunho.

“gwechana. Itu… itu ciuman pertamamu?”

“itu ciuman keduaku…”

“benarkah ? lalu siapa yang merebut ciuman pertamamu?”

“kau tidak ingat ?”

Yunho mengangkat kepalanya sedikit , ia berfikir sejenak dan dahinya mengeluarkan kerutan.

“malam itu… saat aku bertemu kau disebuah club malam dalam keadaan mabuk berat, dan akhirnya aku mengantarkanmu pulang. Saat aku akan pulang, kau menarikku, dan menciumku agak kasar”

Yunho mencoba mengingat ingat kejadian itu.

“saat pagi harinya aku nemukan dirimu didalam pelukanku?”

Soo yoon menganggut, “jadi kau ingat sekarang?”

“aku ingat…. dan aku tak menyesal melakukannya”

“mwo ? kenapa begitu ?”

“aku senang, karena aku yang mengambil ciuman pertamamu. Ah… seandainya waktu itu aku bergerak, donghae tak akan merebut ciuman keduamu. Pasti hanya aku, pria yang menciummu”

Soo yoon memukul bahu yunho, “yak! Pada waktu itu aku sedih karena sebelum dan sesudah kau menciumku… kau menyebutkan nama ahra”

Terdengar nada kesedihan dari gadis itu, membuat yunho merasa bersalah.

“maaf… maafkan aku…”

Soo yoon tersenyum, “gwenchana, itu masalah lalu”

Tangan kanan yunho bergerak mengambil kotak kecil dikantung celananya. Membuka kotaknya lalu mengambil cincin tersebut.

Tanpa sepengetahuan soo yoon, yunho memakaikan cincin itu dicari manis gadis itu.

“cincin itu bagus untukmu”

“mwo?”

Soo yoon mengangkat tangan kanannya, dan melihat sebuah cincin dengan berlian berbentuk kupu kupu.

“aku tak pernah punya cincin seperti ini”

Ia menatap ragu yunho yang sedang tertawa.

“aku yang memakaikan cincin itu tadi. Aigoo, kau tidak merasakannya?”

“tidak. Untuk apa kau memberiikan ini untukku?”

“itu cincin turun temurun dari keluargaku. Ibu yang memberikannya kepadaku tadi. Jadi cincin itu di peruntukan untuk istri dari anak laki laki keluargaku”

“tapi aku bukan istrimu”

“memang untuk sekarang bukan, tapi akan menjadi istriku kan?”

“jadi kau melamarku sekarang?”

Yunho tertawa, kali ini lebih keras dari sebelumnya. “kau ingin aku melamarmu sekarang? Baiklah, park soo yoon would u marry me?”

“bukan! Bukan itu maksudku”

“tapi aku sudah melamarmu, jadi kau harus jawab pertanyaanku sekarang”

Soo yoon terdiam, antara terkejut dan senang dengan lamaran yunho barusan.

Namun hal ini terlalu cepat untuknya, baru sebulan ia menjalin hubungan dengan yunho, dan ia belum kenal yunho 100%,

“sudah aku pulang dahulu, selamat malam soo”

Yunho mengecup kening soo yoon lalu meninggalkan gadis yang masih sibuk dengan pikirannya.

 

************************

Soo yoon melirik jam meja disebelahnya, jam menunjukan 01.00 am.

Ia kembali menatap ponselnya, lalu menghela nafas.

Ada perasaan bersalah, karena ia tak menjawab pertanyaan yunho tadi.

Akhirnya ia memutuskan untuk menelefon yunho.

‘yeoboseyo’

Soo yoon terdiam mendengar suara yunho.

‘soo~ ada apa?’

“kau… kau belum tidur?”

Terdengar suara yunho tertawa, ‘kalau sudah tidur aku tidak akan mengangkat telefonmu’

Soo yoon memukul kepalanya sendiri, merasa bodoh dengan pertanyaannya tadi.

“mengenai pertanyaanmu tadi, aku…”

‘aigoo, kau masih memikirkan lamaranku tadi?’

“aku merasa tak enak denganmu, karena aku tidak menjawabnya tadi”

‘gwenchana, aku mengerti. Sudah jangan pikirkan lamaranku tadi. Aku hanya mengodamu saja’

“ck! Aku sudah merasa tak enak, kau malah hanya mengodaku”

‘aku tahu, kau terlalu polos soo”

“aisshh!”

‘sudah jangan pikirkan apapun, kau lebih baik tidur sekarang ne?’

“ne arasoo”

‘selamat malam, jaljayo’

“ah yunho-ah!”

‘ada apa lagi? Kau mau bilang ‘aku mencintaimu jung yunho’ begitu ?’

“ani! Terima kasih… terima kasih untuk cincinnya”

‘ne. sudah sana tidur. Besok pagi pagi aku akan ketempatmu untuk sarapan’

Yunho memutuskan telefonnya, “aku mencintaimu yunho-ah”

Gadis itu tahu bahwa yunho sudah memutuskan sambungan telefonnya, dan ia sengaja melakukannya.

 

************************

“yunho-ah, irrona” bisik soo yoon.

Gadis itu sudah terbangun pagi pagi sekali, dan membuat sarapan untuk yunho.

Sekarang sudah hampir setengah jam ia berada di kamar yunho untuk membangunkan pria itu, namun pria itu tak kunjung bangun.

“yunhooo, ayo bangun~”

Soo yoon mengoyangkan tubuh yunho, agar pria itu terbangun.

Ia mengacak rambutnya frustasi, karena yunho masih memejamkan matanya.

“yunho! bangun! Atau aku akan menyirammu”

Yunho membuka matanya, melihat soo yoon sedang berdiri disamping ranjangnya.

Ia tertawa lalu merubah posisinya menjadi duduk.

“kau galak sekali”

“mwo ? tadi aku sudah membangunkanmu dengan cara lembut, tapi kau belum bangun”

“kau perlu memberikanku morning kiss terlebih dahulu baru aku akan bangun”

“aku tak mau! Aku sudah menyiapkanmu sarapan”

“aku tidak mau beranjak dari ranjang kalau ku tak menciumku terlebih dahulu”

“aku tetap tidak mau”

“ya sudah aku tidur lagi”

Yunho merebahkan kembali tubuhnya, dan memunggungi soo yoon.

Soo yoon terdiam menatap punggung yunho, ia menghela nafas pelan.

Dengan ragu ia duduk di atas ranjang yunho,.

“eishh” gumannya.

Dengan cepat, ia menundukan tubuhnya mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanan yunho, kemudian berlari meninggalkan kamar.

Yunho membalikan tubuhnya, dan tersenyum menatap soo yoon yang berlari menjauh dari kamarnya.

 

“tadinya aku tidak mau hanya dicium dipipi, tapi karena aku lapar, ya sudah aku terpaksa keluar kamar” ucap yunho sambil menarik kursi disamping soo yoon.

“kalau tahu seperti itu, tadi aku tidak menciummu, tuan penuh keinginan”

Yunho mengacak lembut rambut soo yoon, “aigoo, jangan marah. Kau jadi jelek kalau kau marah”

Soo yoon memberikan yunho sebuah piring yang berisi roti panggang.

“aku sudah memperkenalkanmu dengan orang tuaku, kapan kau memperkenalkanku dengan orang tuamu ?”

“orang tuaku sudah meninggal saat aku berumur 5 tahun”

“mianhae, aku tidak tahu”

“gwenchana. Tapi aku punya paman dan bibi yg mengurusi aku dari kecil”
yunho menggenggam tangan kiri soo yoon, “perkenalkan aku pada mereka”

“mereka tinggal di pulau jeju”

“sepertinya aku ada jadwal ke pualu jeju hari kamis minggu depan bukan ?”

“ne”

“kalau begitu, sekalian saja kita mengunjungi paman dan bibimu”

Soo yoon menganggut senang, sudah lama ia tidak pulang untuk bertemu dengan paman bibinya.

“aku sudah lama tidak kesana”

Yunho tersenyum, membelai lembut pipi soo yoon.

“kau mau susu strawberry ? biar aku ambilkan”

Soo yoon berdiri untuk mengambil susu strawberry di kulkas, sedangkan yunho kembali melanjutkan sarapannya.

 

TBC~

All about my fandom n my bias *new*

annyeong.

lama tak berjumpa ne ?

ahahahahahah.

aku mau memper barui artikel ini :

http://parksooyoonworld.wordpress.com/2011/06/10/all-about-my-bias-%E2%99%A5/

 

setelah melalui proses yg panjang *halah.

akhirnya aku sekarang hanya punya SATU BIAS dan SATU FANDOM.

mau tau gak ? < sok penting. lol

 

okey kita ke fandom dulu ya.

MY FIRST n MY LAST FANDOM is…………..

CASSIOPEIA~!

berbagai alasan aku memilih fandom yg indentik dengan merah ini.

yg paling utama karena aku begitu nyaman ada di fandom ini.

gak ada beban seperti “ex-fandom” ku dulu.

akupun cocok ada di fandom ini, really proud to be an CASSIOPEIA.

dan hal sepelenya, ya karena my only bias ada disini.

 

 

oke kita lanjut ke MY ONLY BIAS.

siapakah dia ?

 

JUNG YUNHO ~!

sang kepala suku (?) dari CASSIOPEIA.

for this, i cant explain how much i love him.

no matter what happen, i’ll still love, support, n stand beside him until end.

n for me, he’s a PERFECT GUY <3

 

 

oke sekian dulu tulisan singkat saya.

kalo ff yaa maklumin aja yaa.

bagi seorang pegawai kantor yg harus kuliah malem kan waktunya sedikit yaa.

ahahahahhaah.

tapi aku usahakan akan publish ff2ku kok, walau waktunya lama *banget*

 

oh ya 1 lg.

kalo nemukan anak ini nih

 

u-know who kan ?

harap maklum ya, soalnya dia suka goda godain saya.

ahahahahah

 

I LOVE U, MY BOSS! *PART 7*

 
PART 1:
http://parksooyoonworld.wordpress.com/2011/06/02/i-love-u-my-bos-part-1/
PART 2:
http://parksooyoonworld.wordpress.com/2011/06/10/209/
PART 3:
http://parksooyoonworld.wordpress.com/2011/06/14/237/
PART 4:
http://parksooyoonworld.wordpress.com/2011/06/19/i-love-u-my-bos-part-4/
PART 5:
http://parksooyoonworld.wordpress.com/2011/07/17/i-love-u-my-boss-part-5/
PART 6:
http://parksooyoonworld.wordpress.com/2011/12/30/i-love-u-my-boss-part-6/

Cast:
 Park Soo yoon
 Jung Yunho
 Lee Donghae

Support Cast:
 Kim Heechul Super Junior
 Go Ara
 Cho Taehyun

halooooo.
aku datang dengan pusblish ff nih.
duh mau minta maaf gara2 ff ini laaamaaaa sekali publishnya juga, aku gak enak.
tp maaf yaa kalo ini ngaret mulu.
dan mungkin ff ini 1 atau 2 part lg selesai.

====================================================================

Part 7

“chakaman” teriak yunho yg membuat soo yoon menghentikan langkahnya.
Yunho merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sebuah kunci.
“aku sudah membelikanmu sebuah apartemen tepat di seberang apartemenku. Terserah, kau ingin menggunakannya atau tidak, yg pasti apartemen itu milikmu” ucapnya dengan dingin.
Ia meletakkan kunci itu di meja yg berada di sampingnya, lalu berjalan masuk kedalam kamar.
Soo yoon hanya diam menatap kunci d atas meja itu.
‘apa aku harus menerimanya ?’ tanyanya dalam hati.

You’re my melody noreul yonjuhalgge
On&On non naye norae nae salme Soundtrack
insaengyi mudael bal-khyoju-neun noreul saranghae
(tto bullojullae) non naye norae

Ponsel soo yoon berbunyi.
“cho taehyun” sebuah nama yg tertera di layar ponsel yg berkedip itu.
“yeoboseyo ?”
‘hoamm, kau jadi tidak kesini ? ini sudah jam 2 lewat, aku juga butuh tidur’
“aku binggung”
‘apa yg kau binggungkan ? binggung akan jalan kerumahku ?’
“bukan itu”
‘lalu ?’
“yunho oppa…. dia membelikanku sebuah apartemen”
‘mwo ?’
“aku binggung, harus menerima’na atau tidak”
‘terimalah saja, tidak baik menolak pemberian orang lain’
“tapi…”
‘mungkin itu merupakan fasilitas kantor yg di berikan kepadamu. Sudah terima saja’
Soo yoon menghela napas.
“ne, aku akan menerimanya”
‘bagus ! sudah aku mau tidur dulu”
Taehyun mematikan ponsel’na.
Dengan ragu soo yoon mengambil kunci apartemen itu, lalu masuk kedalam kamarnya.

*****************************************

Yunho membuka matanya dengan terpaksa setelah alarmnya berbunyi.
Jam tepat menunjukan pukul 06.30am.
Ia merubah posisinya menjadi duduk, dan mengucek kedua matanya.
Baru 2 jam ia memejamkan matanya.
Pikirannya sibuk memikirkan sekretarisnya.
Dengan malas ia beranjak keluar kamar, dan mendapati di atas meja makan terdapat sarapan.
Ia menaikan satu alisnya, lalu berjalan menuju sebuah kamar di samping kamarnya.
“soo” panggilnya didepan pintu.
Hening. Tidak ada jawaban dari dalam.
“soo yoon” panggilnya lagi.

Setelah menunggu lama, akhirnya ia membuka pintu kamar dengan perlahan.
Kamar itu bersih dan rapi, seperti tidak ada yang menepati.
Ia mendekati lemari pakaian, dan membukanya.
Tidak ada sehelai pakaianpun di dalamnya.
“ia sudah pindah ?” gumannya yg lalu berjalan keluar kamar.

Klik.
Pintu apartemennya terbuka, begitupun juga pintu apartemen tepat disebrangnya.
Yunho terpaku melihat soo yoon yg juga ada didepan apartemennya.
Mereka terdiam sesaat, hanya saling memandang.
“an… annyeong oppa” sapa soo yoon.
Yunho masih terdiam.
“aku… aku putuskan untuk tinggal disini… mungkin selama aku…”
“kau boleh tinggal disini selama kau mau, apartemen ini milikmu. Nanti saat dikantor aku akan memberikan surat kepemilikannya”
“yunho-ah”
Seseorang memanggil yunho, membuat mereka memalingkan pandangan ke arah wanita yg tersenyum lebar menatap yunho.
“kau sudah bangun ? aku membawakan kau sarapan. Ini sarapan yg kumasak sendiri” ucapnya sambil merangkul manja lengan yunho.
Yunho hanya menatap datar tunangannya itu.
“aku permisi dulu yunho-sshi dan ahra-sshi”
Ahra berbalik dan menatap soo yoon.
“sekretaris park kau tinggal disini ?”
“ne, ini sebuah fasilitas kantor. Mianhamnida seseorang telah menungguku, aku permisi”
Soo yoon membungkukan badan, lalu berjalan meninggalkan yunho dan ahra.
“kajja kita masuk” ucap ahra sambil menarik yunho.

Langkah ahra terhenti setelah melihat meja makan itu tidak kosong.
“siapa yg memasak itu semua ?” tanyanya.
Yunho tidak menjawab pertanyaan itu, ia berjalan menuju meja makan.
“yunho-ah, makanlah masakan ku ini”
Ia hanya menatap sebuah tas yg ahra letakan didepannya.
“kau saja, aku ingin memakan makanan ini”
“tapi ini masakanku yunho-ah”
Yunho tidak memperdulikan ahra, ia terus memakan nasi goreng buatan soo yoon.
Ia tau, gadis itu pagi pagi memasak sarapan untuknya.

*****************************************

“sunbaenimm ~” teriak soo yoon saat masuk dikamar donghae.
Ia terdiam, melihat donghae sedang sibuk memasukan pakaiannya kedalam tas.
“kau sudah akan pulang ?”
“ne. waeyoo ? aku sudah sangat bosan tinggal di sini”
“tapi dokter sudah mengijinkanmu kan ?”
“tentu saja yoonie-ah”
Donghae memasukan pakaian terakhir, lalu menutup tas itu.
“selesai, kajja kita pulangg ~”
“biar ku bawakan tasmu oppa”
“ani, supirku yg akan membawanya. kang ahjusshi”
Seorang pria separuh baya masuk kedalam kamar itu.
“tolong bawakan tasku”
“ne tuan muda”
Kang ahjusshi mengambil tas dari tangan donghae dan keluar.
Donghae mengambil tongkatnya, lalu beranjak dari kasur.
Ia masih harus menggunakan tongkat itu, karena retak pada tulang kering kaki kanannya belum pulih.

“kau sudah sarapan ?” tanya donghae saat mereka berjalan di koridor rumah sakit.
“belum”
“aigoo, nanti kau sakit. Sebelum kau ke kantor kita sarapan dulu”
“tapii…”
“nanti kau bisa pingsan, lagipula ini baru jam 7. Kau tidak akan terlambat kerja”
Soo yoon hanya menganggut pasrah, karena ia tau donghae adalah orang yg keras kepala.

*****************************************

Tingg.
Pintu lift terbuka.
Seorang pria dengan tuxedo merah tua keluar dari dalam lift berjalan menuju ruang’na.
Langkahnya terhenti melihat meja sekretarisnya kosong.
Ia mengangkat tangan kirinya, menarik lengan jasnya sedikit dan kemudian melihat jam.
Jam 08.10am.
Sekretarisnya terlambat 10 menit, tidak biasanya ia terlambat seperti ini.

Terdengar suara sepatu mendekatinya.
Si pemilik sepatu itu menghentakan kakinya dengan kencang.
“mianhamnida… Aku terlambat…” ucapnya terputus putus karena habis berlari.
Yunho berbalik menatap sekretarisnya yg sedang mengatur nafas.
“gwenchana”
“jeongmal mianhamnida sajangnim” ucap soo yoon lagi sambil membungkuk beberapa kali.

Drrrttt drrrrttt
Ponsel yunho bergetar dikantung jasnya.
Ia mengambil lalu menempelkan ponsel itu ditelinga’na.
“yeoboseyo”
Yunho berbalik, lalu memasuki ruangannya.
‘yunho-ah, mianhae gara gara aku soo yoon terlambat’
“mwo ?”
‘aku mengajaknya untuk makan sebentar’
“gwenchana hae”
‘gomawo yunho-ah’

Yunho meletakan ponselnya diatas meja, lalu duduk di kursi kerja miliknya.
Ia menatap soo yoon yg sedang sibuk membuka buku.
Tangannya lalu bergerak mengangkat gagang telefon, lalu menekan angka 1.
“keruanganku sekarang” ucapnya.
‘ne tuan’ jawab soo yoon.

Tok tok tok.
“masuklah”
Soo yoon masuk kedalam dan menghampiri yunho.
Yunho membuka laci meja, dan mengeluarkan sebuah file.
“ini surat kepemilikan apartemenmu, semua atas namamu”
Soo yoon memandang file yg berisi surat surat itu.
“tapi aku tidak sanggup untuk membeli apartemen itu”
“aku tidak menyuruhmu untuk membayarnya, karena aku sudah membayarnya”
“tapi…”
“aku tidak menerima penolakan”
Yunho beranjak dari kursinya, lalu berjalan keluar ruangan.
“sudah waktunya rapat, tolong persiapkan berkas berkas yg diperlukan” ucapnya sebelum meninggalkan ruangan.
Soo yoon menghela nafas, lalu beranjak pergi dari ruangan yunho.

******************************************

Setelah selesai rapat, semua karyawan keluar ruangan.
Tersisa yunho dan soo yoon diruangan itu.
Yunho masih sibuk membaca dokumen didalam laptopnya, sedangkan soo yoon sibuk merapikan berkas berkas.
“sudah jam makan siang tuan” ucapnya setelah selesai merapikan berkas.
“arrasoo” jawab yunho dengan singkat.

Ddrrttt Ddrrttt Ddrrttt
Ponsel soo yoon bergetar, dan ia mengangkatnya.
“yeoboseyo ?”
‘yoonie, kau ada waktu ? mau makan siang bersama ?’
“aku masih ada pekerjaan oppa’
‘jinjja ? ya sudah selesainkan dahulu pekerjaanmu. Aku tunggu kau di depan kantor’
“ne”

Soo yoon meletakan ponselnya diatas meja.
“kau ingin makan siang ?” tanya yunho yg tetap menatap laptop.
“aku bisa menunggumu sajangnim”
“kau pergi saja dulu”
“aku…”
“gwenchana”
Soo yoon menghela napas, “baik, aku permisi dulu tuan. Jangan lupa makan”
“hmmm” jawab yunho.
Soo yoon berjalan keluar.
Setelah soo yoon keluar ruangan, yunho menyandarkan tubuhnya.
Ia menghela napas, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

*****************************************

“yunho-ah !” panggil seseorang saat memasuki ruangan yunho.
Yunho menatap malas orang itu, “kim heechul… untuk apa kau kesini ?”
Tak biasanya sahabatnya itu datang ke kantornya, pada saat jam kerja seperti ini.
“hanya ingin mengunjungi sahabatku yg workaholic. Hey ! kudengar ahra sudah kembali ?”
Yunho menjawabnya dengan menganggut.
“lalu kau, kembali padanya ? maksudku, hubungan pertunanganmu dengannya kembali terikat ?”
“entahlah, perasaanku dengannya sudah tak seperti dulu. Rasanya berbeda”
Heechul mengeluarkan smirknya.
“jangan tersenyum seperti itu, aku tak suka itu heechul-sshi”
“tebakanku dulu benar”
“tebakan ? tebakan apa ?”
“tebakan kalau kau menyukai dia yunho-ah”
“dia ? dia siapa ?”
“aigoo, jangan bertindak bodoh seperti itu yunho-sshi. Dia, sekretarismu, park soo yoon” jawab heechul sambil mengeja nama park soo yoon.
Yunho hanya tertawa.
“jangan tertawa, aku tau kau menyukainya”
“what ever” kata yunho dengan cueknya.
“aishh, kalau kau memang menyukainya kejarlah sebelum terlambat. Sebelum kau terlambat selangkah dengan seseorang”
“sejak kapan seorang seperti kau bisa sebijak seperti ini ?”
“dengar yunho-ah. Aku ini memang anak yg bertindak semaunya, tapi aku ini peka terhadap keadaan lingkungan sekitarku. Pikirkanlah baik baik kataku, sebelum semuanya terlambat”
Yunho terdiam sambil memandang heechul.
“jangan memandangku seperti itu, aku bukan sekretarismu. Ahh, aku rasa aku mulai merasa tak enak berada disini”
Heechul menatap sekelilingnya yg penuh dengan rak buku.
ia tak pernah menginjakan kaki ke kantor manapun, termasuk kantor ayahnya.
“kenapa disini banyak rak buku ? tidak ada bar disini ?”
“mwo ? kau pikir ini club ? disini kantor heechul-sshi”
“arraa arraa, just kidding. ah sudah, aku permisi dulu, pikirkan kataku baik baik sebelum semua terlambat”
Heechul berdiri, dan berjalan keluar dari ruangan yunho.
“ingat jung yunho ! katakanlah semuanya sebelum kau terlambat selangkah dengan orang lain”
‘aku menyukai soo yoon ? apa itu benar ?’ ucapnya didalam hati.

*****************************************

Yunho berjalan keluar ruangannya.
Langkahnya terhenti memandang soo yoon yg masih asik menulis.
Ia mangangkat tangan kanannya, menarik jasnya dan menatap jamnya.
‘jam 6 ? biasanya jam 5 ia sudah keruanganku untuk memintaku pulang, tapi sekarang ?’ ucapnya dalam hati.
Ia menghampiri soo yoon, “sekretaris park, kau masih sibuk ?”
Soo yoon terkejut lalu mengangkat kepalanya, “sajangnim…… ne aku masih sangat sibuk”
Yunho meletakan tas kerjanya, lalu berjalan memutari meja dan berdiri disamping soo yoon.
“perluku bantu ?” tanyanya sambil menundukan tubuh lalu meletakan kedua tangannya dimasing masing sisi kiri kanan soo yoon.
“tidak perlu sajangnim……” jawabnya yg terhenti setelah melihat wajah yunho disampingnya yg hanya berjarak beberapa centi.
Mereka berdua saling memandang manik mata satu sama lain.
Jantung yunho berdetak dengan kencang dengan posisi sedekat ini dengan soo yoon.
Begitu juga dengan soo yoon, ia merasakan apa yg yunho rasakan.

Drrtt drrtt drrtt.
Bunyi ponsel soo yoon yg bergetar diatas meja membuat kesadaran mereka kembali.
Yunho langsung menegakan badan dan berdeham pelam untuk mengatasi canggungnya.
soo yoon segera mengambil ponselnya.

“ye… yeoboseyo ?”
‘yoonie, aku sudah menunggumu di lobby kantor. Kau tidak mau pulang ?’
“mmm… mungkin sebentar lagi aku akan keluar. Oppa tunggu saja”
‘ne, aku akan menunggumu’

“kau pulanglah sekarang” kata yunho sesudah soo yoon meletakan ponselnya dimeja.
“sebentar lagi sajangnim”
“aku ini atasanmu, dan aku menyuruhmu untuk pulang”
“tapi pekerjaanku belum selesai”
“ini adalah sebuah perintah soo”
Soo yoon mengangut pasrah, lalu membereskan barang barangnya.

“donghae sudah menunggumu ?” tanya yunho setelah mereka sudah berada didalam lift.
“ne sajangnim”
Yunho terdiam sambil menatap lurus kedepan.
Keheningan melanda mereka berdua.

Tingg.
Pintu lift terbuka dan mereka berdua berjalan keluar.
“yunho-ah !” panggil ahra.
Dengan setengah berlari ia menghampiri yunho, dan memeluk tubuh pria itu.
“aku sudah menunggumu sedari tadi” ucapnya manja.
Yunho melirik soo yoon yg sedang berdiri disampingnya.
Entah mengapa ia sangat risih dengan ahra yg sedang memeluknya.
“yonnie” panggil donghae.
Seakan kembali kesadarannya ia beralih menatap donghae yg sedang berjalan dengan tongkatnya.
“oppa”
Soo yoon langsung menghampiri donghae, dan membantunya berjalan.
“yunho-ah, lama tidak bertemu. Kenapa kau hanya sekali menjengukku saat aku dirumah sakit ?”
“aku sibuk, mianhae”
“arrasoo” jawab donghae.
“yunho-ah, tadi aku mengajak donghae dan soo yoon untuk makan malam bersama”
“mwo ?” ucap yunho.
“ne, sudah lama kita tidak pergi bersama. Kurasa ini waktu yg pas untuk kita pergi bersama”
Yunho terdiam, ‘pergi makan malam bersama ?”
“yoonie, kau mau pergi makan malam bersamaku dan bosmukan ?”
“mmm, aku terserah oppa saja” jawab soo yoon lemas.
“baiklah ! kalau begitu kau ikuti mobil yunho, karena aku akan mengajak kalian pergi ke restoran favorit kami berdua” kata ahra yg langsung menarik yunho pergi.
Soo yoon terdiam, sambil menatap ahra dan yunho yg berjalan menjauh.
“kau baik baik saja yoonie ?”
“nde ? ah ne aku baik baik saja”
“kalau begitu, kajja kita pergi”

*****************************************

“jadi ini restorant favorit kalian ?” tanya donghae setelah mereka berempat berdiri didepan namsan tower.
“ne, kami berdua dulu sering kesini. Kajja, kita masuk”
Mereka berempat masuk kedalam dengan menggunakan lift.
Didalam lift soo yoon mencengkram lengan donghae, lalu memejamkan matanya.
“yoonie” panggil donghae sambil mengenggam tangan soo yoon yg ada dilengannya.
“sekretaris park, ada apa denganmu ?” tanya ahra.
“soo yoon, ia takut ketinggian ahra-sshi” jawab donghae.
“mwo ? takut ketinggian ? kalau begitu kita pulang saja” kata yunho.
Tersirat nada khawatir didalam perkataan yunho barusan.
“aniyoo aniyoo. Aku… baik baik saja”
“kau yakin soo ?”
“aku yakin sajangnim”

Ting.
Pintu lift terbuka, mereka berempat keluar lift.
Ahra berjalan terlebih dahulu sambil menarik yunho.
“kau yakin masih akan masuk kedalam ? jika kau tidak sanggup, kita bisa pulang yoonie”
“gwenchana oppa, aku harus belajar melawan phobiaku”
“kau yakin ?”
Soo yoon menganggut pelan.

“ah yunho-sshi ahra-shhi, lama kalian tidak kemari” ucap manager restoran dengan ramahnya.
“ne. hari ini aku ingin memesan meja untuk 4 orang. Ditempat biasa kami duduk” ucap ahra.
“mwo ? jangan ditempat itu” kata yunho.
“memangnya kenapa ? aku suka tempat itu yunho-ah”
“soo yoon takut akan ketinggian, jika kita mengambil tempat di situ. Itu membuatnya semakin bisa melihat kebawah, dan menambah ketakutannya”
“tapi…”
“kami pesan tempat di tengah tengah manager kim. Jangan dekat jendela ne ?”
“ne, kami akan mempersiapkannya untuk anda”

Ahra melepaskan rangkulanya terhadap lengan yunho.
“yunho-ah, aku ingin kita duduk ditempat biasanya kita duduk”
Yunho hanya menatap malas ahra.
dulu, mungkin yunho akan menuruti apapun permintaan ahra, dan jika gadis itu marah dengannya, ia akan membujuk ahra hingga kembali seperti semula.
Tapi entah mengapa semua berubah, ia malas untuk melakukan hal seperti dulu.
“tempatnya sudah kami siapkan, silakan masuk tuan”
Yunho berjalan masuk kedalam, tidak memperdulikan ahra yg masih menatapnya kesal.
“ahra-sshi, kau tidak ingin masuk ?” tanya donghae yg sudah akan masuk kedalam bersama soo yoon.
“kalian duluan saja”
Donghae dan soo yoon menganggut, lalu masuk kedalam restorant.

*****************************************

“kau tidak menyuruh ahra masuk ?” tanya donghae setelah duduk di sebrang yunho.
“ahra sudah besar, jadi ia bisa masuk kedalam sendiri” jawab yunho acuh sambil tetap membaca buku menu.
“kalian ingin pesan apa ?” tanya yunho.
“terserah sajangnim” jawab soo yoon disertain anggukan dari donghae.
“aku pesan 4 porsi menu special hari ini”
“ne tuan jung, kami akan segera mempersiapkannya”
Tak lama berselang, ahra datang lalu duduk disebelah yunho. Masih dengan wajah cemberutnya.
Secara tiba tiba, gedung itu berputar 180 derajat.
Setiap 48menit sekali, gedung itu akan berputar 180 derajat, agak pengunjung bisa melihat sisi lain seoul pada malam hari.
Membuat getaran yg cukup menganggu.
Soo yoon segera memejamkan mata, mengerat pegangnya kepada tangan donghae dibawah meja.
“soo, aku baik baik saja ?” tanya yunho.
Ia memandang khawatir gadis disebrangnya.
Ahra memandang yunho, ia mengerutkan dahinya.
Ada yg berbeda dengan pria itu, tidak biasanya pria itu peduli dengan orang lain.
Ia hanya akan peduli dengan orang yg menurutnya penting.
Hanya sebuah perhatian kepada karyawan ? sepertinya tidak mungkin.
Yunho memiliki beribu ribu karyawan, dan tidak ada 1 orang pun yg ia khawatirkan seperti saat ini.
“kalau kau tidak merasa nyaman, kita bisa pergi dari sini sekarang juga”
“yunho !” teriak ahra.
Yunho tidak mengubris teriakan ahra, ia masing memandang gadis di sebrangnya.
“an… ani. Aku… aku baik baik saja”
“kau yakin yoonie ?”
Donghae mengusap punggung soo yoon, memberikan ketenangan kepada gadis itu.
“aku yakin oppa”

Makanan pesanan mereka sudah datang, dengan susah payah soo yoon membuka mata.
dan mencoba memakan makanan yg ada didepannya
Dengan tangan bergetar, ia mencoba mengangkat garpu berisi spageti itu.
“cukup” ucap yunho.
Pria itu meletakan garpunya dengan kasar, sehingga menimbulkan bunyi yg keras.
Yunho mengeluarkan salah satu kartu kreditnya, meletakan dengan kasar diatas meja lalu bangkit berdiri.
“kajja, kita pulang” ucapnya sambil menarik soo yoon berdiri.
“yunho !” teriak ahra.
“sajangnim”
Yunho lagi lagi tidak memperdulikan ahra, ia tetap menarik soo yoon keluar dari tempat itu.
“sajangnim, aku baik baik saja”
Yunho terus menarik soo yoon, tidak peduli dengan penolakan halus soo yoon.
“tuan jung…”
“kau kirim kartu kreditku ke kantorku manager kim”
Yunho melewati manager restorant itu.
Donghae dan ahra saling memandang, terkejut dengan reaksi yunho barusan.
sebuah reaksi aneh yg dilakukan oleh seorang jung yunho.
Akhirnya donghae bangkit berdiri dan mengejar yunho.
“sial !” umpat ahra sambil memukul meja.
Ia semakin yakin tentang pemikirannya tadi.
Bahwa park soo yoon, gadis itu sudah menjadi bagian penting bagi yunho.
Dan kini, ia merasa posisinya terancam.

*****************************************

“aku benar benar baik baik saja sajangnim” kata soo yoon saat ia dengan yunho berada didepan lift untuk turun.
“berhenti berkata kau baik baik saja soo !” jawabnya dengan setengah berteriak.
“tanganmu bergetar saat mengangkat garpu tadi, dan sekarang kau masih berkata kau baik baik saja ? aku tau kau ketakutan didalam sana” kata yunho lagi dengan nada rendah.
Soo yoon terdiam, ia menundukan kepalanya, tidak berani menatap pria didepannya.
“yunho-ah” panggil donghae.
Yunho membalikan badan, menatap donghae yg berjalan agak susah karena ia mengenakan tongkat.
Soo yoon mengangkat kepalanya, lalu berjalan melewati yunho.
ia mendekati donghae, tanpa canggung melingkarkan tangannya dilengan kiri donghae. Membantunya berjalan.
Yunho mengepalkan tangan kanannya.
Ia tak suka jika soo yoon memberikan perhatian lebih kepada sahabatnya.
“biar aku saja yg mengantar soo yoon, kau kembali kedalam untuk menemani ahra”
“mianhae telah menganggu acara makan kalian sajangnim” sesal soo yoon
Donghae mengusap tangan soo yoon yg melingkar dilengannya.
Sebuah pemandangan yg membuat emosi yunho memuncak.
Tanpa berkata kata, yunho meninggalkan mereka berdua untuk masuk kembali kedalam restorant.
Pria itu takut, akan melakukan hal yg diluar perkiraaannya, yaitu menarik jauh jauh soo yoon dari sisi donghae.
“gwenchana, yunho memang pria yg sedikit berbicara” kata donghae.
Soo yoon mengeluarkan senyumnya, melepaskan rangkulannya terhadap lengan donghae lalu menekan tombol turun.
Donghae menoleh kebelakang, menatap punggung yunho yg semakin menjauh.
‘kau cemburu yunho-ah ?’ tanya donghae didalam hati.

******************************************

“seharusnya tadi aku mengajakmu pulang” sesal donghae.
“gwenchana oppa. Memang sepertinya aku harus menghilangkan phobiaku itu”
“tidak usah terlalu memaksa yoonie”
Donghae mengusap pipi soo yoon lembut, sambil tersenyum manis terhadap gadis itu.
“oppa kau pulang saja sekarang”
“ne, tapi setelah kau masuk kedalam”
Soo yoon tersenyum lalu berbalik, menekan password apartementnya.
“yoonie”
“mmm ?”
Ia berbalik lagi menatap donghae.
“mungkin seharusnya aku mengatakan hal ini 5 tahun lalu”
“ne ?”
“saranghae”
Soo yoon membulatkan matanya, pria didepannya baru saja mengatakan cintanya.
“aku sangat ingin mengatakan hal ini dari dulu, tapi baru terucap di depanmu sekarang ini. Jeongmal saranghae yoonie-ah”
Gadis itu masih terdiam, terkejut dengan perkataan donghae.
Donghae memajukan kakinya selangkah, memperkecil jarak antara dirinya dengan soo yoon.
Dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya kepada wajah soo yoon.
Gadis itu masih diam, tak berkutik sama sekali.
Cup.
Bibir mereka saling bersentuhan.
Donghae memejamkan matanya, dan bibirnya mulai bergerak dibibir soo yoon.

Seorang pria berdiri tak jauh dari donghae dan soo yoon.
Kedua tangannya mengepal kencang.
Dengan emosi ia berjalan beberapa langkah mendekati sahabat dan sekretarisnya.
Langkahnya terhenti, tersadar karena ia tak pantas marah saat ini.
Ia bukan siapa siapa bagi gadis itu, ia hanya seorang atasan soo yoon.
Ia memejamkan matanya berusaha meredam emosinya.
‘damn !’ umpatnya didalam hati.
Sebuah pilar disampingnya, menjadi pelampiasannya.
Ia mendaratkan beberapa kali pukulannya di pilar itu.
Akhirnya ia berbalik, dan meninggalkan tempat itu sebelum terjadi yg tidak diinginkan.

******************************************

Yunho memasuki sebuah club malam.
Suara didalam club itu sangat kencang, membuat telinganya terganggu.
Entah apa yg yg membuat ia datang kesini.
Pria itu tidak suka dengan kehidupan malam.
Selama 25 tahun ia hidup, baru 2 kali ia menginjakan kakinya di club malam.
Pertama karena pesta kelulusan high schoolnya, dan kedua saat sahabatnya kim heechul merayakan pesta ulang tahunnya.

Kakinya melangkah naik kelantai 2 club mewah itu, lalu masuk kedalam sebuah ruangan vvip.
Ia menghela nafas malas setelah melihat seorang pria yg duduk ditengah tengah beberapa gadis.
“heechul !” teriaknya.
Pria yg ia panggil itu mendongkakan kepalanya.
“ah kau ! yak, kalian semua pergi keluar”
Dengan wajah cemberut para gadis gadis itu keluar ruangan.
Beberapa dari mereka memedipkan mata kepada yunho saat melewati tubuh pria itu.
Yunho menatap tajam mereka.

“lalu apa yg membawamu kesini ?” tanya heechul sesaat setelah yunho membanting dirinya disofa samping heechul.
Yunho hanya diam, ia mengambil gelas lalu menuangkan bir kedalamnya dan menegak habis minuman itu.
“wow, sekarang jung yunho yg hebat meminum alcohol ?”
“diam kau” desis yunho.
“biar kutebak, kau seperti ini karena sekretaris park kan ?”
Yunho meletakan gelasnya dengan kasar diatas meja.
Heechul mengeluarkan smirknya.
“jadi… kau cemburu terhadap donghae ?”
Yunho memandang heechul sambil mengerutkan dahinya.
“kau pasti binggung kenapa aku bisa tau, ne ?”
“ceritakan semua padaku !”
“hey hey hey, tenanglah yunho-ah ! aku akan menceritakan semuanya kepadamu”
Heechul meneguk gelas birnya, lalu mulai bercerita.
“kemarin malam, aku bertemu dengan donghae. Ia menceritakan semua tentang soo yoon. Ia bilang, malam ini ia akan menyatakan cintanya kepada gadis itu. itu sebabnya siang tadi aku berkunjung kekantormu untuk memberimu nasihat tentang soo yoon”
Yunho terdiam, menatap gelas kosong didepannya.
“apa kau masih tidak yakin, bahwa kau menyukai soo yoon ?”
“entahlah, aku binggung”
“aishh, kau memang bodoh ! aku tau kau pasti akan seperti ini”
Heechul meneguk gelasnya, “kau merasakan hal aneh jika berada didekat gadis itu ?”
“Aku merasa detak jantungku tak terkontrol saat didekatnya, dan merasa senang jika ia d sampingku”
“lalu, kau merasa cemburu saat gadis berdekatan dengan pria lain ?”
Yunho menganggut, lalu meminum minumannya.
“jadi kau bisa simpulkan itu apa yunho-sshi ?”
Pria itu terdiam menatap lurus kedepan, heechul benar ia menyimpan perasaan special kepada sekretarisnya, dan bodohnya ia baru menyadari sekarang.
Yunho tersenyum pahit, “tetapi rasa rasanya cintaku bertepuk sebelah tangan”
Heechul mendengus kesal, “otakmu memang pintar dalam hal bisnis. Tapi untuk urusan cinta, kau benar benar bodoh jung yunho”
“yak”
“kau tau tak pernah merasakannya, cara gadis itu memandangmu itu berbeda dengan cara ia memandang pria lain”
“itu hanya perasaanmu saja. Ia… ia menyukai donghae”
“aigoo, dari mana kau dapat kesimpulan itu ?”
“dari perhatiannya terhadap donghae”
Heechul berdecak kesal, ingin sekali ia memukul kepala sahabatnya ini dengan gelas minumannya.
“soo yoon memang gadis yg perhatian ! kalau ia perhatian kepadaku, lalu kau menyimpulkan bahwa ia menyukaiku, begitu ?”
“dengar tuan jung yunho yg terhormat. Ia memberikan perhatian lebih pasti karena donghae telah menyelamatkan nyawanya waktu itu. jadi ia ingin balas budi dengan donghae”
“darimana kau tau ?”
“aishh. Sekarang, kau coba ingat ingat dengan baik. Pasti ia pernah memberikanmu perhatian yg lebih dari orang lain”
Pikiran yunho mulai melayang, ia mengingat ingat perhatian apa saja yg soo yoon berikan kepadanya.
Mulai dari gadis itu membuatkan makan siang untuknya, menunggunya hingga pulang dari kantor, dan lain lain.
“saranku, jika kau belum yakin jika soo yoon memiliki perasaan yg sama denganmu. Lebih baik kau mengungkapkan perasaanmu kepadanya. Pada akhrinya gadis itu juga akan memilih pria mana yg ia cintai. Kau atau donghae”

******************************************

Ting tong.
Soo yoon mengalihkan pandangannya kearah pintu.
‘siapa yg bertamu sepagi ini ?’ tanyanya dalam hati.
Ia berjalan membuka pintu, dan membeku setelah tau siapa yg bertamu keapartemennya.
“pagi” ucap pria itu.
“ne, pagi sajang… maksudku oppa”
“aku ingin meminta bantuanmu”
“apa yg bisa kubantu ?”
“buwatkan aku bimbimbap. Kau bisa ?” tanya pria itu sambil menggaruk tengkuknya

*****************************************

Yunho memandang punggung soo yoon yg sedang memasak untuknya.
Entah apa yg terjadi kepadanya sekarang, pria itu hanya ingin makan masakan yg dibuwat soo yoon.
ia sudah terbiasa memakan masakan sekretarisnya itu.
Sepertinya ia mulai tergantung dengan soo yoon.

“maaf, merepotkanmu” ujar yunho saat soo yoon meletakan piring berisi bimbimbap didepannya.
“gwenchana. jika kau memang ingin aku masakan sesuatu, kau tinggal bilang aku saja oppa”
Yunho menganggut sambil tersenyum manis, “gomawo”
Pria itu mulai memasukan bimbimbap kedalam mulutnya.
“soo”
“mmm ?”
“bisakah setiap hari seperti ini ?”
“mwo ?”
“maksudku, bisakah setaip hari kau membuatkan sarapan untukku ?”
“tentu, aku akan membuat sarapan untukmu setiap hari oppa”

*****************************************

Soo yoon berkutak dengan laptopnya, memasukan beberapa data penting.
“sekretaris park”
Soo yoon menadahkan kepalanya melihat siapa yg memanggilnya.
“ah… ahra-sshi ?”
Gadis berambut pirang panjang itu tersenyum manis kepada soo yoon, sambil membawa beberapa contoh undangan pernikahan.
“apa hari ini yunho senggang ? aku ingin mendiskusikan tentang pernikahan kami”
Hati soo yoon mencelos setelah mendengar perkataan terakhir ahra.
Pernikahan kami ? jadi cepat atau lambat atasannya itu akan menikah.
“n… ne ahra-sshi. Jadwal sajangnim tidak terlalu padat hari ini”
“baguslah kalau begitu. Hingga nanti siang, jangan biarkan seseorang masuk kedalam menemui yunho. Kau mengerti ?”
“ne, aku mengerti ahra-sshi”
Ahra berjalan masuk kedalam ruangan yunho, disertai beberapa security yg membawa majalah tentang gaun pengantin, referensi tempat pesta pernikahan, dan lain lain yg menyangkut dengan masalah pernikahan.
“sekretaris park ?”
“nde ?”
“sajangnim sedang ada tamu ?”
“ne, manager shin. Ada hal apa ?”
“ada yg harus diperiksa dibagian penjualan. Mungkin kau bisa melihatnya dahulu, lalu nanti kau laporkan kepada sajangnim ?”
“tentu”
Soo yoon berjalan mengikuti manager shin.

*****************************************

“yunho-ah !” panggil ahra.
Dengan berlari kecil ia menghampiri meja yunho, lalu meletakan beberapa contoh undangan pernikahan diatas file file pekerjaan yunho.
“apa ini ?”
“semalam orang tuaku mempertanyakan tentang pernikahan kita, aku berkata kepada mereka tahun ini kita akan menikah. Jadi kupikir aku kesini untuk mendiskusikan tentang pernikahan kita”
Yunho melempar ballpointnya sembarangan, lalu menyandarkan tubuhnya dikursinya.
“pernikahan kita ?”
“ne, aku merencanakan kita akan menikah di akhir tahun. Sekitar bulan desember”
Yunho menghela nafas.
“dengar ahra, kini semuanya sudah berubah”
“maksudmu ?”
“aku sudah tak mencintaimu seperti dulu lagi”
Ahra membulatkan matanya, “ka… kau tidak mencintaiku lagi ?”
“tidak. Aku juga akan memperjelaskan tentang hubungan kita. Hubungan pertunangan kita sudah berakhir saat kau pergi meninggalkanku begitu saja hari itu”
“ak… aku sudah meminta maaf tentang hal itu”
“aku sudah memaafkanmu, tetapi cintaku bukan untukmu lagi sekarang”
“mwo ?”
“jadi kita sudah tidak mempunyai ikatan apapun. Bahkan aku sudah membuang cincin tunangan kita”
“yunho-ah, ka… kau bercanda bukan ?”
“aku tidak pernah bercanda tentang hubungan cinta. Dan kau tau itu ahra-sshi”
Yunho beranjak berdiri dari kursinya, lalu pergi meninggalkan gadis itu.

*****************************************

“baiklah, aku akan menyampaikannya kepada sajangnim”
Soo yoon berdiri dari duduknya, membungkuk kepada manager shin.
Saat ia berbalik, tiba tiba ia merasakan tubuhnya didorong oleh seseorang.
Membuat tubuhnya terhuyung kebelakang.
“dasar gadis murahan !” teriak ahra.
Soo yoon mengerutkan dahinya, tak mengerti dengan ucapan ahra.
“kau ! kau merebut yunho dariku !”
Mata gadis itu membulat sempurna, merebut yunho ? ia merasa tak pernah melakukan hal itu.
“kau bahkan tinggal di apartemen disebelah yunho ! kau pasti merayu yunho kan !”
“ahra-sshi…”
“kau mendekati yunho karena hartanya bukan ? cepat sebutkan berapa uang yg kau mau, aku akan memberikannya kepadamu asal kau menjauhi yunho !”
Mata soo yoon mulai berair, semua orang diruangan itu melihat dan mendengar semua apa yg terjadi.
“tuduhan anda tidak benar ahra-sshi. Aku tidak pernah merebut yunho dari anda, dan aku tidak pernah merayunya” jawabnya dengan suara bergetar.
“kau munafik soo yoon-sshi !”
Ahra memajukan langkahnya selangkah, kedua tangannya menggapai rambut soo yoon dan menjambak rambut panjang gadis itu.
“aku menbencimu soo yoon-sshi”
“go ahra !” teriak yunho.
Seketika ahra merasakan tubuhnya terdorong kebelakang.
“apa yg kau lakukan !”
Yunho menatap tajam ahra, pria itu berdiri didepan soo yoon menghadap ke arah ahra.
“gadis itu merayumu bukan ?”
“tutup mulutmu ! kau tidak tau apa-apa !”
yunho menarik ahra pergi dari tempat itu.
soo yoon hanya diam sambil menangis, tak lama ia berlari meninggalkan tempat itu.

*****************************************

Yunho menghempaskan tubuh ahra kearah tembok, membuat punggung gadis itu menabrak dengan kuat tembok ruangan rapat itu.
“apa yg kau lakukan terhadap soo yoon ?” bentak yunho.
“ia yg menyebabkan hubungan kita berakhir bukan ?”
Yunho melayangkan pukulannya tepat disamping tembok kepada ahra.
“kau yg membuat hubungan ini berakhir ! kau sendiri go ahra !”
“aku tak melakukan apapun !”
“tak melakukan apapun ? kau ingat hari dimana kau meninggalkan aku begitu saja ? padahal aku sudah memohon padamu agar kau tidak meninggalkanku !”
Ahra menundukan kepalanya.
Selama ia mengenal yunho, ia tak pernah melihat pria itu semarah sekarang.
“dan sekarang kau menyalahkan orang lain atas kesalahan yg sudah kau buwat sendiri ?”
“park soo yoon ! ia yg salah !”
Yunho mengangkat tangannya, bersiap untuk mendaratkan tangannya dipipi kanan ahra.
Namun yunho menahan emosinya, mengingat ia tak boleh memukul seorang gadis.
Ia menurunkan tangannya, menghela nafas.
“dulu, saat aku benar benar mencintaimu, kau meninggalkanku begitu saja. Tak pernah memikirkan bagaimana perasaan dan keadaanku tanpa dirimu” ucapnya dengan nada rendah.
“yunho…”
“aku mencintai soo yoon. Kumohon, jangan kau menyakitinya. Aku tidak bisa berjanji tidak akan menyakitimu, kalau kau menyakitinya”
Pria itu berbalik, meninggalkan ahra.
Tubuh ahra merosot ke lantai, dan menangis keras.
Menangis karena penyesalannya telah meninggalkan pria itu dulu.

*****************************************

Menangis, itulah yg dilakukan soo yoon sekarang.
Ia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Dua orang karyawan masuk kedalam toilet.
“kau dengar ternyata benar sekretaris park tinggal diseberang apartemen sajangnim”
Soo yoon yg sedang berada didalam bilik toilet itu terdiam.
“pasti ia merayu sajangnim. Aku heran, apa yg ia diberikan kepada sajangnim sampai sampai sajangnim memberikan ia sebuah apartemen.
“apa itu sebuah fasilitas kantor ?”
“tidak mungkin ! banyak karyawan disini yg sudah bekerja puluhan tahun disini. Sajangnim tidak pernah memberikan fasilitas kantor semewah itu”
“jadi apa yg membuat sajangnim memberikan fasilitas mewah itu kepadanya ?”
“mungkin sajangnim sudah pernah tidur dengannya”
Soo yoon membulatkan matanya. tidur dengan yunho ? memikirkannya saja tidak pernah, apalagi benar benar melakukannya.
“cih, dasar gadis murahan”
“ne, aku semakin yakin kalau pertunangan sajangnim dengan ahra itu putus karenanya”
“sebaiknya kita kembali ketempat kita, ini sudah jam pulang kerja”
“ne”
Soo yoon melirik jam tanganya yg sudah menunjukan jam 05.00 pm.
Ia beranjak keluar, lalu mengusap wajahnya dengan air beberapa kali di wastafel.
Ia memandang wajahnya dari pantulan cermin sebentar, lalu pergi keluar meninggalkan toilet.

*****************************************

Dengan gelisah yunho menunggu soo yoon di ruang kerjanya.
Entah sudah beberapa kali ia menghembuskan nafas beratnya.
Pria itu tak pernah mengangka, mantan tunangannya akan berbuat senekat itu.
Jika ia tahu akan terjadi seperti ini, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Dan sekarang perasaan bersalah terhadap sekretarisnya memenuhi pikirannya.

Sekarang, sudah 1 jam lebih sekretarisnya menghilang.
Yunho sudah mencari gadis itu kemana mana, tetapi tak nemukannya sama sekali.
Jika gadis itu pulang, ia tidak mungkin meninggalkan tasnya di meja kerjanya.
Yunho menghela nafas lagi, lalu memasukan kedua tanganya kedalam saku celana.
Ia menatap meja kerja sekretarisnya dari dalam ruangan.
Jam sudah menunjukan, pukul 05.00pm.

Matanya membulat setelah melihat soo yoon berjalan kearah meja kerjanya.
Hatinya kembali lega melihat gadis itu.
Dengan setengah berlari, yunho berjalan keluar.
Dibukanya dengan kasar pintu ruangan, sehingga soo yoon mengangkat kepalanya menatap yunho yg berjalan kearahnya.
“soo”
Yunho melihat mata soo yoon yg membengkak, dugaannya benar gadis itu pasti sudah menangis lama.
Membuat rasa bersalahnya semakin besar.
“ada yg perlu kubicarakan denganmu”
“sajangnim… aku pamit pulang dahulu” ujarnya tanpa menatap yunho.
“aku antar kau pulang”
“tidak ! tidak perlu… donghae oppa… sudah menungguku dilobby”
Tubuh yunho membeku ditempatnya setelah mendengar nama pria itu keluar dari bibir soo yoon.
Yunho membiarkan soo yoon berjalan menjauh darinya.
‘donghae ? kenapa harus donghae ? kau mencintainya soo ?’

TBC

H.E.A.R.T

Cast :
Park Soo Yoon
Jung Yunho
Choi Siwon

annyeongg.
aku kembali dengan ff angst.
tp menurutku ini bukan ff angst si *plak.

oh iya, aku ada pesan.
disini siwon aku bikin menjadi doketer, bukan member SJ.
dan maap kalo ceritanya agak gak nyambung.
aku gak ngerti tetang kedokteran si.
ahahahahhaahah

===========================================================

“yunho-ah” guman gadis itu.
Ia tak memperdulikan orang orang yg memperhatikannya.
Yg ia pedulikan hanya sebuah papan iklan besar di depannya.
Sebuah papan iklan tentang konser megah yg akan dilaksanakan di kota itu.
“neomu bogoshippo” ucapnya lagi.
Matanya yg berlinang air mata tak lepas dari papan iklan itu.
Ingatannya melayang ke masa lalu, tepatnya saat 2 tahun yg lalu.

*flashback*

Seorang pria keluar dari mobil hitamnya.
“aigoo, aku lupa isi bensin” erangnya frustasi.
Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, “dan aku juga lupa mengecash ponselku. Yunho, kau benar benar pelupa. Aishh jinjja !”
ia mondar mandir kebinggungan, berjalan disekitar mobilnya.
“bukankah itu jung yunho ?” teriak seorang gadis kepada temannya.
Yunho diam, berdiri terpaku menatap segerombolan remaja itu.
“ne ! itu yunhoo oppa ! kyaaaa”
“aishh, aku lupa memakai masker !”
Yunho segera berlari, tetapi segerombolan remaja itu malah mengejarnya.
Merasa tak memungkinkan untuk berlari terus, ia menghentikan sebuah taksi yg sedang melaju.
Setelah menghentikannya, ia membuka pintu lalu masuk kedalam taksi.
“cepat jalan, sebelum para remaja itu mengepung mobil ini” teriaknya kepada supir taksi.
Ternyata didalam taksi itu terdapat seorang gadis.
“yak ! anda siapa berani memasuki taksiku ?” teriaknya sambil memukul yunho dengan tas jinjingnya.
“agasshi, berhenti. Ya ya ya, aku jung yunho !”
“mwo ? jung yunho ?”
Gadis itu berhenti memukul, dan memandang yunho lekat lekat.
“jung… Jung yunhoo ?”

*flash back end*

“soo yoon-ah” panggil seseorang di belakang soo yoon.
Soo yoon membalikan tubuhnya, “wae ?”
“mau sampai kapan kau berdiri memandang poster itu ?” tanyanya.
“uisanim…”
“aigoo, sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu”
“ne, choi siwon. Dokter tercerewet di dunia”
Siwon tersenyum, “sudah selesai memandangnya ? kita harus cepat cepat pergi ke rumah sakit. Kau ingatkan kau datang ke jepang untuk melakukan…”
“arrasoo, sudah jangan bahas itu lagi. Kajja kita pergi”
Soo yoon menarik tangan siwon untuk pergi ke rumah sakit.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“aku sudah tidak tahan dengan kesibukanmu itu, kau tak pernah ada disaat aku membutuhkanmu. Kau selalu pergi meninggalkan aku sendirian, padahal kau sangat tau aku sangat benci dengan kesendirian. Jadi, sudah tidak ada lagi alasan untuk melanjutkan hubungan ini”

Kata kata itu selalu bergema di otak yunho.
Kata kata yg tak pernah ia harapkan.
Ia memandang miris sebuah cincin yg berada didalam sebuah kotak.
Ia berencana memberikannya kepada gadis itu, tetapi gadis itu malah memutuskan hubungannya.
Ia menghela nafas, lalu menutup kotak cincin itu lalu meletakannya ditempat semula.

Yunho menghelas nafas dan menyandarkan tubuhnya disofa merah miliknya, lalu memejamkan mata.
“masih ingat dengannya ?”
Terdengar suara changmin dari meja makan.
“tentu, tidak mungkin aku melupakannya dengan mudah” jawabnya lirih.
“kau tidak makan hyung ?”
Yunho menggeleng perlahan, “nanti saja”
Changmin menghela nafas.
Pria yg di panggil hyung olehnya itu sudah selama 6 bulan ini selalu seperti itu.
Tepat berselang di saat gadisnya memutuskan hubungan mereka.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Soo yoon duduk ditaman sebuah rumah sakit.
Ia sesekali melirik jam tangannya.
Sudah 1 jam ia menunggu disini, tetapi siwon juga belum datang.
Ia mengambil headsetnya, dan mulai memutar lagu.

Geudaeman baraboneun geoshi budamseureopdago neukkindamyeon nan
Ije geuman tteonalge
Nae kamjeongeul daseuriji mothae geudael gwerobge haetdeon georamyeon
Ije nan mulleonalke
Nan geudaega huk hago nae gyeoteseo naraga beorilkka
Dan harudo hyu hago swil sujocha eopseotdan malya
Nae ireon pabo gateun jibchagi
Neorapeuge hal jul nan mijyeo mollatda

*HoMin – Before U Go*

Lagu itu mengantun indah di telinga soo yoon.
Air matanya mulai turun dari pelupuk matanya.
Masih terekam di ingatannya dengan jelas, saat ia meminta yunho menyanyikan lagu ini sebelum ia tidur.
“aku ingin mendengar suaramu lagi, aku benar benar… Aaarrghhhhh”
Tiba tiba dadanya sesak, jantungnya mulai mengeluarkan rasa nyeri lagi.
ia menepuk nepuk dadanya, berharap rasa sakit itu hilang.
Bukannya menghilang, rasa sakit itu makin terasa lebih sakit lagi.
“aaaaarrrghhhh !”
Ia meremas kemeja putih’na, tepat dibagian dada kiri.
Ia terjatuh dari kursi, “saa… kit… se…kali…” ucapnya terbata bata.
Ia memejamkan mata, semakin lama sakit itu semakin membesar.
“soo yoon-ah !” teriak seseorang yg berlari mendekati soo yoon.
“soo yoon-ah, waeyo ?”
“si….wonie… jan..tungku…”
Siwon segera mengangkat tubuh soo yoon masuk kedalam rumah sakit.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Soo yoon membuka matanya, bau obat langsung masuk kedalam hidungnya.
Sungguh ia membenci bau ini.
Ia memejapkan mata beberapa kali.
“kau sudah sadar ?” tanya siwon.
“ne” jawabnya lemah.
“kenapa rasa sakit itu semakin sering terjadi ?” tanya soo yoon kepada orang yg sudah menjadi dokternya selama 6 bulan lebih.
“entahlah, aku tidak tau”
“siwoonie, jangan tutupi lagi tentang masalah jantungku”
Soo yoon sangat tau siwon mencoba menutupi masalah jantungnya.
Siwon menghembuskan nafas, “tim dokter dirumah sakit ini sedang mencari donor jantungmu”
“kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku, apa jantungku semakin parah ?”
“aku ada rapat dengan dokter hitoshi”
Siwon beranjak dari duduknya, dan pergi meninggalkan soo yoon.

Soo yoon mencoba bangun dari tempat tidur.
Dengan langkah yg lemah ia berjalan kearah pintu.
“gumpalan darah dijantungnya semakin membesar. Aku takut, jantung itu akan berhenti berdetak sebelum kita mendapatkan jantung baru” ucap lirih siwon sambil menunduk.
“We’ll do our best, we’ll even harder to find the donor’s heart. Don’t worry” jawab dokter hitoshi sambil menepuk pundak siwon.

Soo yoon menutup pintu kamarnya, dan mulai menangis lagi.
Ia berjalan menuju jendela besar diruangan itu.
Ia mendongakan kepalanya, dan menatap langit biru.
“tak apa jika kau tidak menghendaki aku untuk mendapatkan jantung baru… Tetapi… Kumohon, biarkan aku melihatnya diatas panggung sekali lagi”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“hyungg”
Yunho tersentak, dan kembali tersadar dari lamunannya.
“wae ?”
“kau tidak serius menjalankan latihan ini, hyungg ini konser penting kita”
“mianhae, aku sedang tidak enak badan. Bisakah kita ulangi lagi ?”
“hyung, kau ini seorang leader. Jadi kurasa kau bisa melakukan kepropesionalisme terhadap pekerjaan”
“ne, mianhae”
Mereka memulai latihan mereka lagi.

Setelah 2 jam latihan, mereka beristirahat.
“yunho-ah, changmin-ah. Habis ini kalian harus melakukan permeriksaan rutin” ucap sang manager.
“mwo ? aishh hyungg, kau masih meragukan kesehatanku ?” protes changmin
“aku tau jika tukang makan sepertimu itu pasti sehat ! tapi ini hanya sebagai formalitas saja” jawab manager.
Changmin terkekeh, lalu menatap yunho yg lagi lagi sedang melamun.
“sepertinya yg sakit itu yunho hyung, ia membutuhkan seorang dokter. Dokter cinta tepatnya”
Semua orang yg ada diruangan itu tertawa, terkecuali yunho.
Ia masih melamun seperti biasanya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“bolehkah aku menonton konser itu ?” tanya soo yoon dengan puppy eyesnya.
“ani” jawab siwon.
Soo yoon menghembuskan nafas kesal, lalu memandang lurus ke taman bunga tepat didepannya.
“itu membahayakan jantungmu soo yoon-ah”
Soo yoon mengalihkan pandangannya ke siwon lagi.
“aku janji, aku akan duduk manis saat konser itu berlangsung”
Siwon hanya diam memandang soo yoon.
“jebaalll” ucapnya sambil mengatupkan kedua tangannya didepan dada.
“aku janji ini terakhir kalinya aku menonton konsernya, sehabis itu aku akan menuruti semua kata katamu”
Siwon mengkerutkan dahinya, ia memikirkan sejenak permintaan soo yoon.
“baiklah, nona tukang memaksa”
Soo yoon tertawa bahagia mendengar perkataan dokter pribadinya itu.
“tapi kau harus minum obat tepat waktu”
“ne ! uisanim, kau benar benar baik !”
Siwon mengacak lembut rambut soo yoon.
“aku harus membicarakan ini kepada dokter hitoshi, kau mau masuk atau tetap berada disini ?”
“aku ingin disini, nanti aku akan masuk kedalam”
“baiklah, jangan terlalu lama disini. Arrasso ?”
“ne arrasoo !”
Siwon meninggalkan soo yoon sendirian dibangku taman.
Soo yoon menyandarkan tubuhnya disandaran kursi, dan menadahkan kepala keatas.
Ia menatap langit yg dihiasi ratusan bintang.

“kau itu lebih bersinar dari pada bintang bintang itu”
Kata kata itu, tiba tiba terlintas didalam pikiran soo yoon.
“dan kau tau, setiap aku melihat bintang jatuh aku akan meminta agar kau selalu ada disampingku”
Dan kata kata barusan, membuat air matanya jatuh lagi.
Kata kata yg diucapkan yunho saat mereka berdua melihat bintang.

Soo yoon melihat sebuah bintang terjatuh.
“bolehkah aku meminta agar aku bisa bersamanya terus ?”
Ia menundukan kepalanya, lalu menghapus air matanya, “tapi aku rasa itu permintaan mustahil, kalau begitu aku minta agar aku melihatnya sekarang. Aku benar benar merindukannya”

Tiba tiba soo yoon memegang dada kirinya lagi.
Bukan karena rasa sakit, tetapi karena jantungnya berdebar sangat kencang.
“kenapa lagi dengan jantungku ?”
Ia mengangkat kepalanya, menatap sekitarnya.
Matanya tertuju kepada seorang pria yg berdiri tak jauh dari kursi taman.
Seseorang yg sangat dirindukannya.
“ini sebuah keajaiban” ucapnya sambil tersenyum.
Ia memandang terus pria berbaju putih itu, yg sedang menatap lurus.
“yunho-ah, neomu bogosshipoo”
Tersadar bahwa yunho berbalik dan berjalan kearahnya, ia buru buru lari masuk kedalam rumah sakit.
Ia takut, ia akan bertemu dengan yunho.

Karena melihat seseorang yg berlari, yunho memfokuskan penglihatannya kepada seorang gadis yg sedang berlari masuk kedalam rumah sakit.
Gadis itu mirip sekali dengan gadis yg dirindukannya selama ini.
“soo” panggilnya.
Ia menggelengkan kepalanya, “aigoo, aku pasti sedang berhalusinasi”
Tetapi rasa penasarannya, membuat ia mengikuti gadis itu.
“hyung !” panggil changmin yg tak jauh dari tempat yunho.
Yunho berbalik, dan menatap changmin.
“aku mencarimu kemana mana hyung, sudah ayo kita pulang. Aku lapar sekali hyung”
Changmin berbalik meninggalkan yunho.
Yunho kembali menatap kearah tempat gadis itu berlari.
“tidak mungkin soo yoon berada disini, ia pasti berada di seoul”
Setelah meyakinkan diri sendiri, yunho pergi mengikuti changmin.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Konserpun tiba.
Soo yoon begitu gembiranya menyaksikan konser tohoshinki.
Sekian lama ia memimpinkan untuk menyaksikan konser yunho di jepang.
Senyumnya perlahan pudar, setelah sebuah memory indah itu muncul

*flashback*

“kau pergi ke jepang besok ?” tanya soo yoon yg mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
“ne, wae ? ini bukan pertama kalinya aku pergi ke jepang bukan ?” jawab yunho yg menggeser laptop soo yoon kedepannya.
Soo yoon terdiam, melihat yunho yg sedang asik memainkan laptop miliknya.
“aku… ingin menonton konsermu di jepang” ucapnya.
“kau ingin ? baiklah, aku akan menelefon manager hyung untuk menyiapkan semuanya untukmu”
Yunho mengambil ponselnya diatas sofa, dan menekan layar ponsel touchscreen itu.
“andwae !” teriak soo yoon tiba tiba sambil merebut ponsel yunho.
“wae ? aku menginginkan untuk nonton konserku di jepang kan ?”
“jangan besok, aku akan mengikuti ujian semester besok”
“baiklah, kapanpun kau ada waktu ke jepang. Kau harus memberitahuku. Aku akan menyiapkan semuanya”
Sebuah senyum mengembang dari bibir soo yoon, “gomawo yunho-ah”
“apapun yg kau minta, akan kukabulkan soo”
“jinjja ?” tanyanya dengan mata berbinar.
“apa aku pernah berbohong kepadamu ?”
Soo yoon menggeleng perlahan, lalu memeluk yunho dari belakang.
Ia menyandarkan kepalanya di bahu yunho, dan melihat kearah jendela.
Sedangkan yunho menatap serius layar laptop soo yoon.
“yunho-ah” panggil soo yoon tiba tiba.
Yunho masih menatap layar laptop.
“apa yg kau lakukan ?”
Soo yoon melihat yunho sedang membuka twitternya.
“aigoo, jangan lihat isi twitterku” ucapnya sambil menutup layar laptopnya.
“wae ?”
“banyak rahasia di situ, rahasia yg tak boleh kau lihat”
“mwo ? kau menyembunyikan sesuatu dariku ?”
“ani”
Soo yoon berlari menuju kamarnya.
“yak ! soo, kau mau kemana ?”

*flashback end*

“hey, kau tidak ingin masuk kedalam ?” tanya siwon.
“tentu saja ingin, kajja !”
Dengan semangat soo yoon menarik siwon.
Mereka sengaja mengambil jarak yg agak jauh dari panggung, agar yunho tidak melihatnya.

5 menit kemudian lampu dimatikan, dan seluruh Cassiopeia menyalakan light stick mereka.
Memang ini bukan pertama kali ia menonton konser yunho, tetapi ini akan menjadi konser terakhir untuknya.
Selama konser, mata soo yoon tak lepas dari yunho.
Matanya mengikuti kemanapun yunho pergi.
Tanpa ia sadari pandangannya memburam karena air mata.
Tiba tiba ia merasakan tangan kanan’na di gengam seseorang.
“uljima. Kau datang kesini bukan untuk menangis bukan ?”
Soo yoon menghapus air matanya, lalu mulai berkonsetrasi ke arah stage lagi.
Siwon memandang soo yoon lekat lekat.
Ia tidak menepis, bahwa ia menyimpan perasaan khusus untuk pasien yg sedang ia tangani sekarang.
Tapi ia sadar, dihati gadis ini hanya ada seseorang yg sedang perfom solo diatas stage.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“kau tidak ingin ketoilet ?” tanya siwon.
“ani, aku tunggu kau disini”
Siwon menganggut lalu berjalan kearah toilet.
Konser itu berjalan dengan cepat, membuat soo yoon masih tidak rela bahwa ia harus berhenti melihat yunho.
Ia menyandarkan tubuhnya ditembok, lalu menundukan kepalanya.

Yunho berjalan sendirian di lorong.
Saat akan memasuki sebuah ruangan, matanya menatap sosok seorang gadis yg berdiri tidak jauh darinya.
Perlahan ia berjalan mendekat.
Ia semakin yakin, yg ia lihat tadi saat konser adalah soo yoon.
“soo” panggilnya.
Soo yoon terkejut, lalu melihat yunho.
“ini benar benar kau soo ?”
Soo yoon berjalan mundur menjauhi yunho, ia tak percaya yunho ada didepannya sekarang.
“kenapa kau tak bilang padaku, bahwa kau berada di jepang ?”
Ia membalikkan tubuhnya, bersiap siap akan berlari meninggalkan yunho.
Tetapi, jantungnya mengeluarkan rasa sakt lagi.
“aaarrghhhhh” erangnya sambil meremas kaus hitam’na pada bagian dada kiri.
“sooo”
Yunho membalikan tubuh soo yoon, dan melihat soo yoon mengigit bibir bawahnya.
“kau kenapa ? kenapa dengan dadamu ?”
Soo yoon membungkukkan tubuhnya.
Seperti biasanya rasa sakit itu semakin membesar.
“ada apa denganmu soo ?”
Yunho mulai panik, karena soo yoon tidak menjawabnya.
Soo yoon jatuh diatas lantai, dan tangan kanannya menepuk nepuk dada kiri’na.

“soo yoon-ah”
Seseorang memanggil soo yoon, membuat yunho mengangkat kepalanya.
Siwon berjongkok disamping soo yoon, “soo yoon-ah”
“si…wonie…” panggil soo yoon.
Siwon menggendong tubuh soo yoon, membuat yunho membulatkan matanya karena terkejut.
“kau siapa ?” tanya yunho.
“aku adalah dokter pribadinya, bisa kah kau mengantarkanku kerumah sakit terdekat ?”
“tentu, aku akan mengantarkan kalian”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yunho menunggu dengan cemas diluar pintu ruang ICU.
Didalam benaknya, terdapat puluhan pertanyaan tentang soo yoon.
Dokter pribadi ? sejak kapan soo yoon mempunyai dokter pribadi ?
Kenapa ia begitu kesakitan tadi ?
Itu segelintir pertanyaan, yg ada di benaknya.

Tak selang berapa lama seorang dokter dengan berwajah jepang keluar dari ruangan itu.
Yunho menghampiri dokter hitoshi, “bagaimana keadaannya ?” tanyanya dengan menggunakan bahasa jepang.
Dokter hitoshi menghela nafas, “kau ini siapanya soo yoon ?”
“aku… aku kekasihnya”
“kau kekasihnya, tetapi tidak mengetahui tentang penyakitnya ?”
Yunho terdiam sejenak, “ia merahasiakan semuanya dariku. kumohon, ceritakan padaku yg sesungguhnya”
“jantungnya bermasalah”
“mwo ?”
“ada gumpalan darah di dalam jantungnya, dan gumpalan itu semakin membesar setiap harinya. menyebabkan jantungnya membengkak dan darah tak bisa menyebar keseluruh tubuh . Sesekali dapat menyebabkan sakit yg luar biasa”
Yunho merasakan tubuhnya lemas setelah mendengar penjelasan dokter hitoshi.
“apa… Apa ia bisa sembuh ?”
“awalnya dokter choi mencoba menghancurkan gumpalan itu. tetapi gagal. Dan tidak ada cara lain selain transpalansi jantung untuk menyembuhkannya”
Ia berjalan mundur, hingga tubuh’na menabrak tembok.
“lalu apa ia sudah mendapatkan pendonornya?”
Dokter hitoshi menggelengkan kepalanya.
Kedua kakinya melemas, dan ia terduduk diatas kursi.
matanya memerah, “tidak mungkin, mengapa ia menyembunyikan ini semua dari ku ?”

Siwon keluar dari ruangan dengan wajah panik.
“sepertinya kita harus cepat menemukan pendonor darah, keadaannya semakin parah” ucapnya kepada dokter hitoshi.
Siwon berjalan menjauh dari ruangan itu, disusul dengan dokter hitoshi.

Dengan berat yunho melangkahkan kakinya masuk kedalam.
Ia melihat soo yoon terbaring dengan lemah.
“kenapa kau tidak mengatakan ini semua padaku ?”
Ia menarik bangku, dan duduk di samping kiri soo yoon.
“apa ini alasanmu memutuskanku ?”
Yunho mengambil tangan kiri soo yoon, dan mengenggamnya.
“bagaimana bisa kau melewatkan ini semua sendirian soo ?”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Soo yoon membuka matanya.
Ia meringis pelan, saat jantungnya masih mengeluarkan rasa sakit.
Ia menyadari, ada seseorang yg tertidur disampingnya.
“yunho-ah ?” panggilnya.
yunho mengangkat kepalanya, ” kau sudah sadar ?”
“kenapa kau disini ?”
“apa aku tidak boleh ada sini ?”
“kau tidak boleh ada disini, jebal pergilah dari sini”
Soo yoon membalikan tubuhnya membelakangi yunho.
Yunho menghela nafas, lalu duduk diatas ranjang tepat disamping soo yoon.
“aku sudah mengetaui semuanya”
“kalau begitu pergilah, tinggalkan aku sendiri”
“aku tidak akan pergi soo, aku akan tetap d sini”
“terserah”

Soo yoon memejamkan matanya.
Setetes air mata jatuh dari kelopak mata’na.
“karena ini kau memutuskanku ?”
“ne”
“sooo, tataplah mataku” ucapnya sambil menarik tangan soo yoon, membuat gadis itu menatap yunho.
Yunho membungkukan badan, dan mendekatkan wajahnya kepada soo yoon.
“jebal, jangan pergi dariku lagi. Aku mencintaimu”
“untuk apa kau mencintai gadis penyakitan sepertiku ? jangan bodoh yunho-ah, kau seorang bintang. Kau bisa mendapatkan gadis yg kau mau dengan mudah. Gadis yg sehat, dan mempunyai umur yg panjang, tidak seperti aku yg…..”
“tapi hanya kau yg kuinginkan, aku hanya mencintaimu”
Soo yoon mengalihkan pandangannya dari mata yunho yg sedang menatapnya teduh.
“kenapa tidak melihatku ?” tanya yunho.
Ia menarik wajah soo yoon, agar gadis itu melihatnya kembali.
“aku yakin, kau pasti bisa sembuh”
Yunho memeluk soo yoon, membuat gadis itu terkejut dan meronta agar yunho melepasnya.
“lepaskan aku yunho-ah”
“bogoshippo, jeongmal bogoshippo” bisik yunho.
Soo yoon terdiam setelah mendegar kata kata yunho.
“aku hampir gila, karena tidak ada kau disampngku”
“na…do bogoshippo”
Kata kata itu keluar begitu saja dari bibir soo yoon.
Otaknya memerintahkan tangannya untuk membalas pelukan yunho.
Merasa pelukannya dibalas, yunho mengangkat kepalanya, menatap soo yoon lekat lekat.
“kau berjanji, tidak akan meninggalkan aku lagi ?”
“entahlah yunho, aku….”
“aku tidak mau mendengar kata penolakan, aku hanya ingin mendengar jawaban ya darimu”
Soo yoon tersenyum sekilas, ia tau yunho adalah seseorang yg keras kepala.
“baiklah, aku tidak akan meninggalkanmu. Kau puas ?”
“sangat puas” jawabnya yg kemudian memeluk soo yoon lagi.
Hati kecil soo yoon menyuruhnya untuk kembali pada yunho.
Sentuhan dan perkataan dari yunho, meruntuhkan segala pemikirannya tentang meninggalkan pria itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“boleh aku mengajaknya pergi siwon-sshi ?” tanya yunho.
Siwon memandang soo yoon dari jendela kecil yg ada dipintu.
“aku tak yakin, aku takut jantungnya akan kambuh lagi” jawabnya sambil memandang yunho sekilas.
“aku akan menjaganya, jebal”
Siwon menatap yunho lekat lekat.
“baiklah, jika terjadi sesuatu dengannya cepat bawa ia kembali kesini”
“ah gamshamnida siwon-sshi”
“dan satu lagi, ini adalah obat pengurang rasa sakit. Berikan ini padanya jika sakitnya kambuh, tapi ini hanya mengurangi rasa sakit sekitar 30%”
Siwon memberikan 1 botol kecil kepada yunho.
“ne, sekali lagi terima kasih”
Siwon berbalik, lalu meninggalkan yunho.
Yunho menggenggam botol kecil itu, lalu memasukannya kedalam saku celana.

“kau ingin berjalan jalan ?” tanya yunho ketika ia sudah masuk kedalam kamar rawat soo yoon.
“jalan jalan ?”
“ne, bukankah kau ingin sekali mengitari jepang ? aku sudah meminta ijin kepada dokter choi, dan ia mengijinkanmu untuk pergi”
“jinja ?”
Soo yoon turun dari ranjangnya, memandang yunho dengan mata berbinar.
“tentu, kajja kita pergi”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“disneyland ?” tanya soo yoon ketika mobil yunho berhenti tepat didepan taman bermain yg terkenal di jepang itu.
“ne, bukankah kau begitu menginginkan untuk bermain kesini ?”
“kau masih ingat dengan permintaanku waktu itu ?”
“tentu, aku tidak akan pernah melupakan semua keinginanmu”
Soo yoon tersenyum lebar, lalu ia keluar dari mobil.
Ia menatap Disneyland itu dari luar, ia benar benar ingin pergi kesini.
“kau hanya ingin melihatnya saja ? tidak ingin masuk kedalam ?”
“tentu saja aku ingin ! kajja”
Soo yoon menarik yunho kedalam.

Hampir seharian mereka mengitari taman itu.
“yunho-ah , ayo kita kesana”
Soo yoon menarik narik tangan yunho.
Yunho menghentikan langkahnya, menarik soo yoon, dan melingkarkan tangan kirinya di pinggang gadis itu.
“kau tidak lelah ?” tanyanya lembut.
“ani, ayo kita kesanaaa”
“istirahat sebentar, baru pergi kesana. Arra ?”
Soo yoon menganggut pasrah saat dirinya ditarik yunho kesebuah tempat.
Yunho mengajak soo yoon ketaman yg sepi, lalu duduk dibawah pohon yg rindang.

“aku masih mau berjalan jalan yunho-ah”
“nanti kau akan jalan jalan, tapi istirahat dulu sekarang. Aku takut kau malah akan sakit”
Yunho menurunkan masker yg sedari tadi ia pakai, lalu membuka topinya.
“kenapa dibuka ? nanti ada penggemarmu yg melihat bagaimana ?”
Soo yoon menarik kembali masker yunho.
“aku kepanasan, ini sangat pengap. Lagipula disini sepi sekali”
“lain kali, kau pakai saja masker oksigen, agar kau tidak pengap”
“mwo ?”
Soo yoon tertawa lepas.
Selama 6 bulan belakangan ini, ia tidak pernah tertawa seperti ini.
“soo” panggil yunho dengan menatap soo yoon dengan tatapan teduhnya.
“ne ?”
“adakah keinginanmu selanjutnya ?”
“maksudmu ?”
“kau ini kan gadis dengan penuh keinginan, ada keinginanmu yg lain ? aku ingin mewujudkan semua keinginanmu itu”
Soo yoon terdiam, sesungguhnya yg paling ia inginkan sekarang adalah selalu berada disamping yunho.
“aku ingin….”

Ddrrtt ddrrttt ddrrttt.
Ponsel yunho tiba tiba bergetar, membuat si pemilik mengeluarkan ponselnya dari saku.
“yeoboseyo”
‘yunho, kau ada dimana ?’
“aku sedang berjalan jalan hyung, wae ?”
‘sekarang juga kau harus temui aku di dorm, arra ?’
“tapi hyung…”
Manager mematikan sambungan telefonnya.

“managermu menelefon ?”
“ne, ia memintaku untuk pulang sekarang juga”
“sudah pulanglah, sepertinya ada hal yg penting yg ingin ia bicarakan denganmu”’
“setelah aku mengantarmu pulang”
Yunho menarik tangan soo yoon, tetapi soo yoon menahannya.
“tidak perlu, aku bisa pulang sendiri kerumah sakit”
“aku tidak akan membiarkanmu pulang sendirian”
“kalau begitu, aku akan minta dokter choi menjemputku”
Yunho terdiam manatap soo yoon, “tidak apa apa yunho-ah. Dokter choi pasti akan menjemputku”
“mianhae, aku harus meninggalkanmu seperti ini”
“gwenchana. kau sudah meluangkan waktumu sebentar saja untuk, aku sudah sangat senang. Sekarang pergi lah, manager sudah menunggumu”
Yunho masih ragu untuk meninggalkan soo yoon.
“yunho-ah, percayalah. Dokter choi akan menjemputku”
“baiklah, aku akan pergi. Jaga dirimu baik baik sooo”
Yunho mendaratkan bibirnya sekilas dibibir soo yoon.
Lalu berdiri, dan memakai penyamarannya kembali.
Ia mengacak rambut soo yoon, kemudian berjalan menjauh dari gadis itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ciitttt.
Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi berhenti mendadak didepan lobby rumah sakit terbesar di Tokyo itu.
Pengemudi mobil itu keluar lalu berlarian memasuki rumah sakit.
Berlari terus, tanpa memperdulikan apapun.
Tak peduli dengan orang orang yg mengenali siapa ia.
Tak peduli dengan makian orang lain, karena ia berlari.
Tak peduli dengan apa yg ia tabrak saat ia berlari.

Pelariannya terhenti, tepat disebuah kamar.
Tangannya yg bergetar diulurkannya untuk menggapai knop pintu itu.
Dengan ragu ia menurunkan knop itu, lalu membuka pintu.
Seorang gadis terbaring remah, dan sesekali wajahnya mengeluarkan ekpresi sakit.
Disampingnya terdapat seorang yg memakai baju putih yg sedang duduk memandang gadis berwajah pucat.
“soo” panggil pria itu.
Siwon mengalihkan pandangannya kearah pria itu.
Ia beranjak dan berjalan mendekati yunho.
“kita bicarakan semua diruanganku” ucapnya.

“kenapa kau meninggalkannya ?” tanya siwon usai mereka berdua berada diruangan siwon.
“aku…”
“aku sudah mempercayaimu untuk mengajaknya pergi, tapi nyatanya kau membuat penyakitnya bertambah parah”
Yunho terkejut mendengar perkataan siwon.
Ia merutuki dirinya sendiri, karena telah meninggalkan soo yoon sendirian.
Dengan mudahnya percaya, bahwa gadis itu akan menelefon siwon untuk menjemputnya.
Soo yoon, tipikal gadis yg tidak mau merepotkan orang lain.

“mianhamnida….. jeongmal mianhamnida”
“andai saja, tadi aku tidak menelefonnya. Mungkin kau sudah kehilangan ia selamanya”
“mwo ?”
“penyakitnya kambuh disaat perjalanan pulangnya kesini. Perasaanku tidak enak waktu itu, akhirnya aku menelefonnya. Ternyata orang lain yg mengangkat telefon itu, dan berkata bahwa soo yoon sedang pingsan”
Yunho benar benar menyesal, tindakannya dapat membuat ia kehilangan soo yoon.
“dengar yunho-sshi. Disetiap harinya, penyakit nyeri itu akan sering menyerang soo yoon. Kumohon, jangan biarkan ia sendirian. Atau hal yg tidak kita inginkan akan terjadi”
“ne, aku tidak akan mengulangi itu lagi”

Siwon menghela napas.
“kurasa kau harus tau hal ini juga”
“ne ?”
“mengenai tentang donor jantung itu, sampai sekarang kami belum menemukannya”
“apa kalian tidak bisa berusaha lagi ?”
“kami selalu berusaha mencari si pendonor, tapi hasilnya nihil. Sepertinya soo yoon harus kembali ke seoul”
“kembali ke seoul ?”
“ne, aku sudah merencanakannya. Besok ia akan kembali ke seoul”
“aku masih ada urusan di jepang. Kau bisa menjaganya ?”
“tentu saja, itu sudah kewajibanku sebagai dokternya”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“sebentar lagi pesawat aku akan masuk kedalam pesawat” ucap soo yoon sambil meletakan ponselnya ditelinga.
‘jinjja ? ah mianhae, aku tidak bisa menemanimu kembali ke seoul’
“gwenchana. Pekerjaan dan fansmu lebih penting daripada aku”
‘aku janji, besok aku akan langsung kembali ke seoul’
“tidak usah terburu buru yunho-ah”
‘kalau sudah sampai seoul, hubungin aku’
“ne, aku akan menghubungimu nanti”
‘saranghae soo’
“nado saranghae yunho-ah”

Soo yoon menekan ponselnya untuk mengakhiri hubungan telefon.
“sudah selesai ?” tanya siwon.
“ne, kajja kita masuk”

Soo yoon duduk didekat jendela, iya terus memandang awan awan didepan.
“siwonie”
“ne ?”
Siwon menatap soo yoon yg masing melihat kearah jendela.
“berhentilah mencarikan pendonor untukku”
Soo yoon mengalihkan pandangannya ke arah siwon yg duduk disebelahnya.
“mwo ?”
Siwon membulatkan matanya mendengar perkataan soo yoon.
“kupikir tidak ada gunanya mencari pendonor”
“dengar soo yoon-ah, mencari pendonor bukanlah hal yg mudah”
“aku tau, aku sangat tau. Karena itu aku memutuskan untuk menghentikan ini”
“soo yoon-ah…”
“siwonie, tuhan sudah mentakdirkan semua orang, dan ini adalah takdirku. Aku akan menerimanya”
“kau pasti menemukan pendonor, dan kau pasti bisa sembuh”
“jangan memberikan aku harapan palsu, aku tau keadaanku yg sesungguhnya. Kau juga pasti tau, jangan tutupi semuanya dariku”
Siwon hanya terdiam menatap soo yoon yg sedang tersenyum manis kepadanya.
Gadis itu mulai tau, bahwa penyakitnya bertambah parah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sesudah yunho kembali ke seoul, ia langsung mengajak soo yoon berjalan jalan.
Yunho membawanya ketempat yg ia sering kunjungi bersama soo yoon.

“aku suka tempat ini” kata soo yoon sambil menadah keatas, menatap langit.
“arrasoo, kau sering merengek kepadaku untuk datang ke sini”
Soo yoon melempar senyuman polosnya kepada yunho, membuat pria itu ikut tersenyum.
Soo yoon kembali menadahkan kepalanya keatas.

“dokter choi bilang, kau menyuruhnya berhenti mencari pendonor jantung untukmu ?”
“ne, wae ?”
Yunho menghela nafas, “kau tidak mau sembuh ? tidak mau hidup bersama denganku ?”
Soo yoon merubah posisi duduknya menjadi menghadap ke yunho.
“setiap orang sudah ditentukan takdirnya oleh tuhan bukan ?”
“ne, tapi kau…”
“takdirku seperti ini, jadi aku menerimanya”
“kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat aku tau kau meminta dokter choi menghentikan semuanya ?”
Soo yoon diam menundukan kepalanya.
“aku hanya mengikuti apa yg telah tuhan takdirkan untukku”
“soo…”
“keadaanku semakin hari semakin parah, kau tau itu kan ? lagi pula aku tidak akan mungkin mendapatkan pendonor. Semua orang tidak akan mau memberikan organ terpenting didalam tubuhnya, mereka juga ingin untuk hidup bukan ?”
Yunho menatap sendu soo yoon.
“mengenai keinginan, aku ingin mengatakan sesuatu padamu yunho-ah”

Yunho memutar tubuhnya untuk menghadap soo yoon.
“apa keinginanmu ?”
“berjanjilah, jika aku sudah tidak ada, kau tidak boleh menangis dan kau harus melanjutkan hidupmu dengan bahagia ? aku juga harus cepat mencari penggantiku”
Soo yoon mengangkat tangannya, lalu mengacungkan kelingkingnya di depan yunho.
“aku tidak mau berjanji seperti itu”
Yunho memalingkan wajahnya.
“ayolah, itu keinginanku yg terakhir”
Soo yoon mengambil tangan yunho, lalu melingkarkan kelingkingnya di jari kelingking yunho.
“kau sudah berjanji, jika kau banyak menangis aku akan menghantuimu setiap malam”
“mwo ? kalau begitu aku akan menangis terus. Agar kau datang menemuiku”
“ya, jangan seperti itu”

tiba tiba yunho mengambil sesuatu dari saku celananya.
ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah maroon, lalu membukanya dihadapan soo yoon.
“ini cincin yg sudah kupersiapkan dari 6 bulan yang lalu”
soo yoon menatap cincin itu.
“maukah kau memakai cincin ini ?”
soo yoon menggelengkan kepalanya, “tidak yunho-ah”
“wae ?”
“berikanlah pada gadis lain”
“maksudmu ?”
“umurku tidak akan lama lagi. kurasa aku tidak pantas memakainya. berikanlah cincin itu kepada gadis lain. gadis yg bisa menemanimu sepanjang hidupmu”
“mwo ? jangan berkata seperti itu soo. aku….”
“arrrghhhh”
Kata kata yunho terhenti.
ketika sebuah erangan kesakitan keluar dari bibir soo yoon.
“sakit itu datang lagi ?”
Soo yoon menganggut, tangan kanannya mencengkram dada kirinya.
“kajja, kita kerumah sakit”
Yunho beranjak dari duduknya, lalu mengendong soo yoon.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“jantungnya melemah uisa” ucap salah seorang dokter.
“andwae ! ambilkan aku alat pemacu jantung” teriak siwon.
Siwon dan beberapa assistennya sedang sibuk didalam ruang UGD.
Berusaha menyelamatkan nyawa seorang gadis.
“ini uisanim”
Seorang suster memberikan siwon alat pemacu jantung.
“han dul set”
Siwon menempelkan alat itu di dada soo yoon, membuat tubuhnya terangkat keatas.
Alat penunjuk detak jantung meperlihatkan detak jantung soo yoon semakin normal.
“han dul set”
Siwon kembali menempelkan alat itu, membuahkan hasil yg baik.
Detak jantung soo yoon kembali normal.

Siwon menghela nafas lega, gadis itu selamat.
“pindahkan pasien keruangan lain” perintahnya.
2 suster mendorong ranjang soo yoon, untuk dipindahkan keruang ICU.
Siwon berjalan dibelakangnya.
“siwon-sshi” panggil yunho.
“ne ?”
“bagaimana keadaannya ? ia baik baik saja kan ?”
“bisa keruanganku untuk membicarakan hal ini ?” ajak siwon.
“ne”
Yunho mengikuti siwon untuk pergi ke ruangannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“jantungnya semakin parah. Aku benci mengatakan ini semua… Tapi kuharap kau bersiap mulai dari sekarang tentang kemungkinan hal buruk terjadi padanya”
Yunho terdiam sambil menatap soo yoon.
Kata kata siwon barusan, terus menghantui dirinya.
Jika boleh jujur, yunho belum siap menerima hal buruk itu.
Ia masih ingin lebih lama lagi bersama soo yoon.
“aku belum siap, jebal jangan tinggalkanku sekarang” ucapnya sambil mengeratkan genggamannya kepada tangan soo yoon.
“tunggu sampai aku selesai wamil nanti, aku akan menikahimu. Membangun semua mimpi masa depanku bersamamu… “
Yunho terdiam, tidak bisa menlanjutkan kata katanya.
“andai aku bisa mendonorkan jantungku, aku akan mendonorkannya untukmu soo”

Soo yoon menggerakan tangannya.
“soo” panggil yunho.
Yunho langsung duduk diatas ranjang soo yoon, tepat disamping soo yoon.
“yunho” panggilnya dengan mata masih terpejam.
“ne, aku ada disini soo”
Ia membuka matanya.
“yunho-ah, aku…”
Kata katanya terhenti, setelah rasa nyeri itu datang lagi.
“wae ?”
“aku…”
“jantungmu kambuh lagi ? aku akan memanggil dokter choi dulu”
Saat yunho beranjak, soo yoon menahan tangannya.
“ani… Jangan tinggalkan…. Aku…”
“tapi…”
“jebal… Jangan”
yunho merasa bingung, disatu sisi ia ingin memanggil siwon, tetapi disisi lainnya hatinya menyuruh agar ia tetap disamping soo yoon.
“soo”
Yunho memeluk soo yoon.
Ia mendengar erangan kecil kesakitan soo yoon.
Soo yoon mencengkram kaus hitam yunho, berharap rasa nyeri itu teralihkan sedikit.
“jebal soo, biarkan aku memanggil dokter choi”
“and…waee”
Soo yoon mengelengkan kepalanya dibahu yunho.
Yunho semakin mempererat pelukannya.
“soo”
“sa… sarang…hae yunho-ah”
Terdengar sebuah nada panjang alat penditeksi jantung itu.
Suara itu bergema, seiring mengendurnya cengkraman tangan soo yoon dan akhirnya mata gadis itu tertutup untuk selamanya.
“nado saranghae, jeongmal saranghae” jawab yunho.

Kedua mata yunho mengeluar air mata.
Pria itu terkenal jarang mengeluarkan air mata.
Tetapi kali ini ia menangis, kepergian soo yoon membuatnya terpukul.
“andwae, andwae !” erangnya frustasi.
ia terus memeluk soo yoon.

Sesorang membuka pintu ruangan ICU itu.
Ia menatap nanar soo yoon yg sedang dipeluk erat yunho.
“soo yoon-ah” panggilnya dengan suara sangat pelan.
Siwon sudah bisa memperediksi hal ini, tetapi sekeras mungkin ia menepis kenyataan ini.
“saranghae soo, jeongmal saranghae” ucapnya.
ia melepaskan pelukannya, lalu mengambil sesuatu di saku celananya.
yunho memakaikan sebuah cincin di jari manis soo yoon.
“selamanya, aku akan memakai cincin ini”
ia melihat cincin yg melingkar dijari manisnya, sama dengan cincin yg melingkar di jari manis soo yoon.
“dan selamanya, aku akan mencintaimu soo”
yunho bergerak memeluk soo yoon lagi.
ia mencium dahi soo yoon.
“jeongmal saranghae soo”
entah berapa kali yunho mengucapkan kata kata itu.
berharap ini adalah sebuah mimpi buruk yg sedang ia alami.
tetapi ini adalah sebuah kenyataan.
Gadis itu telah pergi untuk selamanya, meninggalkan 2 pria yg mencintainya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Seorang pria berdiri sebuah batu Nissan.
Mata pria itu memerah, karena menangis.
“aku mencintaimu, tanpa pernah mengharapkan balasan darimu soo yoon-ah”
Pria itu menundukan kepala, menatap rumput hijau dibawahnya.
“maaf. Aku benar benar minta maaf. Aku tidak bisa menyembuhkanmu. Dokter macam apa aku ini”
Siwon mengeluarkan senyum getirnya, sambil menatap batu nissan itu
Ia merasa benar benar gagal menjadi seorang dokter.
“kau tidak pernah bilang padaku secara terus terang. Tapi aku tau, kau sangat ingin melanjutkan hidupmu… seandainya aku bisa menemukan pendonor jantung untukmu… Pasti tidak akan menjadi seperti ini”
Siwon melangkahkan kakinya bebeberapa langkah kedepan.
“sampai jumpa dikehidupan mendatang soo yoon-ah… Semoga aku memiliki kesempatan untuk bersamamu nanti”
Ia mengelus batu Nissan itu, lalu berjalan menjauh sambil sesekali menghapus air mata.

THE END

Another Love Love *part 3/end*

Cast:
 Park Soo yoon
 Jung Yunho
 Lee Donghae

Support Cast:
 Park Jung Soo

==========================================================

Part 3

*Yunho Pov*

Aku hanya bisa terdiam menatap 2 orang penting di dalam hidupku.
Mereka saling tertawa satu sama lain.
Aku tersenyum pahit, saat melihat sahabatku sendiri mengecup bibir tunanganku.
Jadi ini yg mereka lakukan saat aku tidak ada ?
Sungguh aku tidak menyangka.
Tidak pernah sedikitpun terbayang di dalam benakku, mereka akan melakukan ini padaku.

Donghae melangkahkan kaki’na menuju mobil’na.
Saat akan masuk kedalam, ia melihatku dan ternyata soo yoon juga melihatku.
Ku oper gigi mobilku, dan menginjak gas.
Dengan cepat kumundurkan mobilku kebelakang.
“yunho-ah !”
Soo yoon mengetuk ngetuk jendela mobilku.
“yunho-ah, aku bisa jelaskan semuaa” teriak’na lagi sambil terisak.
Tak kupedulikan panggilan itu.
Mobilku terus melaju meninggalkan rumah itu dengan cepat.
Mencari tempat untuk menenangkan pikiranku.

Ciiittttt ~
Kuhentikan mobilku secara mendadak tepat di dekat sungai han.
aku keluar dari mobil, dan berjalan mendekati sungai han.
“AAARRRGGHHHHH !” aku berteriak sekencang mungkin untuk meredakan emosiku.

Bughh !
Kuhantam pohon yg tepat berada di sampingku dengan tangan kananku.
Kupejamkan mataku dan membiarkan angin malam menerpa tubuhku.

Aku sudah mulai curiga dengan mereka sejak 2 hari yg lalu.
Saat aku dan soo yoon berada di villa.
Aku secara tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
Tapi soo yoon bilang itu adalah telefon dari jung soo hyung.
Dan saat keesokan hari’na.
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri mereka berdua berpelukan di restorant itu.
Saat aku menelefon soo yoon, ia berkata bahwa ia berada di rumah.
Akhir’na hari ini kuputuskan untuk meminta manager han untuk berbohong.
Aku menyuruh’na untuk berkata kepada donghae bahwa aku pergi ke Thailand.
Ku ikuti mereka seharian ini, ternyata dugaanku tidak salah.
Mereka berselingkuh dibelakangku.

Aku mengepalkan tangan kananku.
Lee donghae, setega itukah kau kepadaku ?
Aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri,
Kenapa kau lakukan ini terhadapku ?
Apa salahku sehingga kau berbuat itu padaku ?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Author POv

Setelah berkeliling seoul, soo yoon masih tidak menemukan yunho.
Hingga akhir’na dia memutuskan untuk datang kerumah yunho.
“selamat malam nona” sapa kepala pelayan di rumah itu.
Soo yoon menganggut perlahan, lalu memasuki rumah yg tak kalah mewah’na dengan rumah’na.
“tuan muda belum pulang ?”
“belum nona. Nona apa kau baik baik saja ? mata anda bengkak”
“ gwenchana, aku akan menunggu’na di kamar’na”
Soo yoon berjalan menaiki tangga, dan berjalan menuju sebuah kamar tepat di seberang tangga itu.
Ia membuka pintu kamar itu.
Aroma khas yunho sangat tercium, membuat’na semakin ingin menangis lagi.
Ia duduk di sofa panjang di kamar itu, menghapus air mata’na lalu memandang cincin yg melingkar dijari manis’na.
“apakah pertunangan ini masih bisa dipertahankan ?”
Pertanyaan itu terus menghantui pikiran soo yoon.
Membuat air mata’na semakin mengalir dengan deras lagi.

1 jam.
2 jam.
3 jam.
4 jam.
Belum ada sama sekali tanda tanda kehadiran yunho di rumah itu.
Ponsel soo yoon terus berbunyi, tetapi dihiraukan oleh’na.

Ckelekk ~
Seseorang membuka pintu kamar yunho, membuat soo yoon mengalihkan pandangan’na ke arah pintu.
Ia bertemu mata dengan si pembuka pintu kamar itu.
“yunhoo” panggil’na lirih.
Pria itu berjalan meninggalkan kamar.
“yunhoo, jebal dengarkan aku dulu”
Soo yoon beranjak dari sofa, dan berlari mengejar yunho.
Yunho membuka pintu sebuah kamar, tepat di sebelah kamar’na.

Braakkk !
Ia menutup kencang pintu itu, lalu mengunci’na dari dalam.
“yunho-ah, jeball….. dengarkan aku dulu” ucap soo yoon sambil memukul pintu kamar itu.
Yunho hanya berdiri mematung membelakangi pintu.
“aku….. aku tau kau berada didekat pintu yunho-ah. Aku tau kau mendengar ucapanku sekarang”
Yunho memejamkan mata, mencoba meredam emosi’na.
“aku…. Aku tau jika aku melakukan kesalahan, aku…. Minta maaf”
Kedua tangan yunho mengepal, emosi’na semakin naik mendengar pengakuan yg keluar dari bibir soo yoon.
Ia memutuskan berjalan menuju kamar mandi di kamar itu.
Ia takut emosi’na akan membuat’na berbuat sesuatu yg dapat melukai soo yoon.
Ia tidak mau menyakiti wanita itu, walau wanita itu sudah menyakiti’na.

Yunho membuka kran yg berada di wastafel.
Mengusap wajah’na dengan air dingin itu hingga berkali kali.
Ia terdiam, lalu menadahkan wajah’na untuk menatap cermin.

Bughh !
Tangan kanan’na meninju kaca itu.
Ia menarik tangan’na, lalu meninju kaca itu lagi.
Ia melakukan’na beberapa kali, hingga kaca itu mulai tidak berbentuk.
Prangg ~
Kaca itupun akhir’na pecah.
Darah segar mengalir dari tangan kanan’na.
Rasa sakit di hati’na, jauh lebih besar daripada sakit ditangan kanan’na.

Yunho menghela nafas, lalu mengambil ponsel’na di saku celana’na dengan tangan kiri’na.
Ia menekan nekan ponsel’na, lalu menempelkan benda itu di telinga kiri’na.
‘yeoboseyo’
“hyung…. Jemputlah soo yoon dirumahku”
Tanpa mendengar jawaban dari jung soo, yunho langsung mematikan ponsel’na.
Ia menyandarkan tubuh’na di tembok, lalu secara perlahan tubuh’na merosot kelantai.
Ia mengusap wajah’na dengan tangan kiri’na,
Tak ia pedulikan tangan kanan’na yg masih mengeluarkan darah itu

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jung Soo Pov

Aishh ! lembur membuatku pulang hingga larut malam seperti ini.
Kukendarai mobilku dengan kecepatan tinggi, agar aku bisa sampai di rumah dengan cepat
Ponselku yg kuletakan di dashboard mobil berbunyi.
Kutekan tombol headset yg menempel d telingaku.
“yeoboseyo”
‘hyung….. jemputlah soo yoon dirumahku’
“mwo ? kenapa…..”
Perkataanku terhenti, yunho sudah mematikan ponsel’na.
Ada apa dengan mereka ? Sedang bertengkar lagi ?
Aigoo, apa yg kau perbuat kali ini soo yoon ?
Kuputar setir mobil, untuk berbalik arah.

15 menit kemudian aku sampai didepan rumah yunho.
“selamat malam tuan” sapa kepala pelayan dirumah itu.
“ne, dimana soo yoon dan yunho ? mereka bertengkar lagi ?”
Ekspresi wajah kepala pelayan itu berubah, membuatku semakin panik.
“waeyoo ?”
“mereka ada dilantai atas tuan”
Aku segera menaiki tangga.
Setelah sampai di lantai 2, langkahku terhenti.
Kulihat dongsaeng kesayanganku sedang menangis sambil memeluk kedua lutut’na didepan sebuah kamar.
“saengie” panggilku yg berlutut didepan’na.
Ia menadahkan kepala’na menatapku.
“oppaa ~” panggil’na dengan suara serak.
“kau kenapa ? apa yg terjadi ?”
“oppa, aku… aku berbuat salah”
“salah ? apa yg kau lakukan ?”
“aku… Aku telah berselingkuh… dengan donghae” ucap’na dengan terbata bata
“mwo ?”
Tubuhku terhuyung kebelakang, sehingga posisiku menjadi duduk sekarang.
Jadi hal yg selama ini kutakutkan terjadi.
“dan… yunho sudah mengetahui’na oppa”
Aku menatap dongsaeng semata wayangku itu.
Aku tidak percaya ia melakukan ini.
Dan donghae, kau benar benar melakukan ini terhadap yunho ?
“aku harus bagaimana oppa ?”
“kita pulang saja sekarang”
“tapi oppa…..”
“sudah soo yoon, dengarkan aku kali ini” kataku dengan setengah membentak’na.
Kubantu ia berdiri dan kupapah ia berjalan meninggalkan kamar itu.

“oppaa…. Bagaimana dengan yunho ?” tanya’na saat kami berada didalam mobil.
“kita bicarakan besok”
Kunyalakan mesin mobilku, dan menjalankan’na.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Author POV

“kau mau kemana ?” tanya jung soo saat melihat dongsaeng’na sudah rapi dan duduk di meja makan, menunggu’na untuk sarapan.
Jung soo duduk tepat disamping soo yoon.
“aku akan pergi ke kantor yunho”
Jung soo menghela napas, lalu membelai rambut panjang soo yoon.
“saengi, kenapa kau lakukan ini ?”
Soo yoon terdiam, ia hanya menatap makanan didepan’na.
“ku tau perbuatanmu ini bisa merusak pertunanganmu ?”
Soo yoon menganggut perlahan, sambil menundukan kepala’na.
“kau sudah besar saengi, kau tau mana yg baik dan tidak untuk dirimu”
“aku… aku hanya kesepian oppaa… Kau tau, aku tidak bisa sendirian”
Jung soo menghela nafas lagi.
“kau selesaikan dengan kepala dingin masalah ini. Aku ingin kau bisa menjadi dewasa saengi. Kau tidak mungkin seperti kekanak kanakan lagi seterus’na. Demi masa depanmu nanti, berubahlah”
“ne oppa…”
“sekarang makanlah sedikit, jangan sampai maagmu kambuh lagi”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Soo yoon menghela napas setelah keluar dari lift.
Hari ini ia memutuskan untuk datang ke kantor yunho.
Ia berjalan menghampiri sebuah meja didepan ruangan yunho.
“tuan jung ada diruangan’na ?”
“ne, tuan jung berada didalam” jawab seorang wanita setengah baya yg menjabat menjadi sekretaris yunho.
“jangan memberitahu’na jika aku datang”
“ne, arraso nona”

Dengan perlahan soo yoon berjalan menuju pintu ruangan yunho.
Ia membuka pintu itu dengan hati hati.
Ia melihat yunho sedang memandang laptop dengan tatapan kosong sambil bersandar di kursi’na.
Tangan kanan’na terdapat perban dengan bercak darah yg cukup banyak.
Soo yoon melangkahkan kaki’na mendekati yunho.
Ia menelan ludah, ia takut yunho akan menghindari’na seperti kemarin.
Sekian lama soo yoon berdiri disamping yunho, tetapi yunho belum sama sekali menyadari’na.

“yunho”
Akhir’na soo yoon membuka mulut untuk memanggil pria yg sedang melamun itu.
Yunho langsung menadahkan wajah’na menatap orang yg memanggiil nama’na.
Setelah melihat siapa yg memanggil’na, ia langsung beranjak berdiri dan melangkah keluar ruangan.
“dengarkan aku kali ini saja, jebal” ucap soo yoon yg membuat’na menghentikan langkah’na.
Soo yoon berbalik dan menatap punggung pria yg sudah di sakiti’na.
“aku tau, hanya meminta maaf saja itu tidak cukup….. tapi aku sangat berharap kau…..”
“apa kau pantas untuk kuberikan maaf ?” sela yunho.
Yunho berbalik menatap soo yoon.
“setelah apa yg kau lakukan padaku ?”
Soo yoon menundukan kepala’na, ia tidak berani menatap mata tajam yunho.
“bagaimana jika kau yg berada di posisiku ? apa kau akan memaafkan orang yg sudah benar benar menyakitimu ?”
“aku….. aku hanya kesepian yunho-ah”
“tapi haruskah kau berselingkuh dibelakangku ?” bentak yunho.
Tubuh soo yoon bergetar hebat, ia benar benar takut sekarang.
Selama ia mengenal yunho, pria itu tidak pernah membentak’na.
Yunho menghela nafas, mencoba meredam emosi’na.
“kenapa harus dia soo ?” tanya’na dengan nada lemah.
Soo yoon tetap menunduk, dan mata’na sudah membengkak karena menangis.
“kenapa harus sahabatku sendiri ? kau tau, aku sudah menganggap’na seperti saudaraku sendiri”
Soo yoon mencoba memberanikan diri mengangkat kepala’na, untuk menatap yunho.
“jawab aku soo, kenapa harus dia ?” bentak yunho lagi, dan kali ini lebih keras dari sebelum’na.
Suara tangis soo yoon semakin terdengar dengan jelas ditelinga yunho.
Membuat hati pria itu dengan perlahan luluh.
Ia paling tidak bisa mendengar suara tangisan wanita didepan’na sekarang.
“aku sudah berjanji padamu, aku akan meninggalkan kesibukanku kalau kita sudah menikah nanti. Aku hanya memintamu menunggu 1 atau 2 tahun setelah pertunangan kita soo. Kenapa kau tidak mau menunggu ? aku benar benar kecewa dengan mu, sangat kecewa”

Yunho berbalik, dan meninggalkan soo yoon.
Soo yoon hanya menatap yunho yg berjalan pergi meninggalkan’na.
Kaki soo yoon melemas, hingga akhir’na tubuh’na jatuh di atas karpet.
Ia menangis sekencang kencang’na, ia sungguh menyesal sekarang.

Donghae keluar dari balik tembok di dekat ruangan yunho.
Ia mendengarkan dengan jelas pertengkaran yg terjadi diruangan itu.
Ia memandang soo yoon yg sedang menangis hebat didekat meja kerja yunho.
Hati’na sakit melihat wanita itu menangis, terlebih lagi itu akibat perbuatan’na.
Dengan ragu donghae menghampiri soo yoon.
Ia berlutut didepan soo yoon.
“yoonie-ah”
Soo yoon mengangkat kepala’na dan menatap donghae.
“gwenchanayoo ?”
soo yoon menghapus air mata’na, donghae membantu’na berdiri.
“aku baik baik saja hae, kau tidak perlu khawatir” jawab’na sambil menepis kedua tangan donghae yg memegang bahu’na.
“aku permisi dulu hae”
Soo yoon berlalu meninggalkan donghae.
Donghae berdiri terpaku, dari tindakan soo yoon barusan.
Sangat terlihat dengan jelas ia tidak mau dekat lagi dengan donghae, membuat donghae tersadar bahwa soo yoon bukanlah milik’na.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“bagus manager kim. persentasimu sangat bagus hari ini” ucap jung soo sambil bertepuk tangan.
semua orang yg hadir di ruangan itu ikut bertepuk tangan.
“gamshamnida tuan jung soo”
manager kim membungkukan badan’na, lalu duduk kembali.
“selanjut’na, tolong manager choi persentasikan tentang penjualan perusahaan bulan ini”
manager choi pun berdiri, dan bersiap untuk mempresentasikan laporan’na.

Braakkkkk.
tiba tiba seseorang membuka ruangan rapat itu dengan kencang.
membuat semua yg ada di ruangan itu menatap’na.
“oppa !” panggil’na sambil menghentakan kaki.
“nona, tuan jung soo dengan rapat” kata sekretaris jung soo
jung soo menghela nafas, lalu berjalan menghampiri dongsaeng’na.
ia menggelengkan kepala’na saat melihat penampilan dongsaeng’na itu.
air liner yg luntur, rambut yg berantakan, serta mata yg bengkak.
“tuan mianhamnida, aku sudah melarang nona soo yoon tapi…”
“gwenchana. kau kenapa saeng ?”
“oppa, aku ingin cerita”
jung soo menghela nafas lagi.
ia membalikan badan’na menatap seluruh pegawai’na yg sedang rapat.
“mianhamnida, rapat kita tunda 2 jam” ucap jung soo.
semua karyawan menganggut pasrah dan berjalan meninggalkan ruangan.

kejadian ini bukanlah yg pertama kali’na.
para karyawan sudah tau, semua keinginan soo yoon harus segera di patuhi.
dulu saat mereka sedang rapat tahunan.
soo yoon datang merengek rengek meminta oppa’na, untuk membujuk orang tua mereka agar soo yoon diperbolehkan oleh mengambil cuti kuliah di saat ia akan menghadapi ujian akhir.
karena jung soo tidak tega melihat dongsaeng’na menangis, akhir’na ia membatalkan rapat penting itu.

“kajja, kita keruangan oppa” ajak jung soo.
soo yoon mengikuti jung soo.
“sekretaris song, tolong tunda jadwalku selama 2 jam kedepan”
“ne tuan”

setelah sampai di ruangan’na, jung memberikan soo yoon coklat.
ia tau, dongsaeng’na itu sangat membutuhkan coklat sekarang.
“waeyoo ?” tanya jung soo.
soo yoon diam sambil memakan coklat’na.
“yunho membentakmu ?”
“bagaimana kau tau ?”
“wajar kalau ia melakukan itu”
“oppa”
“kau ingat dulu aku pernah mengalami hal yg sama dengan yunho ?”
soo yoon menganggutkan kepala’na.
ia sangat ingat, dulu oppa’na pernah di khianati oleh sahabat’na.
sama percis dengan posisi yunho sekarang.
“tapi mungkin yg ia rasakan lebih parah dari pada aku” ucap jung soo sambil menunduk.
“oppa, kau oppaku satu satu’na. jeball, bantu aku”
Jung soo tertawa, “di saat seperti ini kau baru bilang aku ini oppamu satu satu’na. Tetapi jika aku tidak menuruti keinginanmu atau memarahimu, kau bilang aku bukan oppamu”
“tapi saat ini kau benar benar oppakuu, oppaku tersayangg ~”
Soo yoon memasang puppy eyes, senjata andalan’na jika ingin sesuatu dari jung soo.
“arra arra, nanti malam aku akan mencoba membicarakan’na dengan yunho”
“jinjja ?”
“ne, asal kau pulang sekarang. Aku akan rapat lagi”
“ne ! aku akan pulang sekarang, annyeong oppa !”
Soo yoon berlari keluar ruangan, jung soo tersenyum sekilas lalu mengeluarkan ponsel’na.
“yunho-ah bisa kita bertemu nanti malam ?” tanya jung soo
‘……’
“ne, ku tunggu kau di tempat biasa yunho-ah”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jung soo memainkan gelas di tangan’na, sambil sesekali melirik jam tangan’na.
Ia menghela nafas.
Sudah hampir setengah jam ia menunggu, tetapi 2 orang yg di tunggu’na belum datang.
“hyung, mian aku telat”
Seorang pria duduk disamping kiri jung soo.
“aku pesan vodka” ucap’na kepada bartender.
“kita tunggu seseorang lagi yunho-ah”
“nugu ?”
“mianhae hyung, aku terjebak macet” ucap seseorang di samping kanan jung soo.
“gwenchana hae. Kau duduk lah”
Donghae duduk disamping sebelah kanan jung soo.
“hyung, kenapa kau tidak bilang kalau kau mengajak’na ?” ucap yunho.
Ia beranjak dari duduk’na, tetapi jung soo menahan’na.
“yunho-ah, kita bicarakan masalah ini bersama dengan baik baik”
Karena rasa hormat’na kepada jung soo, yunho kembali duduk.

“aku mengajak kalian bertemu untuk membicarakan ini sebagai seorang pria. Kalian sudah besar, jadi kalian tau bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan baik”
Yunho dan donghae terdiam menatap kosong gelas bening yg berisi alkohol didepan mereka.
“kalian sudah bersahabat dari kecil….”
“seorang sahabat tidak mungkin menghianati sahabat’na sendiri” sela yunho.
“aku hanya ingin mencari kebahagiaan yg seharus’na kudapat” jawab donghae.
“tapi haruskah merebut tunangan sahabatmu sendiri ?” tanya yunho dengan nada tinggi.
Ia menatap tajam donghae yg masih memandang gelas didepan’na.
“aku mencintai’na lebih dulu dari padamu, dan aku yg bertemu’na terlebih dulu darimu” jawab donghae dengan dingin sambil membalas tatapan yunho.
Yunho tersenyum meremehkan, “lalu kenapa akhir’na malah ia menjadi milikku, bukan milikmu ?”
Donghae beranjak dari duduk’na, “itu hanya masalah waktu, lambat laun aku akan merebut’na darimu” balas’na.
Yunho beranjak, dan menghampiri donghae.
“kau benar benar lee donghae !” ucap’na sambil mencengkram kerah kemeja donghae dengan kedua tangan’na.
“sudah ku bilang, selesaikan masalah ini secara baik baik” seru jung soo sambil melerai mereka berdua.
“kurasa aku tidak akan bisa berbicara baik baik dengan dia” kata yunho sambil terus menatap tajam donghae.
“aku permisi hyung”
Yunho meninggalkan mereka berdua, pergi dengan emosi yg memuncak.
“donghae-ah, aku tak percaya kau melakukan ini”
“seseorang bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan cinta’na”
Jung soo tercenang mendengar perkataan donghae.
“kupikir kau sudah melupakan dongsaengku, dan membiarkan’na bahagia dengan yunho”
Donghae tertawa getir, jung soo tau jika donghae dari dulu mencintai dongsaeng’na dari dulu.
“entahlah hyung, awal’na aku berpikir seperti itu. tapi hatiku menyuruhku agar merebut’na dari yunho”
Jung soo menghela nafas.
“aku tidak bisa membela salah satu dari kalian, biarlah soo yoon yg memilih satu diantara kalian”
Donghae kembali duduk, dan meneguk habis alkohol yg ada di gelas’na.
“soo yoon sudah menungguku, aku pulang dulu hae. Pikirkanlah semua’na baik baik”
Jung soo meninggalkan donghae sendirian.
Ia menuangkan vodka kedalam gelas’na, ia tersenyum getir lalu meneguk habis minuman beralkohol itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah mendengar suara mesin mobil.
Soo yoon berlari keluar rumah, menghampiri jung soo dan mengandeng manja lengan oppa’na itu.
“oppa ~ bagaimana ?” tanya’na dengan mata berbinar.
“bicarakan didalam saja saeng”

Jung soo duduk di sofa kamar soo yoon.
“jadi bagaimana hasil’na ? yunho tidak marah denganku lagikan ?”
“mianhae…”
“mwo ? apa maksudmu oppa ?”
“aku tidak bisa membantumu kali ini”
Soo yoon terdiam dan menunduk, apa yg diharapkan’na ternyata gagal.
“donghae….. kau mencintai’na ?”
Ia mengangkat kepala’na, menatap jung soo binggung “hmmm ?”
“apa kau mencintai donghae sekarang ?”
Soo yoon menggelengkan kepala’na pelan, “mollaso”
“yg bisa menyelesaikan ini hanya kalian bertiga sendiri. kau renungkan masalahmu ini, dan cari jalan keluar’na. kau harus mandiri mulai sekarang. Aku tidak mungkin membantumu terus terusan”

Jung soo berjalan meninggalkan soo yoon.
saat akan keluar kamar, ia menatap soo yoon.
Ia sadar, sikap kekanak kanakan soo yoon selama ini akibat kesalahan’na yg terus terusan memanjakan dongsaeng’na, menuruti semua keinginan’na.
Hal itu menjadi boomerang untuk soo yoon sendiri.
Sesungguh’na, hati’na tak tega melihat dongsaeng tersayang’na seperti ini.
Tapi ini semua demi kepentingan soo yoon sendiri.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hari ini soo yoon memberanikan diri untuk datang lagi ke kantor yunho, dan mendapati ruangan yunho sedang kosong.
Ia menunggu di situ, hingga mata’na tertuju pada sebuah kotak di atas meja yunho.
Ia membuka kotak kecil itu, dan terkejut melihat apa isi didalam’na.
Sebuah cincin tunangan, yaa yunho sudah melepas cincin itu.
Pria itu sudah tidak memakai cincin putih dengan berlian berbentuk kotak ditengah’na dan nama park soo yoon dibagian dalam cincin itu.

Soo yoon berusaha menahan air mata’na, lalu tertawa getir.
“ia melepas’na….. itu arti’na ia sudah tidak menginginkan pertunangan ini lagi”
Cklek ~
Pintu ruangan itu terbuka, “nona soo yoon ?” panggil sekretaris yunho.
Soo yoon langsung menghapus air mata’na, lalu berbalik.
“dimana yunho ?”
“tuan sedang rapat nona”
“arraso, aku akan menemui’na”
Soo yoon berjalan keluar dan menaiki lift.
Ruang rapat, berada 2 lantai diatas lantai ruangan yunho.

Ting ~
Pintu lift terbuka, dan tepat di saat yunho melewati lift itu.
Yunho berjalan sambil membaca sebuah berkas di tangan’na, membuat ia tak menyadari lift yg terbuka.
Soo yoon keluar dari lift dan menatap punggung yunho yg berjalan menjauhi’na.
“yunho”
Merasa nama’na di panggil, yunho berhenti dan menutup file itu.

Dengan setengah berlari soo yoon menghampiti yunho, dan berdiri di depan pria itu.
“aku hanya ingin mengembalikan ini”
Soo yoon melepas cincin putih yg melingkar di jari manis’na, dan menyerahkan kepada yunho.
Yunho hanya terdiam menatap cincin yg ada di atas tangan soo yoon itu.
“aku hanya ingin mengembalikan, apa yg bukan menjadi hakku sekarang” ucap’na dengan nada bergetar.
Yunho masih terdiam.
Karena tidak mendapat respon dari yunho, ia mengambil tangan yunho dan meletakan cincin itu diatas telapak tangan kanan yunho.
“gomawo, jeongmal gomawooo atas segala yg kau berikan padaku selama ini”
Soo yoon berjalan meninggalkan yunho sambil terisak.
Yunho masih berdiri terpaku sambil menatap cincin putih itu.

Saat pintu lift tertutup, seseorang menahan pintu lift itu dengan tangan’na.
Membuat soo yoon terkejut.
“bisakah kita bicara sebentar ?” tanya’na.
“mianhae hae, aku tidak bisa”
“jebal, jangan menghindar dariku lagi yoonie-ah”
“baiklah”
Donghae tersnyum, lalu masuk kedalam lift, dan menekan tombol lantai paling atas.
“kau akan kemana hae ?”
“keatas gedung, tempat itu sangat baik untuk berbicara”

Setelah sampai diatas gedung, mereka terdiam.
Hanya terdengar suara angin.
“mianhae atas semua kejadian beberapa hari ini”
“gwenchana”
Soo yoon menunduk, menatap high heels merah’na.
“bisakah kau jadikan aku yg pertama ?” tanya donghae sambil menatap soo yoon yg menunduk.
“mwo ?”
Soo yoon menatap donghae tak percaya.
“bisakah aku mengantikan posisi yunho di hatimu ?”
“donghae-ah…..”
“setiap hari, aku selalu memikirkan ini yoonie. Aku ingin sekali mengantikan posisi yunho dihatimu”
Soo yoon menghelas nafas.
“mianhae, aku tidak bisa hae”
“walaupun kalian sudah mengakhiri pertunangan kalian ?”
“ne, walaupun ia membenciku. Cintaku terhadap’na akan selalu seperti ini”
Donghae memalingkan pandangan’na, menatap lurus kedepan.
“kau tau, saat aku bersamamu layak’na sepasang kekasih itu adalah sebuah mimpi terindah di hidupku”
Soo yoon masih menatap lekat lekat pria disamping’na.
“tapi setelah kejadian ini, aku seperti tersadar dan bangun dari mimpi indah itu”
Soo yoon bisa merasakan perasaan tulus dari pria ini.
“aku benar benar tidak ingin bangun dari mimpi indah itu, aku ingin bersamamu terus”
Donghae tersenyum getir. “setelah terbangun dari mimpi indah itu, aku menemukan sebuah kenyataan. Kenyataan bahwa selama’na kau bukan milikku yoonie”
Perasaan iba memenuhi hati soo yoon, ia tau bahwa pria ini tulus mencintai’na.
Tetapi ia tidak bisa berbuat apa apa, karena hai’na hanya untuk yunho.
“jeongmal mianhae hae, aku terlalu menyakitimu selama ini. Aku…..”
“gwenchana yoonie. Aku bisa mengerti”
Mereka terdiam, dan saling menatap satu sama lain.
“hae…”
“gomawo… Gomawoo karena kau telah memberikanku sebuah mimpi indah”
Pria itu berusaha mengeluarkan senyum tulus’na kepada soo yoon.
“angin disini sangat besar, aku takut kau sakit yoonie”
Donghae menarik tangan soo yoon untuk masuk kedalam.

Merekapun turun dari atas gedung.
“kuharap kau bisa datang kepantai ‘soo yoon’ besok yoonie” ucap donghae.
“untuk apa ?”
“pokok’na kau harus datang kesana besok, atau kau akan menyesal seumur hidup”
“tapi hae….”
“mereka sudah menunggu rapat. Kau pulang sekarang”
Donghae berjalan meninggalkan soo yoon.
“ingat jangan lupa datang besok” ucap’na sebelum memasuki ruang rapat.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yunho memperhatikan seksama berkas di tangan’na sambil sesekali membalik halaman’na.
Didepan’na, donghae duduk menunggu yunho memeriksa berkas yg ia kerjakan.
karena kepropesional mereka mengenai pekerjaan, mereka melupakan sejenak masalah pribadi.
“kurasa ini bagus” komentar’na tanpa melepaskan pandangan dari berkas itu.
Donghae terdiam menatap berkas’na.
“hari ini aku ada pertemuan dengan perusahaan kang, ku harap kau yg pergi memprentasikan ini”
“ne, aku akan pergi kesana”
Yunho menutup berkas itu, lalu memberikan’na kepada donghae.
“kau tidak terburu buru kan ? ada waktu untuk berbicara ?” tanya donghae.
“kalau tentang’na, aku tidak ingin”
Yunho bediri, lalu meninggalkan donghae.
“aku hanya tak ingin kau menyesali nanti’na”
Yunho menghentikan langkah’na.
Donghae menghela napas “ ini semua salahku, jangan salahkan dia”
“kalian berdua sama sama salah”
“Kau boleh memukuliku sampai kau puas, tapi jebal jangan salahkan ia”
Yunho berbalik dan menatap tajam donghae.
“aku bisa memukulimu hingga kau mati, kau rela lee donghae ?”
“aku rela….. Asal kau kembali pada’na”
“cih ! sekarang kau mengatakan itu ? kemana perkataanmu bahwa kau akan merebut’na dariku ? sekarang pertunanganku sudah hancur, kau tidak datang kepada’na lalu mengajak’na berkencan ?”
“aku akan melakukan itu, seandai’na dia mencintaiku yunho-ah”
“mwo ?”
“dia mencintaimu, bahkan sangat”
Yunho terdiam, ada perasaan senang saat ia mendengar perkataan donghae barusan.
“Ia menolakku, aku tidak bisa mengantikan posisimu dihati’na”
Donghae berdiri dari duduk’na, “ia berkata, walaupun kau membenci’na perasaan’na terhadapmu tetap seperti itu selama’na”
Yunho semakin diam, sesungguh’na ia tidak bisa membenci soo yoon.
“aku tau, kaupun masih mencintai’na sama seperti dulu…. dan kaupun tidak bisa membenci’na
Yunho membuang pandangan’na dari donghae, perkataan’na sangat benar.
“pikirkanlah semua baik baik yunho-ah, aku benar benar tidak ingin kau mengalami penyesalan seumur hidup sepertiku. Waktu tidak bisa diputar kembali, jadi jebaall pikirkan baik baik”
Donghae berjalan menghampiri yunho.
“mianhae….. jeongmal. Aku tau aku adalah seorang penghianat. Anggaplah kau tidak pernah kenal dengan lee donghae”
Ia berjalan lagi, kali ini untuk keluar dari ruangan yunho.
“Jika kau berubah pikiran, pergilah ke pantai ‘soo yoon’. Ia berada d sana sekarang” ucap donghae saat akan hendak menutup pintu.
Yunho masih terdiam, sibuk dengan pikiran’na.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Soo yoon menatap kosong laut biru didepan’na, sambil memeluk kaki’na.
Ia sudah menunggu disini selama 3 jam, tetapi donghae tak kunjung datang.
Ponsel’na pun tidak aktif.
Karena tidak menunjukan tanda tanda kehadiran donghae.
Soo yoon berdiri, menatap matahari yg sudah berbentuk setengah bulat karena senja sudah datang.
Ia menghela napas, “apa pantai ini akan tetap bernama ‘soo yoon’ ?” gumam’na.
Setelah menatap puas menatap matahari berwarna jingga itu, ia berbalik.
Soo yoon membulatkan mata’na setelah melihat seseorang yg berdiri tak jauh dari’na.
Seseorang yg berdiri memandang’na lekat lekat.
Ia menghampiri soo yoon.
“selama’na pantai ini akan bernama ‘soo yoon’, dan selama’na juga pantai ini milikmu” ujar’na.
Ia menghampiri soo yoon.
“kau mendengar’na ?”
“dan selama’na juga aku milikmu soo, begitu juga sebalik’na”
“yun… yunho…..”
Yunho mengeluarkan sebuah kotak dan membuka’na, mengambil isi’na.
Ia mengambil tangan kanan soo yoon, dan memasang cincin itu di jari manis soo yoon.
Soo yoon memandang yunho tak percaya.
“miann…..” kata itu yg keluar dari bibir soo yoon.
Yunho bergerak, memeluk soo yoon.
“aku memaafkanmu, jika kau mau berjanji padaku”
“nde ?”
“kumohon, jangan berbuat itu lagi. Kau tau betapa sakit’na hatiku ?”
“ne. aku janji yunho-ah. Aku janji !” jawab soo yoon sambil membalas pelukan yunho.
“jeongmal saranghae soo”
“nado saranghae yunho-ah. Gomawo, jeongmal gomawo”
Soo yoon mengeratkan pelukan’na.
Secara tak sengaja, ia melihat cincin di jari manis tangan kanan’na.
Cincin yg berbeda dari cincin pertunangan’na.
“yunho-ah. Kenapa cincin’na berbeda dari cincin pertunangan kita ?”
Yunho melepaskan pelukan’na, “tentu, itu cincin pernikahan kita”
Ia mengangkat tangan’na, menunjukan bahwa ia memakai cincin yg sama dengan soo yoon.
“mwo ?”
“would u marry me soo ?”
Soo yoon tercenang, ia membulatkan mata’na karena terkejut.
“kenapa diam ? kau tidak mau menikah denganku ?”
“aku…. Aku tidak percaya, kau melamarku ?”
“ne, kau lupa hari ini anniversary kita yg ke 6 ?”
“mwo ?”
Soo yoon menepuk dahi’na, karena terlalu banyak pikiran ia lupa tentang hari ini.
“dan kau lupa janjiku padamu bahwa aku akan melamarmu di saat hari anniversary kita yg ke 6 ?”
Soo yoon tertawa, “aku benar benar lupa”
“jadi apa jawabanmu ?”
“tentu saja jawabanku, I do yunho-ah ! I will marry with you”
Soo yoon memeluk yunho, dia melonjat loncat kecil didalam pelukan yunho.
Ia tak henti henti’na mengeluarkan senyum bahagia, begitu juga yunho.

Dari kejauhan seorang pria menatap mereka berdua yg sedang berpelukan.
Ia mengeluarkan senyum tulus, walaupun merasakan sakitdi hati’na.
“aku akan bahagia jika ia bahagia” guman’na.
Ia tertawa pahit, “saranghae…. Selama’na kau akan ada di hatiku, walau kau sudah jadi milik orang lain yonnie”

The End ~~

Another Love *Part 2*

Cast:
 Park Soo yoon
 Jung Yunho
 Lee Donghae

Support Cast:
 Park Jung Soo

=======================================================

Donghae POV

Hari ini, soo yoon memilih untuk nonton dvd di apartemenku.
Dan aku mengikuti kemauan’na.
Film akan segera di mulai.
Tapi pandanganku bukanlah mengarah ke televisi, melainkan kearah yeoja di sebelahku ini.
Yeoja yg sudah kucintai selama 5 tahun belakangan ini.

Yeoja yg saat pertama kali aku lihat saat memasuki kampus baruku dulu.
Yg saat itu sedang marah dengan seorang yg kukira namjachingu’na.
Setelah kutelusuri, ternyata namja itu adalah oppa’na.
Ekspresi’na yg seperti anak kecil saat itu, membuatku jatuh cinta pada’na.
Love at first sight.
Itu lah kata kata yg paling tepat mengambarkan perasaanku waktu itu.

Dewi fortuna tidak berpihak kepadaku.
Aku terlambat satu langkah oleh sahabat yg sudah aku anggap saudara sendiri.
Dia terlebih dahulu mendekati ia daripada aku.
Aku menyesal ?
Tentu saja, aku sangat menyesal sekali.
Andai waktu aku tau aku mulai jatuh cinta pada’na, aku langsung berkenalan dengan’na.
Mungkin sekarang yang menjadi tunangan’na adalah aku, bukan yunho.

Aku berpura pura serius memandang televisi, saat dia melirik kearahku.
“kyaaa !” teriak’na tiba tiba dan memelukku erat.
Detak jantungku berdetak cepat saat ia memelukku.
Dia mendongakan wajah’na menatapku, dan melepas pelukan’na.
“hae, ada apa dengan jantungmu ? kenapa berdetak cepat sekali ?”
“kau tau, jantungku selalu seperti ini jika berada di dekatmu”
Entah bagaimana kerja otakku sekarang, kata kata itu keluar begitu saja dari bibirku.
“mwo ? memang’na kenapa ?”
kulingkarkan kedua tanganku dipinggang’na, lalu memeluk’na.
“haee, apa yg kau lakukan ?”
“aku mencintaimu park soo yoon”
Lagi lagi kata kata itu keluar dengan sendiri’na.
“mwo ? aigoo, jangan bercanda donghae-ah !” kata’na sambil mencoba melepaskan pelukanku.
Bukan’na melepas pelukan, aku malah semakin erat memeluk’na.
“aku benar benar mencintaimu, sejak aku melihatmu saat pertama kali masuk kuliah dahulu”
Ia terdiam, seperti’na ia sedang berpikir.
Memang, ia mengenalku melalui yunho.
Sesungguh’na aku sudah bertemu dengan’na jauh sebelum ia mengenal yunho.
“jadikan aku yg kedua yoonie-ah”
Ne, aku sangat rela di jadikan yg kedua oleh’na.
Di jadikan yg ke 100pun aku rela, asal aku bisa berada d samping’na.
“yak lee donghae ! jangan gila”
“aku sungguh sungguh, aku rela jika hanya kau jadikan pelarian saat yunho tidak ada disampingmu”
Ia terdiam lg, seperti’na masih mencoba untuk mengerti perkataanku barusan.
Kudekatkan wajahku kepada’na.
“aku tidak berbohong dalam masalah ini, aku benar benar mencintaimu. Jeball, jadikan aku yg kedua. Aku rela, asal aku bisa dekat denganmu terus yoonie-ah”
Ujung hidungku bersentuhan dengan ujung hidung’na. kumiringkan sedikit kepalaku.

Chu ~
Kulumat bibir’na lembut.
Ia terdiam, tidak membalas ciumanku atau menolak’na.
Aku tau sekarang ia sedang berpikir mengenai kata kataku tadi.
Kuputar kepalaku dan masih melumat bibir’na dan kueratkan pelukanku.
Tak lama, akhirna ia membalas ciumanku.
Kutarik tangan’na, agar tangan’na melingkar dileherku.

(Wae?) Nal geureoke swipge tteonanni
(Wae?) Naega swiwo boyeotdeon geoni
(Wae?) Nae gaseumeun jjijeojijanha (wae?)
(Wae?) Modu hansunganui kkumieotdamyeon
(Wae?) Barojabeul sigani isseotdamyeon

Ponsel’na soo yoon berbunyi.
Dia mendorongku, menghentikan ciuman’na.
Ia bergerak mengambil ponsel’na yg berada diatas meja, lalu berjalan menuju jendela.

”yunho-ah !” pekik’na setelah menempelkan ponsel di telinga’na.
Kulihat dari pantulan jendela, wajah’na yg riang saat yunho menelefon’na.
“aku…. Aku sedang berada dirumah” jawab’na yg gugup sambil melirik aku.
Kuhela nafas panjang, sambil tetap memandang’na.
“kapan kau kembali dari Thailand ? kau sudah pergi terlalu lama”
Aku beranjak dari sofa, dan menghampiri’na.
“jinjja ? tak bisa kau pulang hanya 3 hari saja ? kau kan bisa menyuruh sekretarismu untuk mengurus’na hanya untuk beberapa hari” kata’na sambil menekan nekan jari telunjuk’na di jendela.
Cemburu memenuhi ruang hatiku sekarang.
Ingin sekali kurebut ponsel itu, dan mematikan sambungan telefon’na.
“ne arraso. kabari aku jika kau pulang ke seoul. Saranghae yunho-ah”
Setelah mendapat jawaban dari yunho, ia mematikan telefon’na.
“donghae-ah” pekik’na yg terkejut aku berada tepat di belakang’na.

Ku letakan tangan kiriku di jendela sisi kanan’na, dan tangan kananku kugunakan untuk membelai pipi’na.
“bagaimana dengan tawaranku ?”
“mmmmm”
Ia mengalihkan pandangan’na kearah lain.
“kau masih ragu dengan cintaku ?”
“aku….. aku bingung hae. Bagaimana dengan yunho ?”
“kita bisa menyembunyikan ini dari yunho”
Ia terdiam menatapku.
“jebal”
Iapun akhir’na menganggut.
Aku tersenyum lebar kepada’na, dan memeluk’na lagi.
“gomawo”
Aku tau ini salah.
Secara tak langsung, aku telah menikam sahabatku dari belakang.
Tapi perasaanku yg begitu besar kepada’na membuatku melakukan ini semua.
Mianhae yunho…..

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Author pov

Seorang namja telah menunggu sedari tadi di ruang tamu yg bergaya mewah itu.
Ia melirik jam tangan’na, lalu mengumpat.
Sudah hampir 1 jam dia menunggu di sini.
Ia berjalan menuju ruang keluarga, tepat di sebelah ruang tamu itu.
Di tembok ruang keluarga itu, di penuhi foto foto keluarga besar park.
Mata’na tertuju pada sisi sebelah kanan, tepat’na kepada sebuah foto yg besar.
Foto dimana seorang namja dan yeoja memakai gaun dan tuxedo berwarna senada, putih gading.
Didalam poto itu, mereka dengan bahagia’na menunjukan jari manis mereka, yg melingkar cincin emas putih dengan aksen berlian berbentuk kotak ditengah tengah’na.
Tanpa ia sadari, ia mengepalkan tangan kanan’na melihat foto itu.

“donghae-ah !” panggil seseorang yg membuat namja itu berbalik.
Soo yoon menghampiri donghae
“sudah menunggu lama ?”
“hanya 1 jam, bukankah itu sebentar ?”
“itu waktu yg sebentar untukku berdandan”
“aigoo, kita ini akan pergi ketaman bermain. Haruskah berdandan terlebih dahulu ?”
“tentu saja ! sudah jangan cerewet, kita pergi sekarang. Kajja”
Soo yoon menarik tangan donghae untuk keluar rumah’na.

Setelah sampai di taman bermain, mereka berdua langsung mencoba permainan yg diinginkan soo yoon.
Hampir semua permainan mereka mainkan.
Hingga saat petang tiba, mereka memutuskan untuk menaiki bianglala *di dufan nama’na itu, gak tau deh di korea LOL*
Kereta bianglala yg mereka tumpangi berhenti tepat di atas, dan dari situ bisa melihat matahari terbenam.
Donghae melingkarkan tangan kiri’na dipinggang soo yoon, dan meletakan dagu’na di bahu soo yoon.
“yoonie-ah”
“nde ?”
“kau tidak mau tau kapan aku jatuh cinta padamu ?”
Soo yoon memandang donghae, dahi’na mengkerut menandakan dia binggung.
“saat aku melihatmu turun dari mobil dengan ekspresi wajah marah”
“mwo ? kapan ?”
“saat mahasiswa baru masuk pertama kali’na. Saat aku turun dari mobilku. Kulihat seorang yeoja yg sedang mengumpat kepada namja yg berada disamping’na. semenjak saat itu, aku selalu memperhatikanmu”
Soo yoon mencoba coba mengingat kejadian itu.
“aku ingat ! namja cerewet itu adalah oppa tunggalku”
“arrasoo, aku sempat patah hati waktu itu, tetapi setelah aku menyuruh orang untuk menyelidikimu.. ternyata dia adalah oppamu”
“kau jatuh cinta padaku saat pertama kali melihatku ?”
“ne. sayang’na ku terlalu pengecut hingga tidak berani mendekatimu dahulu”
“lalu mengapa kau baru mendekatiku sekarang ?”
Donghae menghela nafas.
“mollaso, aku sendiri juga tidak mengerti”
Keheningan menghampiri mereka.
“hae, aku lapar”
“mwo ? kau baru saja makan…..”
“pokok’na aku lapar ! kajja, kita makan setelah ini”
“ne, chagi-ya” jawab donghae sambil mengacak rambut soo yoon.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Soo Yoon POV

Seminggu sudah berlalu.
Aku dan donghae menjalin hubungan ini.
Aku tau, ini salah. Tetapi aku kesepian dan juga butuh seorang teman.

dan perasaanku, aku merasa bahagia jika berada didekat’na.

Selama seminggu penuh ini, donghae mengambil cuti.
Ia menemaniku kemana saja yg ku inginkan.
Seperti sekarang, aku meminta’na menemaniku pergi ke villaku yg berada di atas gunung.
Kami berdua duduk di gazebo villaku, yg menghadap langsung ke pemukiman penduduk yg ada bawah gunung sana.

Yunho dan jung soo oppapun belum pulang hingga hari ini.
Mereka masih tetap sibuk dengan urusan pekerjaan mereka masing masing.
Akupun sudah jarang menelefon mereka, meminta mereka untuk pulang.
Kupikir, aku sudah mempunyai seseorang yg benar benar mengerti diriku.

“ soo yoonie ?” panggil donghae.
“nde ?”
“apa kau senang beberapa hari ini ?”
Aku tersenyum perlahan menatap’na yg sedang meletakan kepala’na di pahaku.
Dia sedang tiduran di gazebo ini, dengan memakai pahaku untuk alas kepala’na.
“menurutmu ?”
Ia berpikir sejenak, sambil menatapku.
“kupikir kau sangat senang”
“kau sok tau sekali ikan !” kataku sambil membelai lembut rambut’na.
Kami berdua saling melempar senyuman.
“bolehkah aku tidur ?”
“mwo ? yak ! aku mengajakmu kesini bukan untuk tidur”
“tapi aku lelah yoonie-ah. Aku menyetir mobil selama 3 jam”
“itu urusanmu”
“ck, jangan melepas tanggung jawab. Kau yg mengajak aku kesini”
“tapi aku tidak memaksamukan ?”
“yak ! kau,……”
Kata kata’na terhenti saat ponsel ku berbunyi.

Aku mengambil ponselku yg tergeletak di sampingku.
Aku langsung menekan tombol berwarna hijau untuk mengangkat’na.
Tanpa melihat siapa yg menelefon.
“yeoboseyoo ?”
‘soo… kau ada dimana ?’
“yunho-ah ?”
Donghae langsung beralih menatapku setelah mendengar nama yunho.
‘ne, aku sudah ada di bandara Survanabhumi’
“mwo ?”
‘wae ? aku akan pulang ke seoul. Bukankah kemarin kau memintaku pulang ?’
“ne. aku… aku akan menjemputmu di incheon”
‘kututup dulu, aku akan memasuki pesawat sesaat lagi’
“hati hati yunho-ah”
Yunho mematikan telefon’na.

“wae ?” tanya donghae.
“yunho…. Dia akan pulang hari ini juga”
Donghae merubah posisi menjadi duduk.
“jinjja ? bukan’na ia di jadwalkan pulang 3 hari lagi”
“mollaso. Sudah antar aku ke bandara, aku akan menjemput’na”
Aku beranjak mengambil tasku, dan berjalan kearah mobil.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Donghae pov

Kulirik wanita yg berada di sebelahku.
Ia tertidur dengan posisi kepala miring.
Aigoo, dia bisa pegal jika tidur seperti itu.
Kutarik tuas yg berada disamping bangku’na, membuat sandaran bangku itu berubah posisi menjadi miring.
Kukecup singkat pipi kanan’na, lalu kembali fokus kejalan.
Aishh ! Mengapa macet sekali sekarang.

Aku tersenyum pahit mengingat yunho pulang hari ini.
Seperti’na ia meminta manager han untuk menghandel pekerjaan’na disana untuk sementara waktu.
Karena aku tau jadwal ia pulang yg sesungguh’na adalah 3 hari lagi.
Kupandangin lagi wanita disampingku ini.
Aku masih sangat tidak rela ia kembali ketunangan’na.
Aku masih sangat ingin berada didekat’na lgi.
Ku hembuskan napas panjang saat melihat cincin putih yg melingkar manis di jari manis tangan kanan’na.
Andai aku yg memakai pasangan dari cincin’na itu.
Aku akan bahagia pasti.
Kusandarkan kepalaku disandaran bangku.
Perasaan menyesal kembali muncul di hatiku.
Kalau saja waktu itu, aku langsung berkenalan dengan’na, pasti tidak seperti ini sekarang.
Sesungguh’na aku tidak mau menghianati sahabatku sendiri, tetapi keadaan memaksaku.
Tiinnnn ~
Sebuah klakson mobil mengagetkanku, dan membuatku fokus menjalankan mobilku.

30 menit kemudian, akhir’na sampai di bandara incheon.
Kurengangkan tanganku yg habis menyetir selama 4 jam lebih.
Soo yoon masih tertidur pulas di sampingku.
Aku enggan membangunkan’na.
Terus terang, aku belum rela ia kembali pada yunho.

(Wae?) Nal geureoke swipge tteonanni
(Wae?) Naega swiwo boyeotdeon geoni
(Wae?) Nae gaseumeun jjijeojijanha (wae?)
(Wae?) Modu hansunganui kkumieotdamyeon
(Wae?) Barojabeul sigani isseotdamyeon
(Wae?) Jebal nega haengbokhagil baraetda (wae?)

Ponsel’na berbunyi, membuat soo yoon membuka mata’na dan merubah posisi menjadi duduk.
“aku dimana ?” kata’na sambil mengucek kedua mata’na.
“di bandara incheon” jawabku.
Soo yoon baru tersadar ponsel’na berbunyi.
Dengan tergesa gesa ia keluarkan ponsel’na.
“yeoboseyo”
‘………………’
“ne, aku sudah sampai. Kau tunggu saja aku di situ”

Ia mematikan ponsel’na, memasukan’na kedalam tas, dan merapikan rambut coklat’na yg agak berantakan.
“donghae-ah, gomawo sudah mengantarku”
Kulihat dia akan membuka pintu, tetapi dengan cepat kutahan.
“waeyo ?” tanya’na.
Aku memajukan tubuhku, mendekatkan wajahku dengan wajah’na.
Cup ~
Kukecup bibir’na sebentar.
“saranghaeyoo yoonie-ah”
“ne. aku pergi duluu”
Soo yoon membuka pintu dan keluar dari mobilku.
Aku masih menatap’na yg berjalan menjauh dari mobilku.
Dengan setengah berlari, ia menghampiri seseorang dengan jas berwarna coklat tua dan memakai kacamata hitam yg berdiri didekat pintu keluar.
Setelah sampai di depan pria itu, soo yoon langsung memeluk pria itu.
Aku hanya bisa menghela napas panjang melihat’na.
Cukup lama mereka berpelukan, soo yoon melepaskan pelukan’na dan mengecup sekilas bibir pria itu.
Aku hanya mengeratkan peganganku di setir mobil.
Mereka berbicara sebentar lalu berjalan menuju arahku.
Terlihat sekali, soo yoon melingkarkan tangan’na di lengan namja yg bernama yunho.
Hatiku memanas, dan kuputuskan untuk meninggalkan tempat itu.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Author POV

Yunho masih asik menatap wanita yg sedang makan dengan lahap’na.
Wanita yg tidak ditemui’na selama 2 minggu lebih.
Wanita yg sangat ia rindukan.
“wae ? aku bertambah cantik ?” tanya soo yoon.
Yunho tersenyum menatap soo yoon yg kembali melanjutkan makan’na.
“sehabis ini aku akan mengajakmu kesuatu tempat”
Perkataan yunho tadi membuat soo yoon tersedak.
Buru buru, yunho mengambil minuman dan menyodorkan’na kepada soo yoon.
“minumlah”
Soo yoon mengambil gelas itu dan langsung meminum’na.
“aku…. Aku tidak salah dengarkan ?”
“mwo ?”
“kau mengajakku jalan jalan ?” tanya soo yoon dengan mata berbinar.
“ne, wae ?”
“aku tidak percaya. Kau….. jung yunho…. mengajakku pergi ?”
Yunho tertawa geli mendengar pertanyaan soo yoon.
“kita sudah lama tidak pergi berkencan, salah jika aku mengajakmu pergi ?”
“aniyo. Ne ! aku akan menghabiskan makanan ini dengan cepat”
Dengan cepat soo yoon menghabiskan makanan’na.
“jangan terlalu terburu buru soo”

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Yunho berdiri di tepi pantai, ia sedang asik membidik objek untuk di foto’na.
Mengambil gambar seseorang yg penting bagi’na dengan kamera pribadi’na melupakan hobby’na.
“yunho-ah”
Yunho menghentikan aktifitas’na.
“wae ?”’
“kesini. Jangan mengambil fotoku terus”
“shireo”
“yak !” yunho-ah !” teriak soo yoon sambil menghentakan kaki’na.
Yunho terkekeh, ia meletakan kamera’na di atas pasir, lalu berjalan menghampiri soo yoon.
Melihat yunho berjalan kearah’na, secara tiba tiba soo yoon berlari menghampiri yunho.
setelah mendekat, soo yoon melompat dan langsung memeluk yunho.
Yunho terkejut, tubuh’na agak terhuyung kebelakang akibat tindakan soo yoon.
“yunho-ah, jeongmal bogoshippoyoo” bisik soo yoon tepat di telinga sebelah kanan yunho.
Ia tersenyum bahagia, dan memeluk soo yoon serta mengangkat tubuh tunangan’na itu.
Membuat kaki soo yoon tidak menyentuh pasir lagi.
Ia mengecup puncak kepala soo yoon, “nado bogoshippoo soo”
Ia mencium leher dan pundak soo yoon.
Mencoba menghirup harum yg selama ini dirindukan’na.
“jangan pergi lagi, tetaplah di sampingku yunho-ah”
“mian, untuk saat ini aku tidak bisa berjanji tentang itu. tetapi aku janji setelah kita menikah nanti, aku tidak akan meninggalkanmu seperti kemarin”
“jinjja ?”
“ne. aku janji soo”
Soo yoon tersenyum bahagia, lalu menengelamkan kepala’na di pundak yunho.

Yunho berjalan kearah pantai.
Pantai yg diberi nama “soo yoon” ini adalah milik keluarga’na.
Ia memberikan pantai ini kepada soo yoon sebagai hadiah pertunangan’na 2 tahun yg lalu.
Ia sangat tau, soo yoon sangat menyukai pantai.
Setelah betis’na terendam air pantai, yunho menurunkan soo yoon.
“yunho-ah !” pekik soo yoon yg terkejut.
Yunho mendudukan soo yoon, lalu berlari kepinggir pantai.
“aishh ! yunho-ah ! bajuku basah semua”
Soo yoon beranjak dari duduk’na, dan mengejar yunho.
“yunho-ah !”
Yunho berlari menjauhi soo yoon.
“jangan lari !” teriak soo yoon sambil mengejar yunho.

“aarggghhh” teriak soo yoon.
Ia menghentikan lari’na, dan mengangkat kaki kanan’na.
Mendengar teriakan soo yoon, yunho berbalik dan menghampiri’na.
“waeyo ?” tanya’na panic.
“yunho, kakiku seperti tertusuk sesuatu”
“mwo ?
Yunho berjongkok bermaksud untuk melihat telapak kaki soo yoon.
Dengan cepat soo yoon mendorong yunho, membuat’na terjauh diatas air.
“yak !”
Soo yoon tertawa senang, melihat kemeja tunangan’na tak kalah basah dengan diri’na.
“kau membalas dendam kepadaku ?”
Bukan’na menjawab, soo yoon malah menjulurkan lidar dan berlari.
Yunho beranjak dan mengejar soo yoon.
“soo”
Yunho menangkap tubuh soo yoon, lalu memeluk’na dari belakang.
“aigoo, lepaskan aku”
Soo yoon berusaha memberontak dari pelukan yunho.
“aku tidak akan melepaskanmu”
Soo yoon membalikan tubuh’na menhadap yunho, sedangkan yunho mengangkat’na dan berjalan kearah laut.
“kau mau menyeburkan aku lagi ?”
“ne”

Kali ini yunho membawa soo yoon ketempat yg agak dalam.
Lalu kembali meletakan soo yoon.
Soo yoon menarik kerah kemeja yunho, membuat pria itu jatuh tepat diatas soo yoon.
Tubuh’na bertumpuan pada tangan kanan dan kiri’na, agar tidak menimpa soo yoon yg berada dibawah’na sekarang.
“kau tau, aku senang jika setiap hari bisa seperti ini bersamamu”
Yunho terdiam, menatap lekat lekat tunangan’na itu.
Ia tau, ia jarang sekali berpergian dengan soo yoon seperti ini.
Kesibukan’na yg membuat’na terpaksa meninggalkan wanita yg dicintai’na itu.
“mianhae. Aku tau aku sering mengucapkan kata itu, tapi aku benar benar minta maaf”
Soo yoon menganggut lalu tersenyum, “dan untuk kesekian kali’na aku memaafkanmu”
Yunho mendekatkan wajah’na kepada wajah soo yoon.
Bibir mereka saling bersentuhan.
Soo yoon melingkarkan lengan’na di leher yunho.
Tak lama mereka saling melumat bibir masing masing.
Mereka berciuman di saat matahari sedang terbenam.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Soo yoon POV

Setelah bermain air dipantai tadi.
Aku dan yunho langsung menuju ke villa yg yunho bangun khusus untukku.
Villa yg dibangun dengan memakai kaca untuk tembok’na.
Sehingga dari sini, aku bisa melihat hamparan lautan biru yg begitu luas.
Aku duduk di atas sofa yg menghadap langsung kejendela sambil meminum hot chocolate.

Gwaenchanajil georago nan
Jamshibbun ilgeorago nan
Shigani jinamyeon mudyeojil georago
Geureoke mitgo nan sarawanneunde

Ponselku yg tergeletak di meja depanku berbunyi.
Dengan malah aku mengambil’na.
Donghae ?
Ia menelefonku sekarang ?
“yeoboseyo” jawabku setelah menekan tombol hijau di ponselku.
‘soo yoonie’
“waeyo ?”
‘bogoshippoyoo, kau ada dimana sekarang ?’
“aku sedang bersama yunho, donghae-ah”
‘mwo ? sampai selarut ini kau masih bersama’na ?’
“tentu saja. Wae ?”

“soo” kudengar yunho memanggilku
“donghae-ah, nantiku telefon lagi. Arra” kataku yg langsung mematikan ponselku.
Kuletakan ponselku dimeja dan kembali meminum hot chocolateku.
“soo” panggil’na lagi sambil duduk di sebelahku.
“ne ?”
“tadi seperti’na aku mendengar kau sedang menelefon, dengan siapa ?”
Deg !
Jantungku seperti berhenti.
Apa dia mendengar pembicaraanku tadi ?
“mmm…. Tadi…. Jung soo oppa yg menelefonku. Ya, jung soo oppa” jawabku dengan sesantai mungkin.
“hyung ?”
“ne…. ah yunho-ah, kita kapan akan pulang kembali ke seoul ?”
“besok pagi saja, ini sudah hampir larut malam”
“jadi kita menginap di sini ?”
“ne. waeyo ? kau tidak mau ?”
“aku sangat mau !”
Kulingkarkan tanganku di pinggang’na dan meletakan kepalaku didada bidang’na.
Ya tuhan, sungguh aku senang sekali.
Sudah lama aku tidak berliburan dengan’na seperti ini.
Ia membelai rambutku, dan akupun memejamkan mataku.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Kurasakan sinar matahari menyilaukan mataku.
Membuat aku menggeliat pelan, dan menarik selimut tebal itu untuk menghalang sinar itu.
Aku mencoba untuk tidur kembali, tetapi tidak bisa.
Dengan malasku kubuka selimut dan merubah posisiku menjadi duduk.
Ku acak rambut panjangku, dan menguap sebesar besar’na.
“kau sudah bangun ?’
Aku memalingkan pandanganku kepada seseorang yg sedang memakai kemeja hitam’na.
“aku masih ngantuk yunho-ah”
Aku kembail merebahkan tubuhku diatas ranjang, tetapi dengan posisi tengkurap.
Kutenggelamkan kepalaku diatas bantal.
“semalam kau tidur nyenyak sekali, apa itu masih kurang ?”
Kumiringkan kepalaku menatap’na, masih dengan posisi kepalaku yg menempel pada bantal.
Semalam aku tidur satu kamar, bahkan seranjang dengan’na.
Tetapi ia namja yg baik, tidak melakukan hal yg tidak tidak kepadaku.
Ia tidak akan menyentuhku, sebelum aku menjadi istri’na dan berganti marga menjadi jung.
“kau sudah ingin bekerja lagi ?”
Ia duduk di atas ranjang, “ne, wae ?”
“tidak bisakah libur untuk sehari lagi”
“mianhae, aku tidak bisa”
Kuhembuskan nafas panjang, dan bangun.
Ku duduk disebelah’na dan membantu’na memasang dasi.
“arrasooo”
Setelah membantu’na memakai dasi, aku beranjak untuk ke kamar mandi.
“kau tidak marah denganku kan ?” tanya’na sambil menahan tanganku.
“aniyoo, kau tenang saja” jawabku sambil mengeluarkan senyuman termanisku.
Aku turun dari ranjang, dan berjalan menuju kamar mandi.
“kutunggu kau dimeja makan soo”
“ne”

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Gwaenchanajil georago nan
Jamshibbun ilgeorago nan
Shigani jinamyeon mudyeojil georago
Geureoke mitgo nan sarawanneunde

Ponselku bordering di saat aku sedang memakai kutek berwarna merah di kuku jari tangan kiriku.
Dengan hati hatiku ambil ponsel itu.
“yeoboseyo ?”
‘kau tidak ke kantor hari ini ?’
“aniyoo, waeyoo ?”
‘biasa’na kan kau akan merengek di samping yunho untuk menemani’na makan’
“mungkin sebentar lagi aku akan kesana”
‘ bogoshippoyoo, makan sianglah denganku hari ini’
“mwo ? donghae-ah, yunho sedang ada d korea sekarang”
‘arrasoo, tapi siang ini yunho akan ada rapat, dan mungkin akan lama’
“kau tau dari mana ?”
Terdengar suara tertawa donghae dI sebrang sana.
‘kau tak lupa kan aku ini siapa ?’
Aishh !
Dia itu rekan kerja yunho, jadi dia bisa tau jadwal yunho.
“aku ingat siapa kau. sudah jemput saja aku di rumah jam 12 nanti”
‘ne, jangan membuatku menunggu lama’
Setelah selesai menelefon, aku melanjutkan lagi menghias kuku kuku-ku

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Author POV

“taraaahhh !” teriak soo yoon.
“aishhh kau mengagetkanku saja”
“aku tidak lama kan ?”
“ck, aku sudah menunggumu 30menit”
“sudah jangan mengomeliku terus, kau seperti park jung soo saja”
“mwo ? aigoo, dia oppamu”
“sudah kita pergi, kajja”
Soo yoon menarik donghae untuk keluar rumah.

“kita akan makan dimana ?” tanya soo yoon setelah mereka ada di dalam mobil.
“bagaimana makan di restorant chinguku ?”
“chingumu ?”
“ne, kau pasti akan suka dengan tempat itu”
Donghae menyalakan mesin mobil, lalu menjalankan’na.

Sekitar 30 menit kemudian, mereka sampai di sebuah restorant.
“ini restorant chingumu ?” tanya soo yoon.
“ne, kajja kita turun”
Soo yoonpun turun dari mobil.
Donghae menarik tangan soo toon, menggenggam’na erat.
Menyelipkan jari – jari’na di sela sela jari soo yoon.
“bukankah gedung ini hanya ada 1 lantai ? mengapa kita harus naik lift ?” tanya soo yoon saat mereka ada didepan lift.
“nanti kau juga akan tau”

Ting.
Pintu liftpun terbuka, dan mereka masuk kedalam’na.
Soo yoon lagi lagi di buat binggung, lift itu bergerak turun kebawah bukan keatas.
“hae” panggil’na sambil menggoyangkan tangan donghae yg menggenggam erat tangan’na.
Donghae hanya tersenyum simpul.
Ting.
Liftpun terbuka.
“kau pasti suka tempat ini chagi-yaa” ucap donghae.
Soo yoon membulatkan mata’na, tak percaya dengan desain restorant ini.
Restorant yg dikelilingi oleh kaca kaca besar, dan restorant ini berada tepat di bawah laut.
Membuat pengunjung di sini dapat melihat ikan ikan yg berenang.
“aku sudah menyiapkan tempat khusus untukmu”
Donghae menarik soo yoon berjalan menuju ruang di ujung restorant ini.
Ia membuka pintu dan menarik soo yoon masuk kedalam ruangan itu.
Sebuah ruangan yg hampir sama dengan di depan.
Tetapi ruangan ini lebih privat dan lebih indah karena ikan ikan laut berkumpul disekeliling’na.
“hae, aku…. Aku suka ini”
“jinjja ?”
Soo yoon melepaskan tangan donghae, dan berjalan mendekati jendela.
“ikan nemoo” ucap soo yoon sambil menunjuk nunjuk ikan berwarna orange yg berenang di sisi sebrang jendela itu.
Donghae berjalan mendekati soo yoon dan memeluk’na dari belakang.

(Wae?) Nal geureoke swipge tteonanni
(Wae?) Naega swiwo boyeotdeon geoni
(Wae?) Nae gaseumeun jjijeojijanha (wae?)
(Wae?) Modu hansunganui kkumieotdamyeon
(Wae?) Barojabeul sigani isseotdamyeon
(Wae?) Jebal nega haengbokhagil baraetda (wae?)

Soo yoon terkejut mendengar suara ponsel’na.
Dengan terburu buru dia mengambil ponsel’na yg berada di dalam tas.
“yeoboseyo”
‘soo, kau dimana ?’
“yunho-ah”
Donghae semakin mengeratkan pelukan’na.
‘kau sedang pergi ?’
“eng…. Aku…. Aku sedang berada di rumah”
‘jinjja ? kau tidak berbohong padaku ?’
“ani ! untuk apa aku berbohong kepadamu”
‘aku percaya padamu soo’
“kenapa kau menelefonku ?”
‘gwenchana, hanya ingin bertanya kau ada dimana. Sudah aku harus meeting lagi’

Soo yoon memandang ponsel’na, setelah yunho mematikan telefon’na.
Ia merasakan ada yg aneh, dari nada bicara yunho seperti’na ia sedang kecewa.
Terutama saat yunho mengatakan bahwa ia mempercayai soo yoon.
“wae ?” tanya donghae.
“aku… aku merasa ada yg aneh hae”
Soo yoon membalikan badan menatap donghae.
“nada bicara yunho tadi….”
“sudah jangan dipikirkan, lebih baik kita makan. Aku lapar”
Donghae menarik soo yoon, dan mendudukan’na di kursi sebuah meja makan yg sudah tersedia makanan.
“makanan sudah tersedia, makanlah yonnie-ah”
Soo yoon menganggut , lalu mulai memakan makanan itu.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

“mwo ? menjemputmu ?” pekik soo yoon.
Donghae mengalihkan pandangan’na ke soo yoon, lalu kembali memandang jalanan.
‘ne ! jemput aku saengie, ajak yunho juga. Aku akan mentraktir kalian untuk makan malam’
“tapi aku tidak bisa oppa”
‘waeyo ? kau sedang shopping ? Aigoo, korbankanlah waktu shoppingmu demi oppa tampanmu’
“aku sedang bersama….”
‘donghae ? kau sedang bersama donghae ?’ bentak jung soo.
Soo yoon terkejut, jung soo tidak pernah membentak’na seperti ini.
“n… ne oppa”
Jung soo menarik napas sebentar, ‘kutunggu kau di bandara. Kau harus menjemputku, arra ?’
“ne oppa, aku akan menjemputmu”

“hyung membentakmu ?” tanya donghae setelah soo yoon meletakan ponsel’na.
“ne”
“mianhae, gara garaku kau di bentak oleh oppamu”
“gwenchana, antarkan aku ke bandara”
“ne”

*skip time*

“gomawo sudah mengantarkanku” ucap soo yoon.
Ia membuka pintu mobil.
“mianhae yoonie-ah”
“gwenchana hae, ini bukan salahmu”
Soo yoon turun dari mobil, dan berjalan menuju bandara.
Donghae membuka kaca’na dan memandang soo yoon.
“mianhae hyung….” ucap’na.

*another place*

Soo yoon menghampiri seorang pria yg sedang duduk dan melipat tangan’na didepan dada.
“op…. oppaaa”
Jung soo langsung berdiri dan menatap dongsaeng’na.
“aku ini oppamu satu satu’na, mengapa kau tidak pernah mendengarkan perkataanku ?”
“oppa, aku…”
“sudah berapa kali aku bilang padamu park soo yoon, jangan dekat dekat dengan donghae. Mengapa kau keras kepala sekali ? aku tidak mau kau….”
“wae ? aku kenapa ?”
“hyungg” panggil seseorang dibelakang soo yoon.
“yunho-ah, kau ?” tanya soo yoon.
“aku yg menyuruh’na untuk datang kesini. Kajja kita pergi”
Jung soo berjalan melewati yunho dan soo yoon.
Yunho mengikuti langkah jung soo meninggalkan soo yoon.
“yunho-ah” panggil soo yoon yg mensejajarkan langkah’na dengan yunho lalu melingkarkan tangan’na di lengan kanan yunho.
Yunho menatap sekilas soo yoon, kemudian kembali menatap lurus kedepan.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

*skip time again*
*next day*

 

Tok tok tok.
Seorang mengetuk pintu kamar soo yoon.
“waeyo ?”
“nona”
Seorang pelayan masuk kedalam kamar soo yoon.
“nona, ada teman anda yg menunggu di bawah”
“nugu ?”
“tuan donghae”
“mwo ?”
Soo yoon segera berlari kebawah, dan melihat donghae sedang menunggu’na di samping tangga.
“donghae !”
“kau terkejut aku datang sekarang ?”
“ne, kau tidak bekerja ?”
“yunho sudah kembali ke Thailand tadi pagi”
“arraso. yak ! jawab aku, mengapa kau tidak bekerja ?”
“aku mengambil cuti hari ini, bagaimana jika kita pergi ?”
“sekarang ? jinjja ?”
“ne, kajja”
Donghae marik tangan soo yoon keluar rumah.
“tapi hae, aku belum ganti baju”
“bajumu sekarang sudah seperti baju pergi. Jadi kau tidak perlu ganti baju”
“ta… tapi hae”
Donghae membuka pintu mobil dan memasukan soo yoon.
“hae !” teriak soo yoon.
Ia tidak memperdulikan’na, ia masuk kedalam mobil dan menjalankan’na.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

*skip time*
*ps: mian yaa author skip mulu. Biar gak kepanjangan*
*at night*

Soo yoon turun dari mobil donghae, dan donghae mengikuti langkah’na.
“gomawo hae untuk hari ini”
“kau senang setelah ku ajak pergi ?”
“tentu saja, kau kan tau aku sangat suka jalan jalan”
“mwo ? kau suka berjalan jalan dengan sandal rumahmu itu ?” tanya donghae yg menunjuk kaki soo yoon yg mengunakan sandal berbulu berbentuk kelinci.
“ini semua gara garamu hae !”
Soo yoon meninju lengan donghae cukup keras.
“appoooo”
“tidak usah manja hae !”
Donghae menarik dagu soo yoon, lalu mengecup bibir’na.
“good nite chagiyaa”
“ne, sudah sana pulang”
Soo yoon mendorong tubuh donghae.
Ia berjalan menuju mobil’na dan soo yoon masih berdiri di tempat semula.
Saat akan masuk kedalam mobil, donghae melihat mobil yg sangat dikenal’na.
“yunho-ah” ucap’na.
Ia memalingkan pandangan’na kepada soo yoon, yg sedang melihat mobil hitam itu.
“yunho-ah !” teriak soo yoon.
Soo yoon berlari menuju mobil hitam itu.
Mobil itu mundur dari tempat semula.
“yunho-ah !”
Soo yoon mengetuk ngetuk jendela mobil hitam yg sedang berjalan mundur itu.
“yunho-ah, aku bisa jelaskan semuaa” teriak soo yoon sambil terisak.
Mobil itu tetap melaju meninggalkan soo yoon.
“yunho-ah !” teriak’na lagi.
“yoonie” panggil donghae yg berdiri disamping soo yoon.
Soo yoon berbalik, lalu berlari meninggalkan donghae.
“kau mau kemana ?” tanya donghae sambil menarik tangan soo yoon.
“mengejar yunho” jawab’na sambil menepis tangan donghae.
Soo yoon masuk ke salah satu mobil yg berada dibagasi’na, lalu melaju dengan kecepatan tinggi untuk mengejar yunho.

 

 

TBC ~